Saya cukup yakin sahabat-sahabat Hipwee belum ada yang pernah mendengar istilah ini. Saya sendiri baru mengetahui tentang sindrome ini setelah membaca dari internet. Yuk, sama-sama mempelajari daftar gejala di bawah ini, barangkali kamu atau orang yang kamu kenal ada yang memiliki gejala seperti di bawah.

Istilah Battered Woman Syndrome (BWS) atau boleh saya terjemahkan dalam Bahasa Indonesia “sindrom wanita babak belur”, pertama kali muncul ke permukaan pada tahun 1970-an sebagai upaya pembelaan hukum terhadap pembunuhan berencana yang dilakukan oleh seorang wanita terhadap suaminya saat suaminya sedang tidur.

Pembelaan dari pengacara adalah karena terdakwa mengalami kekerasan yang berkepanjangan sehingga terdakwa merasa begitu tidak berdaya dan satu-satunya upaya untuk keluar dari situasi demikian adalah dengan mengeliminasi pelaku alias membunuhnya.

BWS adalah suatu kondisi psikologis dari seorang wanita yang telah mengalami tindak kekerasan berat secara terus-menerus dalam waktu lama, baik berupa kekerasan fisik, psikis ataupun seksual .

Kondisi ini adalah suatu diagnosis medis dan sudah resmi terdaftar dalam ICD 10 (International Classification of Diseases), klasifikasi diagnosis semua penyakit atau masalah kesehatan yang berlaku internasional dan digunakan oleh semua institusi medis di seluruh dunia. BWS merupakan salah satu jenis dari PTSD (Post Traumatis Stress Disorder).

Jadi BWS adalah penyakit yang nyata, bukan dibuat-buat untuk mencari perhatian dan dapat disembuhkan.

 

1. Kebalikannya, wanita yang mengidap BWS justru akan merasa bertanggung jawab atas kekerasan yang dialaminya

korban merasa bertanggung jawab

korban merasa bertanggung jawab via http://thepoc.net

Korban sama sekali tidak menyalahkan pelaku, korban menganggap pelaku melakukan hal tersebut karena korban telah melakukan kesalahan dan layak mendapatkan tindakan sedemikian rupa, meskipun sebenarnya korban tidak melakukan satu kesalahan pun. Korban merasa bahwa dia memang lemah, tidak becus mengurus rumah tangga, tidak bisa diandalkan dan sebagainya.

Selalu ada harapan dalam diri korban bahwa pelaku tidak akan berbuat kasar asalkan dia bisa bertindak benar. Hal ini mungkin terdengar absurd bagi kita yang tidak dalam situasi mereka tetapi derasnya intimidasi dari pelaku membuat korban meyakini tentang hal ini.

2. Korban sangat mencemaskan tentang dirinya dan orang-orang yang dikasihinya, misal anak-anaknya

Ancaman yang dilakukan pelaku secara bertubi-tubi pada korban membuat korban selalu merasa ketakutan dan senantiasa mengkhawatirkan keselamatan diri dan orang-orang terdekatnya. Korban tidak berani melakukan satu hal pun tanpa ijin dari pelaku karena korban khawatir apa yang dilakukannya akan menjadi sumber kemarahan pelaku. 

3. Korban meyakini bahwa pelaku adalah yang terhebat dan berkuasa penuh atas hidupnya

pelaku dianggap mahakuasa

pelaku dianggap mahakuasa via http://www.kathleenfrankauthor.com

Korban meyakini bahwa pelaku memiliki control penuh atas dirinya dan sekelilingnya. Dalam pikiran korban, pelaku adalah orang yang sanggup melakukan segala hal, dia tidak akan segan melaksanakan ancamannya bila dia berbuat salah, apalagi bila dia berusaha menceritakan permasalahannya dan mencari pertolongan. 

4. Mudah depresi, menghindari aktivitas sosial dan berujung pada kesulitan akrab dengan orang lain

menutupi kenyataan

menutupi kenyataan via http://www.rtcg.me

Korban akan selalu tampak murung, lesu dan tidak mau berinteraksi dengan lingkungannya. Hal ini dilakukan korban untuk menutupi apa yang terjadi pada dirinya. Selain itu, korban juga memiliki ketakutan berlebihan terhadap orang-orang di sekelilingnya, korban merasa orang-orang di sekelilingnya akan menyakiti dia sama seperti pelaku.

Tidak jarang, sentuhan ringan dari seseorang bisa ditanggapi secara ekstrim oleh korban karena korban merasa seakan-akan sedang akan diremas atau ditarik atau dihajar oleh pelaku.

5. Pada akhirnya, korban kekerasan ini akan membenci dirinya sendiri, sebagai imbas atas trauma yang dialami

benci diri

benci diri via http://thepoc.net

Akibat dari intimidasi verbal, kekerasan fisik dan seksual yang dialaminya, korban menjadi tidak menyukai dirinya sendiri, kepercayaan dirinya hilang. Dia merasa tampilan fisiknya kotor, rusak, tidak layak dipandang. Terkadang pasien merasa tubuhnya penuh dengan penyakit, meskipun sebenarnya tidak ada penyakit apa-apa.

Coba bayangkan, betapa mengerikannya kondisi psikis seperti ini. Bagaimana perasaan kalian melihat orang dalam kondisi batin yang memprihatinkan seperti ini? Perempuan dengan Battered Woman Syndrome dapat sembuh, dapat kembali hidup normal, kembali mendapatkan kepercayaan dirinya, bergaul lagi dengan orang sekelilingnya, dapat bekerja dan melanjutkan hidupnya lagi.

Tetapi perempuan dengan BWS tidak dapat menolong dirinya sendiri, kita lah yang harus menolong mereka!