Hai. Apa kabar, diriku? Semoga kau masih sehat-sehat saja ya. Hari ini aku menulis sepucuk surat untukmu. Sepuluh tahun kedepan semoga kamu masih bisa menyisihkan sedikit waktu di antara kesibukanmu yang menumpuk untuk membaca suratku ini. Aku selalu berjuang dan berdoa demi kesuksesanmu. Bukan mendahului semesta, aku hanya menerka-nerka keadaanmu nanti. Sejujurnya aku juga sungguh penasaran bagaimana kehidupanmu saat itu, saat dimana kau duduk di tepi tempat tidur sembari menunggu si kecil pulas. Kemudian tersenyum simpul karena mencerna rangkaian kalimatku yang aneh ini. Mungkin saja.

 

1. Aku yakin tubuhmu pasti bertambah gemuk. Tapi apa kau juga masih malas berolahraga?

Diriku, apa kau sudah menjadi ibu?

Diriku, apa kau sudah menjadi ibu? via http://www.autumnburke.com

Saat itu kau sudah lumayan berumur ya. Bisa saja tubuhmu melar akibat melahirkan. Tak ada lagi terdengar suara sumbang yang mengkritik tubuhmu yang kelewat kurus. Pakaian yang kau banggakan tak lagi bisa dipakai karena kesempitan. Semoga tubuhmu tetap bugar dan melarnya tak keterlaluan. Jaga kesehatan ya. Meskipun super sibuk kuharap kau juga menyisihkan untuk sedikit jalan kaki. Kau masih menjadikan jalan kaki olahraga favoritmu, kan?

2. Usiamu memang sudah bertambah satu dekade. Apa kau masih menggeluti hobi yang sama?

Diriku, apa kau masih hobi nonton?

Diriku, apa kau masih hobi nonton? via https://www.colourbox.com

Berat memang membagi waktu antara diri sendiri dan keluarga. Bertambahnya usiapun bisa merubah seseorang. Apa kau masih menyukai hal-hal seperti nonton bioskop, melebur kebosanan dengan melahap habis drama dan film di laptop atau menulis sesuatu yang tidak penting di dalam blog pribadimu? Mungkin saja kau merubah haluan menjadi gemar memasak, hobi arisan atau rajin merajut. Bisa jadi.

3. Selamat! Sejumlah negara sudah kau singgahi. Semoga saja impianmu kuliah S2 juga telah tuntas kau jalani.

Diriku, sudah puaskah kau berpetualang?

Diriku, sudah puaskah kau berpetualang? via http://resources0.news.com.au

Aku tahu selagi muda, aku harus melakukan segala hal yang baru termasuk traveling ke tempat baru. Semoga saat itu kau sudah bisa menceritakan perjalananmu yang berharga kepada anak dan suamimu. Kamu pasti semangat mendiskripsikan lewat foto-foto yang kau simpan rapi. Selain itu aku berharap kau juga sudah menyematkan gelar magister/master di belakang namamu sebelum mengganti statusmu dari single menjadi couple.

4. Membahagiakan kedua orang tua wajib dilakukan. Jasa dan pengorbanannya untukmu tak terhingga sepanjang masa.

Diriku, sudahkah kau bahagiakan mereka?

Diriku, sudahkah kau bahagiakan mereka? via https://pcchighroad.files.wordpress.com

Ayah dan ibu mengasihimu sepanjang masa. Dari lahir, mereka menimangmu, dengan sabar mengajarimu tentang segala hal. Bahkan perkara yang tak diajarkan di sekolah sekalipun. Pastikan mereka tetap bangga memilikimu. Meskipun belum bisa memberangkatkan mereka haji setidaknya kau sudah membahagiakan mereka lewat hal-hal kecil.

5. Kuharap kau sudah berjumpa dengan partner seumur hidupmu dan memiliki versi kecil dari dirimu.

Diriku, sudahkah kau memiliki mereka?

Diriku, sudahkah kau memiliki mereka? via http://www.kyleflemingphotography.com

Yang paling membuatku penasaran adalah bagaimana rupa suamimu? Apa dia tampan dan gagah? Pendamping hidupmu mungkin memiliki rambut dan penampilan rapi karena dia seorang pegawai kantoran dengan gaji mapan. Atau bisa jadi bergaya kasual karena dia seorang wirausaha yang sukses. Priamu itu seseorang yang baru kau kenal atau justru cinta pertamamu? Saat ini memang aku masih belum bertemu dengan suamimu. Aku yakin dia laki-laki yang baik, yang mirip denganmu. Bukankah jodoh adalah cerminan diri? Aku janji akan memantaskan diri demi dirinya dan kebahagiaan kalian.

Oh ya, saat itu apa kau sudah memiliki pangeran dan puteri kecil? Pasti mereka lucu dan menggemaskan. Meski lelah mengurus mereka aku yakin kau pasti tak henti-hentinya mengucap syukur atas kehadiran mereka. Jangan lupa bacakan mereka cerita sebelum tidur, menuntun mereka berdoa, mendidik serta melimpahi mereka dengan kasih sayang.

6. Menjadi ibu rumah tangga, wanita karir atau keduanya? Atau mungkin kau lebih memilih menghasilkan segudang uang dari rumah.

Diriku, masih semangat bekerja kan?

Diriku, masih semangat bekerja kan? via http://i.telegraph.co.uk

Ketika sudah dewasa, kau dituntut untuk menentukan jalan hidupmu sendiri. Sekarang tak akan ada masalah ketika aku mengejar karir setinggi-tingginya. Namun, menjadi istri sekaligus ibu juga pekerjaan yang menyita banyak waktu dan tenaga. Sanggupkah kau menjalani peran gandamu? Alih-alih bekerja di bawah tekanan mungkin saja, kau memilih membuat sendiri mesin pencetak uang dari rumah. Lebih banyak waktu untuk keluarga bukan?

Diriku di masa depan, aku yakin kehidupanmu telah berubah. Sudah pasti kau akan tumbuh semakin dewasa. Masa lajang dan masa muda memang pantas dikenang dengan indah. Diriku yang sekarang sedang berusaha menikmatinya sepenuh hati agar kau tak akan menyesal di kemudian hari. Membekali diri dengan wawasan baru, berusaha meraih impian kita dan memantaskan diri demi sang pelengkap jiwa. Satu pesan untukmu. Sekecil apapun kesuksesanmu, syukurilah. Karena kau telah melewati perjuangan besar dan perjalanan yang terjal. Walaupun badai kehidupan semakin kencang menerjang. Dongakkan kepalamu, tegakkan badanmu dan jangan pernah menyerah. Jadilah wanita yang kuat, Diriku!

Dari aku yang sekarang – Dirimu 10 tahun yang lalu.