Kita bisa saja bicara segala sesuatu, berteori tentang ini dan itu, berteorika hingga habis waktu, berhikmat pada pandangan mazhab tertentu, berargumen tanpa tahu batas waktu, dan sangat bangga dengan semua itu.

Namun hidup adalah kenyataan dan realita yang membunuh semua kepalsuan yang kita buat. Kalau ada pepatah yang mengagumkan sekali "Semut di seberang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tak tampak". Maka dengan redaksi yang sedikit berbeda, saya sodorkan nadi dan memutusnya dengan sembilu yang saya pegang sendiri atas dasar kepalsuan yang terangkat di permukaan, mati dalam kubangan rasa malu.

Pencitraan tak selalu menghasilkan Piala Citra. Tak semua akting berbuah rewarding. Kita bisa saja menipu siapapun, bahkan menipu diri sendiri. Tapi asal tahu saja, kita tak bisa menipu Tuhan kita. Banyak para tokoh di sosial media tak memahami hal ini. 

 

1. Cukuplah Tuhan yang tahu amalan kita.

cukup Tuhan yang tahu

cukup Tuhan yang tahu via http://google.com

Beberapa di antara kita mungkin pernah menemui status yang diunggah ke sosial media seperti,

"Ah, terbangun jam dua malam. Saatnya wudhu, curhat sama Allah."

"Alhamdulilah buka juga. Semoga puasanya berkah hari ini."

dan status yang serupa lainnya.

Tidakkah kita mempercayai Tuhan kita, yang bahkan tanpa dituliskannya pun, Tuhan sudah tahu apa yang terjadi dalam hidup kita? Amalan-amalan yang kita lakukan pun semua sudah tercatat tanpa luput, walau hanya sebutir debu. Atau jangan-jangan, kita hanya ingin menuai pujian dari orang lain? Jadi, kalau tujuannya seperti itu, maka jangan heran jika suatu saat nanti kita bahkan akan menemui status yang seperti ini

"Eh, lagi sujud raka'at kedua, sholat tahajud."

2. Berkelahi aksara jadi ajang pembuktian tanpa tahu batas.

Awalnya, kita adalah pencari kebenaran yang sudah jauh menyimpang. Penggemar perdebatan tersesat menjadi penggemar perhebatan. Banyak sekali pengguna sosial media yang kenal pun tidak, tapi tahu-tahu jadi pembenci paling akut. Sialnya lagi, kita mudah sekali membiarkan orang lain menarik kita dalam sekali pada pertengkaran. Hanya karena tak sependapat dan tak sepakat, just keep it to yourself!

Sindir menyindir yang akhirnya membuka aib sendiri,"Wow, I just amazed!" karena tanpa disadari, kita ini sedang membuka aib kita sendiri.

3. Tak ada yang benar-benar peduli dengan kehidupan asmara kita.

Tak ada yang peduli

Tak ada yang peduli via http://google.com

Sebenarnya siapa sih, yang peduli dengan kehidupan asmara kita? Tak ada! Kalau pun ada, mereka hanya basa-basi. Saat kita menyebut nama pacar kita di jejaring sosial, pajang foto-foto mesra, saling berbalas komen seperti sudah seabad tak bersua, aduh kadang kita salah fokus soal ini. Mau kita pacar si A sampai si Z, sesungguhnya tak ada yang peduli. Lagipula, apa untungnya bagi kita sih?

Hati bisa saja berubah haluan, begitu pula hubungan kita yang sudah diumbar di media sosial. Ya, bisa saja saat putus kita menghapus postingan semua itu. Tapi, apa bisa kita menghapus semua itu dari memori orang-orang? Apa kita hanya mau dikenang hanya karena kita pacar si A sampai si Z? Rugi sekali kawan!

4. Orang jalanan yang tinggal di luar negeri pun, mereka biasa saja. Kenapa kita seheboh itu?

Kita sibuk sekali bilang sedang di Paris, New York, Hongkong, atau bahkan di Planet Pluto sekalian. Karena jika memang benar kita lagi di sana, toh mereka orang jalanan, gelandangan, pengemis yang tinggal di sana biasa saja. Tak perlulah seheboh itu, meskipun semua kembali ke pribadi masing-masing. Apa tujuannya dan apapun niatnya, karena jarak antara pamer dan tulus itu kadang hanya semilli atau bahkan sudah tak ada lagi.

Narsis dengan bermanfaat kadang hanya satu tarikan nafas saja. Jadi, silahkan mari kita pikirkan! Mungkin menarik untuk direnungkan.

5. Hidup ini realita, bukan hanya pepesan kosong.

Reality

Reality via http://google.com

Dan semua ujung pamer, juga pencitraan di sosial media itu hanya untuk sekedar menjadi ajang pembuktian. Berapa banyak dari kita yang tanpa sadar melakukan itu semua? Ayolah! Jangan mau diperbudak oleh hal-hal yang sebenarnya tak ada manfaatnya buat kita. Sungguh, kitalah yang paling rugi! Karena kita tak hidup di dunia maya, mati pun tak di sana. Tidur pun juga tak di sana.

Tapi kenapa kita sibuk sekali menghabiskan waktu kita di dunia maya?

Ayolah! Kita kembali ke fitrahnya. Sombong itu sudah barang yang terlalu mainstream. Tak perlulah menjadi orang lain. Kau tahu? Semua orang memiliki selera masing-masing. Tak semua orang suka keju. Ada juga yang suka singkong macam saya dan semua orang pun memiliki porsinya masing-masing.