Kamu mahasiswa aktif yang suka menyuarakan pendapat? Kamu suka organisasi dengan iklim diskusi tinggi? Wah, sepertinya kamu cocok jadi anggota Pers Mahasiswa atau Persma! Menyuarakan suara mahasiswa adalah jiwamu! Gimana? Atau mungkin, kamu lebih cocok jadi pasangannya anak Persma?

Dilihat-lihat, banyak anak Persma yang menyandang predikat jomblo. Kenapa? Karena mereka punya sederet jadwal liputan, diskusi, hingga rapat redaksi. Padahal mereka pun punya segudang alasan yang membuatmu sebaiknya mempertimbangkan mereka untuk dijadikan teman diskusi sekaligus teman kencan. Nggak percaya? Coba simak penjelasan berikut.

1. Obrolanmu Akan Jadi Seru, Sebab Dia Update Berita Terbaru

obrolanmu nggak garing via http://hipwee.com

Anak Persma terbiasa dengan tuntutan membaca berita dan update informasi setiap hari. Di kantor redaksi mereka, mungkin ada satu atau dua surat kabar yang dijadikan langganan. Belum lagi media online saat ini menawarkan berbagai kemudahan aksesnya. Coba cek media sosial mereka, sesering apa mereka posting atau share berita terbaru?

Dengan kebiasaan mereka update ini, anak Persma pasti tahu banyak informasi. Hal ini menguntungkanmu lho, karena setidaknya obrolan kalian jadi menyenangkan dan tidak sekadar basa-basi langsung ke inti. Kan, malas ya, kalau obrolan kalian hanya semacam ini.

X: Cuaca hari ini bagus, ya?

Y: Enggak juga…

Krik….

Advertisement

Kalau gebetanmu anak Persma, mungkin pembahasan mengenai cuaca ini jadi lebih informatif. Atau, coba sekali-sekali membahas mengapa harga rokok yang naik bisa ramai di media sosial, atau bahas mengapa televisi nggak bosan-bosannya menayangkan kasus kopi sianida. Bakal seru, tuh!

2. Terbiasa Kritis, Tapi Nggak Lupa Ngeksis

nggak perlu narsis, tapi tetep eksis via http://pixabay.com

Buku-buku sosial adalah camilan anak Persma selain surat kabar harian. Diskusi dua mingguan mengenai isu-isu terkini mungkin sudah jadi jatah makan malam. Otak mereka terbiasa diajak berpikir, tapi hal itu mereka terima dengan senang hati.

Di sisi lain, anak Persma nggak lupa ngeksis. Biasanya, media sosial mereka penuh bahasan isu terkini, postingan berita terbaru, maupun foto-foto human interest yang menggugah iba. Sebagian anak Persma memang juga menggeluti dunia fotografi jurnalistik, makanya mereka pintar ambil momen bagus lalu… cekrek! Foto-foto keren dengan caption ciamik biasa mereka hasilkan.

Memang, foto keren dan isi media sosial yang kritis bisa dianggap hanya pencitraan, tapi memang itulah cara anak Persma ngeksis!

3. Bukan dengan Demo Anarkis, Dia Salurkan Pendapat Lewat Menulis

beropini lewat tulisan via http://9bridges.org

Output dari baca berita, baca buku, dan diskusinya tiap hari yaitu tulisannya di media kampus. Anak Persma pasti punya segudang kegelisahan mengenai permasalahan di kampus maupun di lingkungannya, namun mereka nggak menempuh jalur demo anarkis untuk menyuarakan pendapat mereka. Cara anak Persma lebih bergaya dan elegan, yaitu dengan menulis.

Siapa tahu dia juga sedang gelisah & gundah gulana tentang responmu terhadapnya? Bagaimana kalau ternyata dia menyatakan perasaannya padamu lewat tulisan yang puitis aduhai juga? Duh, dek….

4. Janjian Nggak Akan Terlambat, Sebab Dia Sudah Terbiasa Tenggat

terlambat? no way! via http://tumblr.com

Menjadi anggota Persma berarti mendedikasikan jiwa dan raga pada suatu tenggat waktu pengumpulan karya tulisan. Mereka sudah biasa diminta liputan pagi-pagi, lalu dikenai deadline yang tidak masuk akal demi memenuhi kewajiban update portal berita online atau buletin bulanan.

Hal ini sangat menguntungkan buatmu yang punya gebetan anak Persma. Di saat ada janji bertemu, kemungkinannya kecil dia akan mengkhianati janji kalian dan terlambat datang. Anak Persma yang terbiasa tepat waktu tidak akan menyia-nyiakan waktu sedikitpun untuk mengurangi kesempatannya bertemu denganmu, lho. Ciee…

5. Terbiasa Ditolak Redaksi Membuatnya Terlatih Patah Hati

meski terbiasa, aku tuh nggak bisa diginiin via http://pottermore.com

Anak Persma hanyalah manusia biasa yang wajar jika membuat kesalahan. Wawancara narasumber tidak sesuai keinginan redaksi, fakta berita kurang lengkap, atau masalah kalimat majemuk bisa jadi penyebab selembar naskah yang sudah diperjuangkan mati-matian tidak melewati deadline bisa dikembalikan untuk direvisi. Tapi, mereka pantang menyerah! Ditolak redaksi mereka anggap sebagai pembelajaran bagi tulisan mereka ke depan.

Begitu juga dengan kehidupan asmaranya. Mereka terbiasa patah hati sehingga menjadi pribadi yang kuat mental serta jiwa raga. Jadi, jika ada anak Persma tertarik padamu, jangan sia-siakan! Mereka sudah mencari info detail mengenaimu, meyakinkan diri untuk serius denganmu, dan tidak berharap kamu akan bersikap seperti redakturnya.

Jadi, apa sudah tertarik mempertimbangkan anak Persma untuk dijadikan pasangan?