Ngomongin soal smartphone, kita tidak akan pernah lepas dari beberapa aplikasi yang ada di sana. Aplikasi-aplikasi ini selalu kita bawa ke mana-mana, kapanpun kita pergi, ke manapun kita pergi. Setiap hari kita menggunakan semuanya, bahkan beberapa dari kita harus 'rela berkorban' membawa power bank yang ukurannya lebih besar dari smartphone kita sendiri.

Jika kamu termasuk pengguna yang mempunyai 2-3 smartphone bahkan lebih, jika kamu seorang pekerja 8 jam sehari di kantor, jika kamu harus tidur teratur 8 jam sehari, jika kamu punya keluarga atau sudah berkeluarga, jika kamu dalam sehari rutin menggunakan minimal 8 aplikasi, jadi bagaimana hidupmu yang sesungguhnya di luar smartphone?

Definisi kesepian yang sebenarnya adalah hidup tanpa tanggung jawab sosial. ― Goenawan Mohamad

 

1. Banyak fakta mengejutkan bahwa penduduk Indonesia sangat ketergantungan terhadap smartphone

infographic-apple's-app-store

infographic-apple's-app-store via https://www.statista.com

Tahukah bahwa 132 juta penduduk Indonesia adalah pengguna internet? Tahukah bahwa ada 63 juta penduduk Indonesia mengakses internet dari smartphone? Tahukah bahwa Indonesia menjadi pengguna Android nomor 1 di Asia Tenggara?

Semakin banyak aplikasi di Playstore, Appstore atau toko aplikasi lainnya, semakin banyak dari kamu yang mengunduh dan mengunduh lagi aplikasi yang lain. Semakin banyak pula akan kamu temukan orang-orang yang duduk dengan teman-temannya di pinggir jalan, namun kepalanya selalu menunduk ke arah smartphone.

2. Mungkin karena smartphone memudahkan segalanya, termasuk menghubungkan yang jauh menjadi seolah-olah dekat

woman-in-gray-shirt-seating

woman-in-gray-shirt-seating via https://www.pexels.com

Di dalam bisnis, ada istilah Human Touch Management. Bagi pemimpin yang mengerti kepemimpinan akan lebih suka menggunakan hal itu ketimbang Touchscreen Smartphone untuk lebih dekat dengan bawahannya.

Ada 4 poin penting dalam Human Touch Management yang diperhatikan. Pertama melihat wajah; kedua, menjaga mulut; ketiga, dari lubuk hati; dan yang terakhir adalah bersentuhan tangan atau bersalaman.

3. Makin banyaknya sosial media, menjadikan banyak orang seolah memiliki rumah kedua. Ya, begini penjelasannya

standing-person-on-grass-field

standing-person-on-grass-field via https://www.pexels.com

Pada kampus-kampus dulu biasanya, 1 angkatan akan menggunakan 1 grup Facebook. Karena tidak semua bisa akrab satu sama lain, akhirnya dipisah menjadi per kelas. Belakangan ada beberapa dosen yang meminta 1 grup Facebook untuk 1 mata kuliahnya. Jadi, jika ada 10 kelas dan 8 mata kuliah, jika kita ingin mempunyai koneksi dengan semua mahasiswa yang 1 angkatan dengan kita, kita harus bergabung dengan 18 grup Facebook.

Belum termasuk ketika naik semester dan mata kuliahnya berubah, belum termasuk grup organisasi dan komunitas, belum termasuk grup messenger seperti BBM dan Whatsapp, belum termasuk ketika harus dipisah menjadi grup serius dan santai. Too much!

Bahkan yang terbaru, banyak dari kita membuat grup messenger untuk keluarga.

Nah, apakah kamu termasuk yang lebih sering memperhatikan keluargamu di dalam chat, daripada datang langsung dan mendengarkan ceritanya?

4. Sayangnya, tak sedikit dari mereka yang mengekspos kehidupan pribadi ke sosial media, hingga terkesan pamer dan drama

city-landscape-sky-people

city-landscape-sky-people via https://www.pexels.com

Jika dulu kita hanya bisa menggunakan foto pasangan kita sebagai wallpaper di handphone, sekarang bahkan kita bisa mempromosikan status hubungan kita kepada semua orang di dunia.

Jika dulu pesta pernikahan digunakan sebagai salah satu acara untuk memberitahukan kepada banyak orang bahwa kita sudah mempunyai pasangan secara resmi, sekarang bahkan kita akan lebih sering 'ketahuan' duluan dengan siapa kita dekat, bahkan ketika kita belum ketemu dengan orangnya.

Jika dulu hanya remaja yang masih pacaran yang ramai di sosial media, sekarang banyak sekali ibu rumah tangga dan bapak kepala keluarga yang turut meramaikan dunia per-sosial media-an.

Foto-foto pernikahan seolah menjadi hantu paling seram se-Indonesia buat yang masih jomblo.

5. Apakah kamu tidak bisa berada berjauhan dengan smartphone barang 1 jam saja? Jika iya, fix kamu sudah sangat ketergantugan!

city-man-person-skyline

city-man-person-skyline via https://www.pexels.com

Tidak ada yang salah dengan perubahan zaman. Tidak ada yang salah dengan perkembangan teknologi. Tidak ada yang salah ketika kafe-kafe di pinggir jalan semakin ramai, namun mereka yang duduk merasa kesepian. Tidak ada yang salah ketika rakyat harus mengenal pemimpin negaranya hanya lewat sosial media. 

Kalau tidak salah, kita tidak belajar

Kita belajar dari zaman yang sedang berubah, dari teknologi yang terus berkembang, dari diri kita sendiri yang mencari tahu siapa kita sebenarnya, dan di mana kita berada seharusnya.