1. Mana yang jadi prioritas: pasangan atau karir?

“Will you marry me?” via http://film4.com

Tidak berapa lama setelah Tom dan Violet bertunangan, Violet mulai khawatir dia tidak akan pernah bisa menemukan dream job-nya setelah menikah nanti. Dia selalu bermimpi untuk mendapat pekerjaan di Berkley, Michigan. Tiba-tiba Violet mengetahui bahwa dirinya diterima untuk program post doctorate di Universitas of Michigan selama dua tahun. Di saat yang sama, Tom lagi di puncak karirnya sebagai salah satu chef di restoran terkenal. Begitu ia tahu tunangannya harus ke Michigan, dia rela melepaskan karirnya dan ikut pindah ke Michigan. Cerita mereka baru saja dimulai, karena setelah itu mereka berdua terlalu sibuk mengejar karir mereka masing-masing. Terkadang sulit banget, ya, untuk memilih antara karir dan pasangan. Saat di mana kita sudah terlalu fokus dengan karir, hubungan pun ikut terbengkalai, dan nggak jarang pasangan yang diuji dalam isu ini. Ada yang memilih untuk bertahan, namun ada juga yang memilih untuk mengakhiri. Kalau memang kamu dan pasangan serius untuk menikah, sebaiknya jangan lagi terlalu sibuk mengejar karir. Bukannya nggak boleh mengejar mimpi, lho, yah. Namun, prioritas bagi pasangan yang merencanakan untuk menikah bukan lagi hanya diri sendiri. Ajak pasangan untuk sama-sama merencakan mimpi ke depannya. Mimpi yang bisa dijalani bersama bukankah jauh lebih indah?

2. Bohong kepada pasangan dengan kalimat “I’m okay”, padahal sebenarnya kamu jauh dari baik-baik saja

Jujur sama pasangan tentang perasaan kamu via http://www.blu-ray.com

Terkadang kita sulit banget untuk jujur kepada pasangan tentang sesuatu yang kita tidak suka. Walaupun awalnya mendukung karir Violet dengan rela meninggalkan dream job-nya sendiri sebagai kepala chef, Tom sangat tidak suka dengan keputusan dirinya sendiri untuk ikut pindah ke Michigan. Sampai suatu hari, Violet merasa ada yang aneh dari Tom dan ia minta Tom mengakui perasaan yang sebenarnya. Demi menciptakan hubungan yang sehat, saling terbuka tentang perasaan adalah salah satu hal yang penting. Apalagi kalau hubungan tersebut akan segera ke tingkat yang lebih serius. Kalau suka katakan suka, tidak suka katakan tidak suka. Semua bisa dibicarakan baik-baik selama keadaan memungkinkan. Jangan sampai perasaan terpendam memunculkan benci. Yang rugi tentu kamu dan pasangan.

3. Curhat personal tentang pasangan dengan teman pria, dalam pengaruh alkohol!

“Teman pria”-nya Violet via http://brmovies.cc

Advertisement

Ketika pasangan sendiri tidak memahami perasaannya, Violet malah keceplosan curhat dengan teman prianya, Winton—yang naksir pada dirinya—dalam keadaan setengah mabuk. Saat ada masalah, khususnya yang menyangkut dengan pasangan, kita para perempuan pasti butuh teman curhat yang pengertian. Sah-sah saja kepingin curhat untuk menumpahkan perasaan. Yang tidak sah adalah kita memilih teman pria untuk jadi teman curhat. Apalagi curhatnya dalam keadaan setengah mabuk alkohol! Namanya juga perempuan, kalau pasangan sedang tidak dapat memahami kita dan ada cowok lain yang lebih pengertian, pasti akan terlena. Gawatnya, kalau teman pria tersebut mengambil kesempatan dalam kesempitan! Tidak apa-apa jika butuh waktu sendiri sejenak kalau sedang ada masalah dengan pasangan. Jika butuh teman untuk curhat, lebih baik dengan teman sesama jenis. Pasti punya dong, sahabat yang selalu bisa diandalkan saat dibutuhkan. Dengan begitu, masalah baru tidak perlu ada dan semoga masalah dengan pasangan bisa cepat menemukan jalan keluar.

4. Mengambil keputusan saat sedang kalut dalam emosi

Ayuk, kita nikah besok aja! via http://entertainment.ie

Saat Violet melakukan "kesalahan" dengan Winton, ia merasa sangat bersalah dan mengambil keputusan untuk segera memajukan tanggal pernikahan dengan Tom. Karena keadaan emosi keduanya sangat labil, mereka mempersiapkan tetek bengek pernikahan dengan sangat gegabah. Terkadang kalau sedang emosi—kita nggak tahu apa yang kita lakukan atau keputusan yang diambil, tepat atau tidak. Seringnya, keputusan tersebut membawa kepada sebuah bencana yang baru. Tentu kita nggak menginginkannya, bukan? Mempersiapkan sebuah pernikahan memang ribet dan menguras emosi. Tapi jangan sampai persiapan tersebut menghilangkan akal sehat kamu dan pasangan, ya.

5. Ragu terhadap pasangan yang akan segera kamu nikahi

Is he/she the one? via http://collider.com

Nggak jarang ketika dalam masa tunangan, banyak masalah datang secara tiba-tiba seolah hubungan kamu dengan pasangan sedang diuji. Nggak jarang juga masalah tersebut membuat kamu memiliki second thought, apakah pasangan yang sekarang ini adalah yang terbaik? Ibarat membeli tiket perjalanan one way, pernikahan pun seperti itu, tidak bisa membeli tiket pulang alias tidak bisa mundur. Kalau memang hubungan tidak bisa dilanjutkan, lebih baik diakhiri sebelum masuk ke jenjang pernikahan. Tapi kalau masih bisa diperbaiki, harus sama-sama berjuang untuk bisa mempertahankan hubungan. Intinya, pernikahan itu nggak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak bibit bebet bobot yang harus dipikirkan masak-masak. Namun kalau kamu dan pasangan sama-sama yakin, percayalah semua badai pasti bisa dilalui. What doesn't kill you, makes you stronger.