Berdoa bukan merupakan produk dari peradaban manusia yang panjang. Doa adalah representasi harap. Tujuan hidup yang dibalut keinginan dan kekhawatiran. Berdoa sebenarnya adalah bukti eksistensi ketidakberdayaan manusia sebagai makhluk yang sangat terbatas kemampuannya.

Menjalani hari demi hari dalam rutinitas adalah sebuah anugerah. Bersyukur atas apa yang sudah dan sedang dinikmati adalah sebuah keniscayaan. Menghaturkan harap kepada Yang Maha untuk senantiasa hidup bahagia untuk diri sendiri dan orang-orang tercinta bisa jadi bukti betapa kita tidak bisa mereguk hidup sendirian.

(listicle ini saya asumsikan dibaca oleh mereka yang masih lajang dan punya kedua orangtua).

 

1. Kakek, Nenek, terimakasih sudah melahirkan dan menyayangi orangtuaku.

Logikanya, jika kedua orangtua kita menduduki peringkat pertama dalam doa harian kita, maka mereka yang melahirkan kedua orangtua kita adalah orang berikutnya yang harus kita haturkan terimakasih. Mereka yang telah melahirkan, menyayangi, dan membesarkan kedua orang tua kita dengan segenap kasih.

Kakek dan Nenek yang sejak hari pertama kita menghirup udara di dunia selalu ada. Dan membanjiri kita dengan cinta tak terhingga. Mereka yang selalu ada. Tidak peduli apa yang sedang kita hadapi. Mereka yang kadang menjadi pelindung dan tempat peraduan paling nyaman saat kita bersitegang dengan orangtua.

Kakek, Nenek, sehat lahir batin dan panjang umur lah.

2. Walau lebih sering bertengkar, ketahuilah, Kakak dan Adik selalu menjadi prioritas.

Sudah pasti lebihd ari sering kita bertengkar dengan kaka atau adik di rumah. Bahkan masalah paling kecil sekalipun menjadi sumber perdebatan. Tinggal adan besar di bawah atap yang sama, mendapati kasih sayang dan perhatian dari orangtua yang sama, membuat hubungan kita dengan akak dan adik selalu unik.

Selain jutaan pertengkaran, kakk dan adik adalah mereka yang selalu paham dengan apa yang kita rasakan. Rasa sayang terhadap mereka kita munculkan dengan perasaan khawatir dan perhatian. Mereka selalu mampu mengimbangi ego kita. Mereka yang tahu benar kita apa adanya. Dan akan senantiasa menjadi prioritas dalam hidup kita sampai kapanpun.

Kak, Dik, senyumlah! Tertawalah! Sehat dan bahagialah!

3. Mereka yang kita pilih menjadi keluarga. Mereka yang selalu ada dalam setiap momen besar di hidup kita.

Mereka yang secara nashab bukan bagian dari keluarga kita. Atau mereka yang tidak lahir dari rahim yang sama dengan kita. Namun, mereka selalu ada dalam setiap momen besar dalam hidup kita. Menemani dalam setiap masa.

Teman, atau banyak yang menyebutnya dengan istilah sahabat, adalah mereka yang punya hak untuk kita doakan setiap hari. Tanpa berpikir tentang siapa kita, teman selalu ada. Tanpa berpikir kita berasal dari keluarga berbeda, teman selalu ada. Menghadirkan keceriaan dan dukungan saat terjatuh, teman selalu peduli dengan kita.

Teman, tetaplah ada!

4. Ia yang nantinya akan menjadi teman hidup. Ia yang membuka hatinya untuk kita.

Seperti apa yang saya utarakan di atas. Doa adalah harap. Termasuk di dalamnya mengharapkan pasangan ideal yang dengan Islami menemani hari-hari kita. Menjadi bagian dari hidup kita. Dan bersama membangun keluarga madani. Dalam suka dan duka. Dalam hidup yang penuh sahaja,

Saat kita menggapai titik berserah seutuhnya kepada Yang Maha, berharap mendapati pasangan paling tepat untuk kita bukan hal yang dramatis. Tuhan tahu benar kita makhluk yang lemah. Tuhan suka kepada makhlukNya yang gemar berdoa.

Maka, berdoalah. Agar dimanapun ia berada. Bagaiamanpu keadaannya. Apapun masalah hidupnya. Mudahkanlah segalanya, Ya Tuhan. segerakan kami bersatu. Murnikan hati can cintanya.

5. Jangan lupakan mereka yang dengan ikhlas membagi ilmunya selama ini.

Semua orang adalah guru. Mereka yang berbagi pengalaman, ilmu, dan ketrampilan adalah guru. Semua orang yang kita temui adalah guru. Pernah kalian bayangkan, apa jadinya hidup kita tanpa seorang guru? Bukan hanya kering akan ilmu pengetahuan, segala kebijakan dan kebajikan dalam hidup akan asing bagi kita. Betapa guru adalah sossok yang harus diperlakukan dengan penuh takzim.

Mereka yang telah membimbing kit. Menaungi jalan dengan cahaya ilmu dan hikmah. Tanpa harap imbal yang layak dari kita, muridnya yang pongah dan penuh amarah, mereka selalu menjunjung sabar dalam setiap uraian yang meluncur dari bibir mereka.

Pak, Bu, tolong jangan bosan mengingatkan kami.