Menjadi sempurna adalah dambaan bagi setiap orang. Terlihat tiada cela adalah tujuan dari apapun yang kita kerjakan, baik itu ketika mengerjakan tugas kuliah dan tugas pekerjaan, maupun dalam penampilan. Tetapi menjadi sempurna bukan satu-satunya penentu bahwa kita akan selalu bahagia. Menuntut diri untuk selalu tampil sempurna dalam hal-hal yang kita kerjakan, yang biasa kita kenal dengan sebutan perfeksionis ternyata justru membuat kita sering menunda-nunda pekerjaan. Jika hal ini dilakukan terus menerus, menurut Liesbet Boone, Psikolog dari Belgia, perfeksionis berkaitan erat dengan depresi dan gangguan makan.

Nah, coba cek apakah kamu termasuk dalam ciri-ciri perfeksionis?

1. Do your best = for the best

Ketika ada tugas, sebisa mungkin kamu berusaha menyelesaikannya dengan mengerahkan upaya terbaik. Hal ini tentu menjadi hal yang patut diapresiasi, karena kamu akan melakukan usaha terbaik apalagi sesuatu tersebut adalah hal yang kamu senangi. Terkadang, melakukan yang terbaik beda tipis dengan keinginan menjadi yang terbaik. Hal inilah yang menjadikanmu seperti dikejar-kejar oleh tuntutan diri sendiri.

2. Don t expect too much, ubah orientasimu pada proses

Berharap untuk menjadi yang terbaik itu wajar. Apabila kenyataannya harapan tersebut tidak terlaksana, maka yang terjadi adalah kekecewaan karena ekspektasi tidak sesuai dengan realita. Kamu perlu mengubah orientasi yang selalu berfokus pada hasil, sekarang saatnya diubah menjadi orientasi pada proses. Menjalani proses dan menikmati setiap detiknya dengan hati suka cita akan membuat pekerjaan tidak terasa berat. Hasilnya? Let God do the rest.

3. Lepaslah bayang-bayang bahwa kita harus nampak sempurna di mata orang

Advertisement

perfeksionis cenderung membuat seseorang menjadi depresi via http://pinterest.com

Tidak semua orang berpikiran yang sama dengan apa yang kamu pikirkan. Kamu tidak bisa mengontrol apa yang orang pikirkan terhadap dirimu. Ingatlah itu. Tidak munafik juga bahwa pandangan orang lain terhadap dirimu seringkali membuat cemas. Ada dua efeknya ketika kamu merasa harus tampil sempurna di mata semua orang, kamu justru bisa mengerjakan tugasmu dengan baik atau malah kamu mengalami kecemasan. Tenangkan dirimu, bahwa tidak setiap orang memiliki pendapat yang sama, ambillah satu tuntutan yang memang benar-benar menjadikan dirimu mampu melakukan sesuatu dengan positif, bukannya membuatmu cemas. Tidak perlu menuruti semua tuntutan orang. Stres itu wajar, stres itu manusiawi, karena dengan adanya stres kamu justru bisa menjadi terlatih menghadapi masalah bukan?

4. Sesekali, jadilah anti mainstream

nggak harus spesial, tapi kamu adalah individu dengan keunikannya via http://pinterest.com

Jika kamu sudah terbiasa memperoleh hasil yang sempurna, sesekali cobalah untuk anti mainstream. Cobalah hal-hal di luar kebiasaan, misalkan kamu yang saat ini sedang bekerja dan diberi tugas banyak laporan oleh atasan, sesekali kamu bisa memberikan hasil yang di luar kebiasaan. Tentunya dengan alasan yang realistis dan masih berkaitan dengan pekerjaan. Membuat kesalahan-kesalahan kecil adalah hal yang wajar, karena hidup tidak hanya melulu putih dan hitam, ada juga warna abu-abu, jingga, dan warna pelangi lainnya.

5. Syukuri apa yang ada

bersyukur dan maafkan diri sendiri… via http://virtuesforlife.org

Diri ini juga memiliki batas kemampuan. Meskipun ada yang bilang bahwa kita tidak akan pernah tahu apabila kita tidak mencoba, tapi mau sampai seberapa jauh lagi kamu terjebak dengan sisi kepribadianmu yang perfeksionis ini? Nikmati apa yang ada di depan, tidak perlu mengeluh ataupun menyesali hari kemarin karena semuanya sudah terlewati. Cobalah hargai diri sendiri dan menyayangi dirimu. Hal ini bukan berarti kamu berleha-leha dan bersantai terhadap pekerjaan. Bukan… daripada meneror diri sendiri dengan kesalahan-kesalahan kecil, alangkah lebih baiknya kamu mensyukuri proses yang sudah dilewati dengan penuh kebahagiaan. Hal ini lah yang akan membuat hidupmu menjadi lebih bermakna.

Kita juga perlu tahu bahwa orang seperti Pak Presiden dan jajaran menteri-menteri di negara Indonesia yang sangat hebat sekalipun, tidak terlepas dari kekurangan. Bahwa pengusaha-pengusaha sukses di Indonesia juga pernah mengalami kegagalan, dan saat ini pun apa yang mereka kerjakan juga pasti ada kurangnya. Jadilah manusia yang tetap me”manusia” dengan tetap menjadikan kekurangan menjadi suatu kebahagiaan.

You don’t have to be great to start, but you have to start to be great. In every opportunity. Jadi, siapkah kita untuk tidak menjadi seorang perfeksionis?

Better a diamond with a flaw than a pebble without. ~Confucius, Analects