Menjadi muslimah yang menjalankan syariat, sudah jadi kewajiban kami. Termasuk memilih tetap sendiri, tanpa menempatkan yang belum halal di hati. Banyak yang menganggap, kalau tidak pacaran itu cupu, tidak ngetren, bahkan ketinggalan zaman. Namun kami tidak peduli ucapan mereka, keteguhan dalam menjaga hati akan terus dijalani. Sampai dia yang memang Allah Ta'ala kirimkan hadir di sisi.

 

1. Kami Hanya Berusaha Taat Pada Ketentuan Tuhan

Apakah Jilbabku Jilbab Syar’i via http://www.sukmahadisulbar.blogspot.com

Sebagai makhluk Tuhan yang dinamakan perempuan, kami harus pandai menempatkan diri. Menjaga izzah (harga diri) dan maru'ah (malu) sudah jadi kewajiban. Menundukan pandangan pada yang bukan mahram, sudah keharusan. Karena pandangan adalah titik awal diri, jatuh pada godaan.

Kami tidak menyatakan diri sebagai wanita suci, atau pun wanita baik yang terlepas dari dosa. Kami hanya wanita akhir zaman, yang berusaha menjadi shalihah. Menjaga hati dari gemerlap dunia, yang hanya sementara. Jangan kubur semangat kami dalam memperbaiki diri. Rangkul kami agar selalu istiqomah menjalani, apa yang sudah menjadi pilihan hati.

2. Asiknya Bangun Cinta, Ketimbang Jatuh Cinta

Bagaimana Jika Muslimah Jatuh Cinta via http://www.rizaumami08.blogspot.com

Advertisement

Cinta?

Satu kata yang memiliki berjuta makna. Kehadirannya kerap memberi warna. Cinta selalu datang tanpa diminta. Setiap hati yang disinggahinya akan merasa berbunga. Jatuh cinta pada sosok yang istimewa, memang akan terasa indah. Apalagi jika cinta berbalas juga dihatinya.

Tapi, ada kalanya cinta yang menyapa, akan memberi sakit luar biasa. Saat dia yang kita harap, ada di sisi sampai akhir usia, berpaling pada dia yang lebih istimewa. Hati yang awalnya merah jambu, dengan cepat berubah abu-abu. Bahkan cendrung hitam pekat. Diselubungi rasa kecewa. Kalau sudah begitu hanya air mata yang jadi teman setia.

Berbeda dengan kami, yang memilih tidak pacaran. Sakit hati dan kecewa karena cinta pada seseorang, mungkin akan sedikit kami rasakan. Membangun cinta sudah jadi keputusan. Mengikat hati dengan kekasih halal, yang Allah Ta'ala tautkan, memberi warna tersendiri pada hidup yang kami jalani. Kami tidak perlu takut patah hati, saat dia pergi. Dan, tidak perlu sibuk mencari pengganti sebagai pengobat hati. Yang harus kami lakukan hanyalah menyelaraskan diri, belajar saling mengerti, dan belajar menerima kekurangan diri kekasih halal kami.

3. Ta’aruf Bukan Pacaran, Yang Butuh Penjajakan Untuk Saling Mengenal

Ta’aruf VS Pacaran, Siapa Yang Menang? via http://www.rohis.itsar.org

Ta'aruf merupakan proses perkenalan, yang sesuai dengan syariat islam. Kami tidak bertemu berduaan, dengan dia yang bukan mahram. Tidak pula jalan berdua yang kerap mengumbar kemesraan. Membatasi komunikasi pun kami jalankan agar khilaf tidak datang. Proses yang kami lakukan akan tetap dirahasiakan, sebelum akad nikah terikrarkan.

Bedanya Ta'aruf sama pacaran itu jelas banget, Guys. Kalau dalam proses Ta'aruf kita diharuskan jujur, memberi informasi tentang diri bahkan keluarga. Agar tidak terjadinya penyesalan setelah menikah. Nah! Kalau pacaran sudah pasti, ya … cuma ngumbar yang manis-manis saja, yang baik-baiknya doang. Eh … pas udah nikah, baru deh ketahuan belangnya ( eth … emang kucing, pake belang. Hahaa … ). Ah, ya! Dalam proses ta'aruf kita hanya butuh waktu tiga bulan. Gak kayak pacaran, yang butuh waktu bertahun-tahun buat penjajakan.

4. Berjilbab Syar’i Bukan Karena Sok Suci, Tapi Menjalani Kewajiban Kami

Hijab On Pinterest via http://www.pinterest.com

Banyak orang menilai kami sok suci, karena berjilbab syar'i. Sehelai kain menutupi mahkota Indah kami, tidak jarang panjangnya nyaris menyentuh kaki. Sungguh! Bukan itu alasan kami, semua semata karena kewajiban yang harus dijalani.

Ada pula yang bilang kami tidak gaul! Ketahuialah, menjadi muslimah gaul itu tidak harus berpakaian seksi atau memakai make up menor, seperti mau pentas seni lho …! Berpakaian syar'i tidak menghalangi kami untuk tetap bergaul dan bersilaturahmi.

Nah! Apa hubungannya berjilbab syar'i dengan pacaran ? Jelas tidak ada, karena berada di koridor yang berbeda. Hanya saja keduanya perintah Tuhan, yang harus dijalani hambanya. Dengar ya, Guys. Pacaran merupakan kata yang indah buat seseorang yang jatuh cinta. Tapi, pacaran juga bisa mencelakakan. Tidak sedikit perempuan yang terperangkap dalam dosa karena kemaksiatan, berkedok pacaran.

Apakah dengan berjilbab syar'i dan tidak pacaran, seorang muslimah pasti bersih dari dosa ? Ya … belum tentu, karena kami bukan malaikat. Setidaknya dengan berjilbab syar'i dan tidak pacaran, sebagai muslimah kami punya pakem untuk menjaga diri dari godaan nafsu yang menyesatkan.

5. DON’T SAY I LOVE YOU BEFORE QOBILTU

Menjaga Kemesraan Pasangan Suami Istri via http://www.dakwatuna.com

Akhi yang baik hatinya, jangan hancurkan pilar iman kami, dengan rayuan yang menyesatkan. Dan, maafkan kami yang tidak mau pacaran.

Akhi yang sholeh, penuntun kami ke Surga-Nya. Jika memang sudah siap, menjadi imam dan panutan, pinanglah kami dengan qobiltu.

Dalam kamus 'menuju jannah dengan shalihah' tidak ada proses penjajakan. Tidak ada pula pernyataan I love you yang dikumandangkan. Sebelum kau berani bilang "Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi, Wallahu Waliyut Taufiq" di depan Ayah dan Pak penghulu.