Teringat kala itu sewaktu SMA, teringat awal kisah cintaku yang mirip dengan salah satu film.

Ya, dulu, engkau memang menjadi tempat paling nyaman untuk berbagi dan melewati masa-masa suka dan duka. Bahagia rasanya tatkala dekat denganmu, menghabiskan waktu setelah melewati rutinitas bersama. Banyak hal yang telah kita lalui, candaan konyol yang bikin tertawa guling-guling, saling memotivasi ketika akan menghadapi ujian, sibuk bersama mengurus organisasi, saling menghibur tatkala kita sedih, dan terkadang ada kalanya kita harus mengerjakan tugas bersama sampai larut malam di sekolah, senang rasanya menjalani ini itu bersama, hingga lambat laun ada rasa yang berbeda. Ya, rasa itu mulai ada.

 

1. Ya, ada sesuatu yang berbeda.

Ya, ada sesuatu yang kurasa mulai berbeda

Ya, ada sesuatu yang kurasa mulai berbeda via http://nontons.tv

Memang, sudah lazim yang namanya ada rasa saling suka di dalam persahabatan. Begitu pula yang aku rasakan dalam persahabatan ini.

Lambat laun, aku mulai larut dalam zona nyaman. Berkali-kali aku mencoba menepis perasaan ini setiap kali ia muncul. Namun, apa mau dikata kala hati yang bicara.

Kadang aku menolak perasaan itu. Namun, seiring waktu penolakan itu mulai hilang tergerus erosi, hingga akhirnya aku sadar bahwa dalam hati ini mulai ada rasa ingin lebih dekat lagi.

2. Setiap engkau lewat di depanku, mataku serasa enggan untuk berkedip.

Melihatmu kini tak seperti biasanya.

Melihatmu kini tak seperti biasanya. via http://nontons.tv

Jika hari-hari sebelumnya aku melihatmu sama seperti yang lainnya. Kali ini tak seperti biasanya. Engkau terlihat begitu nyaman dipandang, meneduhkan pandanganku, sehingga aku merasa betah melihatmu.

Engkau begitu teduh di mata, serasa begitu teduh melihat wajahmu. Dan satu hal yang selalu aku nantikan, senyumanmu.

... satu hal yang selalu aku nantikan, senyumanmu.

3. Aku mencoba untuk lebih dekat denganmu.

mencoba lebih dekat denganmu

mencoba lebih dekat denganmu via http://nontons.tv

Sejak itu, aku mulai memberanikan diri untuk lebih dekat denganmu. Aku ingin menjadi orang yang selalu siap menolongmu ketika engkau butuh, orang yang setia berada di sampingmu dan menghiburmu ketika engkau sedih, orang pertama yang ingat hari-hari spesialmu dan tak segan mengeluarkan isi dompet demi mentraktir kamu dan kawan-kawan di hari ulang tahunmu, dan orang yang selalu mengerti perasaanmu.

Ya, apapun akan ku lakukan agar kau tahu, aku sayang padamu. Meski aku tak mau mengungkapkannya, karena aku tak ingin persahabatan kita terganggu.

Dan aku tahu, kau pun sebenarnya tahu perasaanku padamu.

4. Hey, kalau bukan sahabat sudah kuhajar!

Ketika aku, kau, dan dia, cinta segitiga dalam persahabatan kita.

Ketika aku, kau, dan dia, cinta segitiga dalam persahabatan kita. via http://nontons.tv

Saat semua dirasa begitu mulus, ada saja kejutan yang datang.

Saat engkau dekat dengan dia, ingin rasanya aku bilang pada teman dekatku itu "Hey, kalau bukan sahabat sudah ku hajar!"

Saat aku tahu bahwa teman dekatku juga suka padamu, aku masih bisa menahan marahku, aku hanya tak ingin persahabatan ini rusak hanya karena cinta segitiga.

5. Waktu, studi, dan persahabatan.

Kala kita terpisah karena keadaan.

Kala kita terpisah karena keadaan. via http://nontons.tv

Seiring waktu, kita pun lulus bersama, tiga tahun sudah kita bersahabat hingga dua tahun belakangan aku mulai jatuh cinta padamu. Meski tak pernah ku ungkapkan, rasa ini tetap ku pertahankan, hingga akhirnya kita terpisah karena harus kuliah di tempat yang berbeda.

Sedih juga harus berpisah darimu, kini yang bisa aku lakukan hanya menelponmu, sms, dan sesekali stalking kamu lewat media sosial.

Meski di dunia kuliah banyak jalan untuk cari "yang lain", aku lebih memilih stay di jalan ini. Aku hanya ingin memperjuangkanmu sampai engkau halal untuk ku miliki. Karena aku ingat satu pepatah "Selama janur kuning belum melengkung, selama itu pula perjuangan takkan berakhir".

6. Jawaban atas penantianku.

Jawaban atas penantianku selama ini

Jawaban atas penantianku selama ini via http://nontons.tv

Lebih dari tiga tahun sudah aku menanti, memperjuangkan cintaku padamu. Kadang ada saja sesuatu yang seakan berbisik padaku untuk menanyakan padamu, "Apakah engkau juga memiliki perasaan yang sama padaku?"

"Apakah engkau juga memiliki perasaan yang sama padaku?"

Berbulan-bulan tiap kali aku ingin tidur, konflik batin selalu ada, satu sisi aku ingin mencari jawaban atas perjuanganku, sehingga aku tahu apakah perjuangan ini mesti kulanjutkan atau tidak. Di sisi lain, aku ingin menikmati perjuanganku ini, membiarkan dirimu menjadi motivasi dan spiritku dalam menyambut hari seperti biasanya.

Rasionalitas memanglah perlu untuk sebuah hubungan serius bukan? Karena itulah, saat akhirnya ada kesempatan bertemu, setelah semalaman menghabiskan waktu bersama sahabat lama dalam acara reuni, aku memberanikan diri untuk menemuimu, dan menanyakan jawaban atas penantianku selama ini.

"Terima kasih", hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutku saat tahu bahwa ternyata perjuanganku selama ini kau anggap sebagai persahabatan saja. Mungkin aku memang harus lebih memantaskan diri. Atau mungkin engkau bukan yang terbaik untuk ku miliki nanti.

Setelah bertahun-tahun dalam penantian, dan akhirnya aku tahu jawaban itu. Ya, satu hal yang dapat aku ambil pelajaran, terkadang perjuangan memang lebih indah daripada hasilnya. Terima kasih telah menjadi motivasiku selama ini. :)