Monokrom. Dalam ilmu fotografi dikenal sebagai gradasi tone yang hanya didasari oleh satu warna saja. Namun bagi Tulus, Monokrom adalah bentuk ucapan terima kasihnya pada semua orang yang telah membantu perjalanan musiknya selama ini. Anomali dan juga romantis dalam sekali waktu. Tulus memang bisa dibilang telah masuk ke jajaran atas penyanyi Indonesia pada masa sekarang. Hal tersebut bukan hanya menyoal suaranya yang merdu namun juga lagu-lagu unik yang dimilikinya. Bahkan bisa dibilang, semua lagu yang ditulis oleh Tulus menggunakan lirik bahasa Indonesia yang baku, indah sekaligus puitis. Sesuatu yang membuat pria kelahiran Bukittinggi ini menjadi menonjol dari banyaknya musisi Indonesia yang ingin tampil seragam. Namun untuk beberapa lagu yang berhasil diciptakannya bukan hanya indah namun juga jenius. Mulai dari segi kualitas penulisan liriknya hingga makna tersirat dibaliknya yang membuat banyak orang yang mendengarkannya pasti terkagum-kagum. Berikut 5 Lagu Ini Bukti Tulus Musisi Jenius:

 

 

 

 

 

1. Diorama

Dalam definisi singkat, Diorama adalah sejenis benda miniatur tiga dimensi untuk menggambarkan suatu pemandangan atau sebuah adegan. Sedangkan bagi Tulus, Diorama adalah objek untuk menggambarkan perasaan bersalah atas cintanya yang kandas. Anomali sekali, sesuatu yang di kemudian hari akan menjadi ciri khas seorang Tulus. Yaitu dia mampu menganalogikan sebuah cerita maupun permasalahan hidup dengan benda mati lainnya. Pada lagu inilah, kecakapan Tulus dalam mengolah diksi Bahasa Indonesia yang bukan hanya indah namun juga rumit sudah mulai terasah. Hal tersebut terbukti dari keseluruhan lirik pada lagu Diorama yang pasti membuat sebagian orang mengernyitkan kening ketika mendengarkannya. Bukan hanya terdengar tidak biasa namun juga memiliki kekompleksan makna yang tinggi. Dimana untuk bisa mengetahui makna dari lagu ini, maka liriknya harus ditelaah dengan benar-benar.

Aku patung.. mereka patung

Cangkir teh hangat namun kaku dan dingin

Meja-meja kayu mengkilat

Wajahmu dibasuhi, air mata yang dilukis

 

Tubuh kaku tidak bergerak

Ingin hapus air matamu tapi aku tak bisa

Patung.. Patung kayu mengkilat

Pikiran mereka kosong memikul peran

 

Harusnya cerita ini bisa berakhir lebih bahagia

Tapi kita dalam Diorama…

Harusnya sisa masa kubuat indah menukar sejarah

Tapi kita dalam Diorama…

Gambaran besar dari makna lagu Diorama adalah tentang seorang pria yang melakukan kesalahan besar terhadap wanita yang ia cintai dan pria tersebut ingin menebus kesalahannya. Namun sayangnya sekeras apapun ia mencoba kesalahan itu tidak akan pernah bisa dihapus sampai kapanpun. Dimaafkan namun tidak dilupakan.Untuk itulah, analogi Diorama diambil oleh Tulus untuk menjelaskan situasi tersebut. Yaitu ia dan wanita tersebut tak ubahnya patung dalam diorama yang telah diputuskan perannya dan tidak bisa berbuat apapun meski mereka memiliki niat yang berlawanan. Mereka berdua telah “membeku” dalam skenario yang telah dibuatkan khu sus untuk mereka. Layaknya patung dalam diorama yang tidak bisa memiliki kehendak apapun. Sehingga kesalahan yang telah terjadi dan keinginan untuk membuat kisah cinta mereka berdua menjadi lebih indah tak ubahnya khayalan belaka. Dimana ternyata Tulus mendapatkan inspirasi dari lagu ini ketika ia sedang berjalan-jalan di Jogja lebih tepatnya di Candi Prambanan pada periode antara tahun 2008 dan 2009. Ternyata diorama yang banyak terdapat pada Candi Prambanan lantas menyalakan lampu ide di kepala Tulus untuk menganologikannya pada sebuah kisah cinta antara dua orang yang sampai kapanpun tidak pernah bisa diubah.

 

2. Gajah

Mendengar judul lagunya saja pasti membuat siapa saja sangat penasaran untuk tahu isi lagunya. Lagu Gajah adalah pembuktian lainnya dari Tulus dalam kecakapannya dalam menulis lirik lagu yang anti mainstream. Sesuatu yang sangat langka dalam kancah musik Indonesia sejauh ini. Dan yang paling patut diapresiasi dari lagu ini adalah keberanian dari Tulus. Yaitu keberaniannya untuk mengungkapkan masa lalunya terutama masa kecilnya yang berjalan tidak baik karena seringnya ia mendapatkan julukan kasar karena bobot tubuhnya yang besar. Namun Tulus telah mendewasa dan menganggap hinaan itu telah menjadi doa terbaiknya untuk menjadi bintang besar seperti sekarang ini. Dan bahkan julukan tersebutlah yang kemudian dijadikan tema lirik sekaligus judul lagunya.

