Teruntuk calon suamiku. 
Sayang, maafkan aku karena menulis surat rahasia ini. Bukan maksudku untuk membuat masalah baru di hubungan kita. Tapi, maukah kau sedikit menyisihkan waktumu untuk membaca surat ini hingga selesai? Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa aku lebih memilih menulis surat ini daripada mengungkapkannya langsung padamu. Hal ini karena, aku sendiri tidak pandai merangkai kata, menjelaskan, apalagi berdebat denganmu.

Sayang, ketika aku masih sekolah dulu, aku selalu bekerja keras untuk mencapai prestasi terbaik. Dengan begitu, aku bisa melihat senyum bangga ayah ibuku. Dan pada saat itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk terus sekolah dan menjadi wanita berpendidikan. Tentunya itu semua melalui pengorbanan dan keringat ayah ibuku yang telah bersusah payah menyekolahkanku hingga aku menjadi sarjana.

Sangat bahagia, ketika melihat mereka bahagia dan bangga saat aku mengenakan toga dan mencapai gelar sarjana. Usai sudah kewajiban ayah ibuku untuk memberiku pendidikan terbaik. Sekarang aku memiliki pekerjaan yang cukup menjanjikan untuk masa depan.

Sayang, pernikahan kita sudah tinggal hitungan hari, bolehkah aku sedikit meminta sesuatu padamu? Mungkin kamu akan sedikit keberatan, tapi tolong pertimbangkan sedikit alasanku, ya. Kita bekerja di kota yang sama, aku pikir ini tidak akan jadi masalah untuk awal perjalanan rumah tangga kita. Karena aku masih bisa mengurus persiapan kerjamu, melayanimu, dan menyediakan kebutuhanmu untuk ke kantor saat pagi hari. Saat sore haripun, aku masih bisa mengurus rumah sepulang aku kerja. Aku rasa kamu tidak akan keberatan dengan rutinitas ini.

Yang aku khawatirkan adalah ketika, kita sudah dianugerahi bayi kecil oleh Allah SWT, yang akan mewarnai hari-hari kita, apakah kau akan masih tetap mengijinkanku untuk berkarir? Ataukah kau akan memaksaku untuk tetap di rumah?
Sayang, aku tahu, menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang sangat mulia. Seperti Ibumu yang selalu memberikan cinta kasih seutuhnya padamu, tanpa melewatkan waktunya untuk pekerjaan di luar rumah.

1. Sebagai seorang ibu, pasti ingin selalu menghabiskan waktunya untuk anaknya.

Sebagai seorang ibu nantinya. Pasti ingin mennghabiskan waktunya untuk anaknya, apalagi saat anaknya masih bayi dan sedang lucu-lucunya. Percayalah, ibu-ibu yang bekerja, setiap hari hatinya sedih saat meninggalkan anaknya untuk bekerja. Tapi tunggu dulu, kami punya alasan tersendiri, dan dengan pilihan ini, kami pun siap mengambil resikonya. Kami hanya butuh support penuh dari suami. Support dan ridho suami adalah segalanya buat kami.

2. Pekerjaan yang aku jalani sekarang ini, tak akan membuatku menomorduakan keluarga.

wanita karir via https://id.pinterest.com

Tolong dengarkan aku dulu. Pekerjaan yang aku jalani sekarang ini, bukanlah pekerjaan yang akan membuatku menomorduakan keluarga. Saat kamu atau anak-anak kita sakit nanti, aku bisa meminta izin untuk tidak masuk kerja. Saat anak-anakku perlu diantar jemput saat sekolah, aku bisa izin untuk melakukannya. Saat sore pun, aku masih bisa bermain dengan anakku.

Advertisement

Aku memang dituntut untuk ke kantor jam 8 pagi dan pulang jam 4 sore, tapi bekerja di instansi pendidikan dengan teman-teman yang saling mendukung peran masing-masing, membuatku lebih mudah untuk menjalani peran sebagai ibu, istri dan pegawai.

3. Rasa iba dan nggak tega pasti menyelimuti hati kita selalu

Mungkin ini akan sangat berat ketika anak kita masih kecil. Rasa iba dan gak tega pasti menyelimuti hati kita selalu. Tapi mas, tidakkah kau memikirkan nantinya, ketika anak-anak kita sudah tumbuh besar, aku akan kesepian, hanya di rumah menunggumu dan anak-anakku pulang, bahkan mungkin kalian akan pulang dengan keadaan lelah dan sudah tidak punya waktu untuk mengajakku bicara.

Mas, bukannya aku egois, tapi jika kamu support dan ridho untuk mengijinkanku bekerja, aku janji, akan selalu memberikan yang terbaik untuk keluarga kita.

4. Sebagai ibu dan istri, akupun akan merencakan yang terbaik.

ayah ibu anak via https://id.pinterest.com

Percayalah, aku akan melakukan yang terbaik untuk keluarga kita. Aku tidak akan pernah menomorduakan keluarga. Aku harap kau akan mengizinkanku dan tetap mensupportku untuk terus berkarir. Aku janji akan selalu mengusahakan yang terbaik.

5. Aku ingin tetap berbakti pada ayah ibuku yang telah bersusah payah mendukungku hingga sejauh ini

orang tua kita via https://id.pinterest.com

Ayah ibuku tentu telah berupaya keras untuk membuatku terlahir menjadi orang yang berpendidikan dan mampu mandiri untuk masa depan. Jadi sayang, izinkan aku tetap membuat mereka bangga karena memilikiku, ya. Tanpa mengurangi sedikitpun baktiku pada suami.

Tujuan surat ini, aku hanya ingin mencari support dan ridho darimu, agar kamu mensupportku untuk tetap menjalani mimpiku…

Salam sayang dari calon istrimu. 🙂