Anda pasti pernah mendengar cerita pahlawan bernama Sakera. Kalau anda berkunjung ke Jawa Timur atau anda berasal dari Jawa Timur pasti anda pernah mendengar nama pahlawan ini. Sakera merupakan julukan yang berasal dari bahasa Kawi, artinya ringan tangan dan ramah.

Nama asli beliau sendiri adalah Sadiman. Beliau lahir di Kelurahan Raci, Kecamatan Bangil. Beliau adalah keturunan ningrat, namun sangat peduli kepada rakyat jelata dan buruh. Sakera adalah mandor sekaligus pejuang daerah yang melawan para penjajah di Perkebunan Tebu milik penjajah, Kancil Mas, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan. Sesuai dengan arti namanya, beliau bisa dikatakan sebagai mandor yang baik hati dan selalu memperhatikan kesejahteraan pekerja. 

Sakerah dapat dilambangkan seorang laki-laki tangguh memakai kaos lurik merah-putih dan baju luaran hitam dan celana hitam. Selain menjadi ciri khas Jawa Timur, sebagian besar menganggap Sakerah identik dengan Madura. Simbol Sakera saat ini menjadi simbol Jawa Timur, lambang pak Sakerah juga terdapat pada logo Pariwisata Jawa Timur, Sakerah juga menjadi simbol utama ketangguhan sepak bola Kabupaten Pasuruan yang supporternya dipanggil Laskar Sakerah. 

Legenda Sakerah begitu terkenal di Jawa Timur, Madura dan Kabupaten Pasuruan. Sikap, karakter dan kepribadian yang bagaimanakah dari pak Sakerah sehingga dapat terkenal dan menjadi legenda yang hebat. Saya ulas sebagai berikut :

 

1. Semangat tak pantang menyerah

Karena semangat yang tak kunjung padam, Pak Sakerah dan pengikutnya hampir tidak pernah kalah melawan penjajah. Baginya, kemerdekaan, kebebasan, dan keutuhan daerah harus diperjuangkan, walau sampai darah penghabisan sekalipun.

Walau beliau kehilangan banyak harta, meski beliau kehilangan waktu dengan keluarga, meskipun keluarganya juga mendapat ancaman kematian, beliau selalu berada pada barisan paling depan melawan bangsa belanda yang kejam.

2. Rela berkorban

Sikap tulus dan ringan tangan

Sikap tulus dan ringan tangan via http://initial-d-d.blogspot.com

Ketika berjuang, beliau melepas harta-hartanya, hidup keluarga dan hidupnya sendiri menjadi taruhan. Hidupnya adalah benteng dan senjata terakhir melawan penjajah. Perlu kalian ketahui bahwa, Tubuh Sakerah terdapat azimat yang tidak mampu ditembus peluru senjata laras panjang, tidak luka dihantam pedang dan tidak tembus dihunus pisau.

Meskipun demikian Pak Sakerah tetaplah manusia yang mempunyai kelemahan. Setelah Belanda mengetahui kelemahan Pak Sakerah, Akhirnya pak Sakerah atau dipanggil pak Sadiman terbunuh dan tubuhnya di potong-potong menjadi beberapa bagian dan di kubur pada tempat terpisah, agar tidak menyatu kembali.

Terdapat potongan- potongan yang dipisahkan dari potongan yang lain dan dibuang ke laut, karena kalau setiap potongan-potongan tubuh itu di kubur di tempat yang sama, bisa menyatu dan beliau dapat hidup kembali.

3. Berjuang tanpa pamrih

Baju khas Jawa Timuran dan Madura

Baju khas Jawa Timuran dan Madura via http://farahqoon.blogspot.com

Pak Sakerah tahu apa-apa yang patut diperjuangkan. Apalagi berjuang atas nama daerah dan Bangsa Indonesia. Sakerah berjuang dengan niatan tulus. Perjuangannya bertujuan agar wilayah Pasuruan, daerah tapal kuda dan Madura terbebas dari penjajahan Belanda.

Beliau tidak menginginkan jabatan tertentu atau kursi empuk tahta dari pemerintahan daerah waktu itu. Beliau berjuang berasaskan keadilan, anti penindasan, dan anti penjajahan. Di luar itu, Beliau Ikhlas Lillahi ta’ala. Ikhlas karena Allah.

4. Berjuang tanpa atribut kesukuan atau kedaerahan

Mengapa Sakerah menjadi lambang Provinsi Jawa Timur?, karena sakerah adalah lambang keberagaman suku di Jawa Timur. Masyarakat Jawa Timur tak melihat Pak Sakerah sebagai simbol Madura, tapi sebagai simbol seluruh masyarakat Jawa Timur yang utuh.

Selama masa hidup Pak sakerah atau Pak Sadiman tidak menyebut dirinya sebagai orang yang berasal dari daerah tertentu. Meskipun beliau lahir di Pasuruan, namun beliau lebih dikenal banyak orang sebagai pejuang asal Madura. 

5. Membela kaum yang lemah

Laskar Sakerah PERSEKABPAS

Laskar Sakerah PERSEKABPAS via http://indonesiaindonesia.com

Sakerah selalu membelah kaum minoritas, pekerja kasar, dan rakyat jelata. Sakerah tidak suka kesemenah-menahan Bangsa Belanda yang menindas kaum lemah. Setiap tindakan tentara belanda, akan selalu di lawan oleh Sakerah dan pengikutnya.

Semangatnya yang tidak mengenal rasa takut dapat diacungi jempol. Ketika melawan Belanda, Sakerah dan pengikutnya hanya bersenjatakan clurit dan parang, sedangkan tentara Belanda bersenjatakan alat-alat yang lebih modern waktu itu.

Lambang Sakerah menjadi lambang Provinsi Jawa Timur. Menurut pandangan saya simbol tersebut mempunyai arti yang filosofi yamg dalam yaitu bahwa baju hitam dan celana hitam di atas mata kaki adalah baju khas Pendalungan.

Pendalungan adalah suatu sifat, karakter, dan budaya yang multikultural dan sikap hormat terhadap berbagai macam suku dan etnis yang tinggal di Jawa Timur, seperti misalnya suku Jawa, Madura, Arab, Cina, India, Pakistan, Dayak, Tengger, Osing dll. Sedangkan kaos lurik warna merah putih adalah simbol bendera bangsa Indonesia yang dapat menyatukan berbagai macam suku tersebut dalam satu Tanah Air, satu Bahasa, dan satu Indonesia.

Selain itu, Simbol Sakera menjadi keagungan sepak bola Kabupaten Pasuruan, PERSEKABPAS. Semangat tak pantang menyerah selalu ditanam dalam jiwa tiap pemain sepak bola Pasuruan bagaimanapun tangguhnya lawan yang dihadapinya.

Dengan semangat yang luar biasa serta dukungan fanatik supporter, ada anggapan bahwa setiap pertandingan adalah permainan terakhir, setiap petandingan adalah harus bertempur habis-habisan, setiap pertandingan akan diperjuangan sampai keringat penghabisan. SEMANGAT SAKERAH!!!