Otak ini cerdas, kurakit berangkai

Kini kutahu puji dalam olokan

Jabat tanganku panggil aku … Gajah

3. Jangan Cintai Aku Apa Adanya

JANGAN CINTAI AKU APA ADANYA

JANGAN CINTAI AKU APA ADANYA via https://www.google.com

“Aku mencintaimu apa adanya.” Entah berapa juta kali sepertinya kita mendengar kalimat tersebut. Mulai dari film drama, novel roman, sinetron bahkan pada kehidupan sehari-hari pun bisa kita temui dimana-mana. Seakan-akan kalimat tersebut menjadi semacam kewajiban agar kekurangan pasangan bisa ditolerir demi cinta yang bisa dimaklumi. Namun Tulus malah kembali memilih untuk melawan arus. Dia hadir untuk mengobrak-abrik pemahaman akan cinta yang selama ini barangkali telah keliru. Hal tersebut dibuktikan dengan kehadiran “Jangan Cintai Aku Apa Adanya.” Tulus percaya bahwa cinta yang sejati seharusnya membuat tiap pasangan menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Bukan malah membiarkan pasangannya dengan “apa adanya”. Karena sebenarnya pada titik tertentu, tiap pasangan ingin dituntut untuk bisa menjadi pribadi lebih baik untuk masa depan bersama. Sekaligus membuat tiap insan yang tengah menjalin cinta yang hakiki seharusnya saling bergandengan tangan untuk memperbaiki satu sama lain agar bisa berjalan ke depan bukan malah menerima apa adanya untuk selalu berada di tapak jalan yang sama. Jenius Bukan?

Kau terima semua kurangku

Kau tak pernah marah bila kau salah

Kau selalu memuji

Apapun hasil tanganku

Yang tidak jarang payah

 

Jangan cintai aku apa adanya

Jangan …

Tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan.

Selain itu, yang membuat lagu ini menjadi semakin istimewa adalah karena musik video klipnya. Hangat, sendu sekaligus mengharukan dalam waktu yang sama. Kerja sama Tulus dengan David Linggar kembali menghasilkan sesuatu yang spesial. Dengan wajah penuh make up badut, Tulus berusaha membuktikan cinta sejati kepada istrinya dengan berusaha mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

4. Sepatu

Lagu dengan tema cinta sepertinya sudah menjadi hal mainstream di kancah musik Indonesia. Dan sepertinya tidak ada satupun tema tentang cinta yang luput untuk dibuatkan lagunya. Namun Tulus kembali hadir dengan kejeniusannya. Ia memang mengangkat tema tentang cinta namun disajikan dengan begitu unik dalam lagu Sepatu. Hal tersebut tidak lepas karena tema tentang cinta yang tidak bisa menyatu dianalogikan dengan cerdik oleh Tulus menggunakan sepatu. Bukankah itu sangat out of the box? Sepatu yang selama ini hanya dianggap sebagai benda mati nyatanya mampu dijadikan analogi dari cinta yang tidak bersatu dengan sendu sekaligus romantis.

Di dekatmu, kotak bagai nirwana

Tapi saling sentuhpun, kita tak berdaya

5. Monokrom

Bayangan orang-orang yang dicintai tanpa alasan yang jelas selalu terlintas ketika lagu ini terputar. Disini, Tulus sama sekali tidak berniat untuk pamer skill. Tidak ada musik yang terdengar megah dan tidak ada juga diksi yang rumit. Semua komposisi dalam lagu ini terdengar sederhana. Namun ternyata kesederhanaan tersebutlah yang membuat lagu ini memiliki taring kekuatan dimana-mana. Siap merobek pipi siapa saja yang mendengarnya untuk becek oleh air mata. Karena hidup manusia menjadi berharga memang karena runutan-runutan kesederhanaan yang kita hirup setiap harinya. Kita seringkali bisa berbahagia dengan teramat sangat maupun sedih dengan sangat sesak oleh sesuatu yang sederhana. Kita sebagai manusia jarang sekali bahagia maupun sedih oleh sesuatu yang rumit. Mengingat dan melupakan adalah contoh terbaiknya. Dimana semua kenangan masa lalu tersebut dianalogikan dengan satu warna dasar yakni Monokrom. Karena kenangan masa lalu kita biasanya berbentuk gambaran atau fragmen yang tidak utuh. Sehingga kita “dipaksa” untuk mengingatnya kembali secara detail.

Lembaran foto hitam putih..

Kembali teringat kuhitung bintang-bintang

Saat mataku sulit tidur, suaramu buatku lelap…

Sebenarnya selain lima lagu diatas, masih banyak lagu lainnya yang membuat Tulus masuk ke dalam jajaran musisi berkualitas Indonesia. Sehingga tidak ada alasan untuk tidak mulai mendengarkan musik demi musik yang dikreasikan oleh pria lulusan Universitas Katolik Parahyangan jurusan Arsitektur ini.