Tidak semua orang memiliki kisah cinta yang manis nan dramatis. Sebagian orang memiliki wawasan yang luas, piawai mendongeng tentang apapun, serta penuh antusiasme dalam memotivasi orang lain namun ketika disodori tema cinta dalam sebuah pembicaraan, entah mengapa tiba-tiba lidah terasa kelu dan suara pun tercekat di tenggorokan. Orang yang hemat berbicara tentang cinta bukanlah semata-mata karena trauma akan kisah cinta masa lalu yang kelam, tapi bisa saja karena memang belum ada orang spesial yang bisa diceritakan.

Kata jomblo sering dikorelasikan dengan orang yang ngenes, nyesek, atau kesepian sehingga mengaku sebagai jomblo di saat usia dibilang sudah cukup dewasa sering kali dianggap absurd. Terlebih jika si jomblo adalah orang yang cukup kece diantara teman-temannya, tidak hanya karena penampilannya yang awesome namun juga karena prestasinya yang bisa dibanggakan. Teruntuk kalian yang selalu penasaran pada status kami, tidak perlu terlalu syock ketika mendengar bahwa kami masih jomblo. Percayalah bahwa kami benar-benar baik-baik saja, kami hanya sedang menjalankan pilihan hidup. Jomblo itu tidak harus ngenes kok, kami yakin bahwa semua orang punya jodohnya masing-masing. 

 

1. Tolong hargailah sebuah kejujuran, jangan pancing kami untuk berbohong

just trust me

just trust me via http://3.bp.blogspot.com

Rosie: ”Kapan Nikah nih? Calonnya orang mana?”

Nila: ”Belum ada kok calonnya, seriusan..”

Rosie: ”Jangan gitu.. nanti pacarnya diambil orang beneran, gimana?”

Nila: ”Hmmm... gimana ya... aduh... beneran.. aku nggak bohong”

 

Pertanyaan tentang siapa pacar kami atau kapan menikah memang sering sekali kami dengar belakangan ini. Keluarga, teman, bahkan orang yang baru kami temui pun tidak akan melewatkan kesempatan untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Mengaku jomblo membuat kami menjadi seperti tersangka yang sedang di introgasi. Berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dengan jujur walau jawaban yang kami berikan sering dianggap tidak memuaskan, seolah kami harus mempunyai jawaban lain yang lebih asli. Jengah rasanya, tak jarang kami berpikir untuk sedikit berdusta agar bisa segera melarikan diri tekanan. Yang penting kalian senang mendengarnya. Namun kami sadar bahwa satu kebohongan akan melahirkan banyak kebohongan lainnya yang justru akan membuat nurani kami semakin lebih tertekan. Jadi kami mohon percayalah pada kejujuran kami.

2. Kami manusia biasa, tidak perlu berlebihan dalam menilai kami

Shofia: ”Kamu tuh multi talenta banget, jadinya pada minder yang mau deketin kamu”

Raiza: ”Masa sih? Aku biasa aja kali... ”

Shofia: ”Iya kok.. udah pinter, cakep, dan berpenghasilan sendiri..”

Raiza: ”Aamiin.. makasih pujiannya, tapi jangan berlebih gitu..”

Manusia memang terlahir dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kami sangat bersyukur jika potensi yang ada pada diri kami bisa bermanfaat bagi banyak orang. Tapi jangan kait-kaitkan kelebihan atau kelemahan yang kami miliki sebagai penyebab kejombloan. Memilih untuk sendiri sekarang ini adalah keputusan yang kami ambil secara sadar, kami memilih untuk berfokus pada belajar atau karir dahulu. Bukan karena kami menutup diri, tapi itu adalah bagian dari upaya kami untuk menyibukkan diri pada hal-hal yang positif sembari memantaskan diri untuk bertemu dengan jodoh terbaik menurut versi-Nya.

3. Bukannya kami sombong, mungkin kami hanya terlalu malu untuk memulai

Julia: ”Jadi orang jangan pilih-pilih, ntar kamu malah yang nggak kepilih”

Nasya: ”Nggak kok, Cuma belum ada yang pas aja”

Julia: ”Apa salahnya kenalan dulu, toh nikah kan bisa nanti-nanti..”

Nasya: ”Oke nanti aku pikir-pikir lagi.. makasih buat sarannya ya...”

