Mendengar kata 'nikah' memang sangat sensitif bagi mereka yang mulai jengah diteror dengan kalimat "Kapan nikah?" dari sanak saudara, teman, bahkan mantan pacar (apalagi mantan yang sudah bagi undangan).
Semua orang pasti menginginkan hidup bersama kekasih hati hingga akhir hayat nanti. Tapi, apakah kalian tahu? Persiapan nikah tak sesulit saat berumah tangga nanti. Persiapan menikah itu cuma sekian persen dari ribetnya setelah menikah.
 

1. Kalau sudah menikah, tak akan mudah memutuskan hubungan seperti zaman masih pacaran

Kata-kata Putus via https://2.bp.blogspot.com

"Yang, kamu terlalu baik deh buat aku. Jadi aku mau kita putus." Fine. Putus dengan mantan pacar tidak akan begitu berdampak besar bagi hidup. Kalau punya modal buat move on, gampang. Cari pacar lagi.

Tapi, berumah tangga tak segampang itu! Talak tiga, cerai. Dan akan ada masa sulit untuk kembali.

Ingat, berpisah pun perlu pertimbangan! Bukan hanya dua kepala, tapi banyak kepala yang harus dihadapi.

2. Cobaan akan datang silih berganti. Apa kalian siap?

Suami istri bertengkar via http://cdn-2.tstatic.net

Advertisement

Bukan untuk menakut-nakuti. Walau belum menikah saat ini, sekiranya kita harus lihai untuk mengamati.
Di satu sisi, kesiapan mental diuji. Dari cicilan rumah, biaya sekolah anak, belum lagi jika hubungan dengan mertua yang sedang tidak baik. Jika tidak pandai-pandai mengolah hati, bisa-bisa meja hijau pun dihampiri. Duh!
Karena belum adanya kesiapan diri, banyak kasus kawin-cerai marak akhir-akhir ini. Semua itu berpola dari pikiran yang mengira bahwa menikah cukup bermodal cinta dan hati.

 

3. Apakah kalian sudah siap untuk mengemban tanggungjawab besar sebagai pendidik dan rumah bagi anak?

Keluarga Sakinah via http://2.bp.blogspot.com

Terkait soal anak maka tidak akan jauh dengan persoalan pendidikan. Bagi perempuan, punya anak memang sudah jadi impian besar. Namun, bukan hanya menyanggupi apa yang mereka mau. Pendidikan pun sangat penting untuk sang buah hati. Pada dasarnya, keluarga adalah awal mula bagi pendidikan anak.
Jika situasi dalam keluarganya saja kurang baik, maka akan sangat berdampak buruk bagi mereka. Tak ayal kasus broken home banyak ditemukan saat ini.

4. Pembagian tugas dan kerja sebagai suami dan isteri, bahkan ayah dan ibu itu tidak mudah!

Penerapan Nilai Kesopanan pada Anak via http://4.bp.blogspot.com

Jangan salah. Tanggung jawab adalah beban yang besar bagi mereka yang berumah tangga. Dengan adanya status baru seperti suami dan istri, ditambah lagi kelak akan memiliki status ayah dan ibu.

Peran tersebut tak sembarangan. Ada batasan-batasan yang mesti dipahami. Sebagai istri tentunya sudah kewajiban melayani suami dan mengurus rumah. Sedangkan, suami pastinya harus bekerja keras mencari nafkah.

5. Persiapkan rumah kalian sendiri. Jangan cuma nebeng di Pondok Mertua Indah!

Replika Rumah Warga Suriah via http://cdn.klimg.com

Ibarat kata, mengontrak itu lebih baik daripada tinggal di rumah orangtua. Mengapa demikian?

Perlu dicacat. Karena hal ini untuk meminimalisir permasalahan kecil yang mungkin mudah diselesaikan. Menyelesaikan masalah memang harus kepala dingin. Mengendalikan emosi pun sangat penting. Jangan sampai masalah tersebut terdengar oleh mertua. Ya, bahaya. Bukan cepat selesai malah nambah runyam. Itulah fungsinya tempat tinggal. Tidak harus baru, yang penting sebagai penutup aib keluarga di mata orang lain yang bakal dijadikan omongan.

Jadi, sudah siapkah untuk melabuhkan hati pada tambatan hati? Jika sudah punya modal jadi pasangan sehidup semati, tunggu apa lagi? Segera persiapkan segalanya dengan matang.