Lama memutuskan untuk tidak berkomitmen dengan seorang membuat hati kami sedikit membeku. Bukan mati rasa, karena kami masih tetap bisa merasakan bahagia, kekecewaan, galau, rindu, dan berjuta emosi lainnya. Berteman dengan lawan jenis adalah hal yang biasa. Namun ketika harus meletakkan sebuah perasaan yang disebut cinta diantara keduanya rasanya belum cukup nyali. Jika kalian menuduh kami sombong coba tanyakan kembali pada diri kalian sendiri, sedalam apakah kalian mengenal kami, jika hanya tahu permukaannya saja lebih baik tidak perlu men-judge kalau kami adalah orang yang sombong dan pemilih. Mungkin saat ini kami memang harus sendiri dalu, maka berilah kesempatan pada kami untuk mengumpulkan segenap nyali. Karena mencintai bukan sekadar mengumbar kata-kata romantis, cinta sejati membutuhkan kepastian dan pembuktian di hadapan Sang Maha Cinta itu sendiri.

4. Ini adalah jalan yang kami pilih

Annie: ”Nggak capek apa kamu? Kemana-mana sendiri kaya pendekar?”

Maya: ”Capek juga sih.. tapi gimana lagi... just be strong”

Annie: ”Masih yakin kamu kuat sendiri?”

Maya: ”Semoga...”

Tidak bisa dipungkiri kadang terselinap rasa iri ketika melihat hidup teman kami lebih menyenangkan karena memiliki seseorang yang bisa diandalkan untuk berbagi suka dan duka. Saat berada dalam titik jenuh terdalam selalu muncul pertanyaan mengapa kami tidak bisa seperti kalian yang bisa dengan mudah mendapatkan pasangan, apa yang salah dengan kami, apakah menjomblo benar-benar pilihan hidup atau hanya sebuah kemalangan? Ah sudahlah ini hanya perihal waktu, jika sudah waktunya semua akan terasa begitu sederhana.

Jika ini adalah jalan yang kami pilih maka kami pun akan berkomitmen dengan segala konsekuensinya. Kesendirian? Mengapa harus meratapi kesendirian yang hanya sementara jika kelak kebersamaan dengan orang yang spesial begitu berharga.

5. Jika benar-benar peduli, cukup selipkan nama kami dalam do’a kalian

Rini: ”Duh kasian banget ya kamu, mau aku kenalin sama temenku?”

Nissa: ”Hmm.. nanti dulu deh..”

Rini: ”Temen-temen kan udah pada taken.. so kamu mau nunggu apa lagi..”

Nissa: ”Entahlah... do’a kan saja ya”

Sesuatu yang klise, kami masih heran sebenarnya kalian benar-benar peduli atau hanya ingin tahu kelemahan kami. Menjudge kami sebagai orang sombong dan pemilih kemudian memperolok-olok kami dibelakang. Sudahlah tidak usah mati-matian berusaha untuk megorek lebih jauh lagi tentang kehidupan orang lain. Cukuplah kalian bersyukur dengan kehidupan ideal bersama pasangan kalian masing-masing, toh kami juga tak terlalu berminat untuk tahu tentang kehidupan pribadi kalian. Jangan paksa kami untuk mengikuti kriteria kehidupan ideal kalian, karena kami punya rumus kebahagiaan kami sendiri. Tak perlu juga selalu berisik menawarkan kami kepada setiap orang yang kalian jumpai. Kami bukan barang dagangan, kami hanya manusia yang berusaha menjadi lebih baik menurut cara kami sendiri, dan mungkin kalian akan susah untuk memahaminya. Jika benar-benar peduli maka cukup selipkan nama kami dalam sujud-sujud panjang kalian karena hal itu akan lebih di dengar oleh Sang Pencipta.

Sekali lagi jangan pernah mengkhawatirkan tentang jalan yang kami pilih ini, karena kami sendiripun tak pernah ragu Akan Takdir-Nya. Janji Allah selalu benar, bahwa orang yang baik akan dipertemukan dengan orang yang baik pula. Kami tidak menganggap diri kami baik, kami hanya ingin memantaskan diri sampai waktu itu telah berpihak pada kami. Waktu dimana dua hati saling bertemu dalam naungan cinta-Nya.