Jalan-jalan bukan hanya sekedar plesir dan bersenang-senang tapi juga bisa jadi kesempatan untuk mengumpulkan kenangan. Seperti #IniPlesirku yang saya lakukan dengan teman-teman beberapa tahun yang lalu keTaman Nasional Bali Barat. Perjalanan ini terjadi demi satu tujuan, untuk menggugurkan salah satu kewajiban kami sebagai mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan. Hidup rimbawan, yee!! Dua minggu perjalanan kami menjadi kisah yang sulit dilupakan karena disinilah awal cerita persahabatan kami dimulai.

 

1. Limapuluh ribu, bisa buat apa?

Selamat Datang di TNBB

Selamat Datang di TNBB via https://www.facebook.com

Bagi kami, limapuluh ribu rupiah sangat cukup buat pergi dari Jogja menuju Bali. Setelah menempuh perjalanan selama hampir 24 jam menggunakan kereta ekonomi dan kapal penyeberangan, sampailah kami di Pelabuhan Gilimanuk. Alhamdulillah, di Gilimanuk sudah ada teman dari Taman Nasional Bali Barat yang menjemput kami, jadi perjalanan dari pelabuhan ke Taman Nasional gratisss.. =). Oh iya, bagi kalian yang ingin berkunjung ke Taman Nasional, jangan lupa mengurus Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi  (SIMAKSI) dulu yaa..

2. Nggak semua anak gaul pernah naik mobil ini, lhooo..

Si Mobil Kece

Si Mobil Kece via https://www.facebook.com

Ini mobil Manggala Agni, dengan mobil kece inilah kami membelah hutan di TNBB menuju Resort Teluk Brumbun, tempat kami tinggal. Pak Putu yang baik hati dengan setia menemani perjalanan kami selama kami berada di Resort Teluk Brumbun. Sepanjang perjalanan, saya sibuk berteriak, “Kereeeeen..” setiap melihat sekawanan satwa melintas di depan saya. Ini pengalaman pertama bagi saya bisa melihat satwa liar tepat di depan mata, berlarian bebas di alam liar, bukan di Taman Safari apalagi Kebun Binatang. Tapi dengan kalem Pak Putu bilang, “ Jangan senang dulu, nanti di Brumbun banyak yang lebih keren.” Aih, jadi malu. Hahahaha..

3. Hello, Teluk Brumbun.. =)

Resort Teluk Brumbun

Resort Teluk Brumbun via https://www.facebook.com

Resort Teluk Brumbun, tempat kami menginap untuk beberapa hari, merupakan salah satu resort yang ada di TNBB.  Petugas memberitahu kami kalau di resort, listrik hanya akan dihidupkan mulai pukul 19.00 – 00.00 WITA. Apa !!!??? Kejutan belum berakhir, esoknya kami juga tahu kalau persediaan air di resort terbatas, apalagi ketika kami datang sedang musim kemarau. Air hanya akan diisi setiap 2 hari sekali, jadi kita harus berhemat. Petugas disana pun dengan senang hati memberitahu kami tips untuk menghemat air.

“Kalau mau mandi, mending handuknya dibasahi dulu sampai kuyup, basuh badannya pake handuk basah. Nah, udah sama kaya mandi, kan? “ Oh My God !!

4. Bukan gazebo biasa..

Gazebo Gaul

Gazebo Gaul via https://www.facebook.com

Kantor resort tidak terlalu luas dan sudah cukup sesak untuk ditempati para staff. Jadi, kami yang masih berjiwa muda ini dengan ikhlas menerima kenyataan kalau kami harus tidur disini setiap malam. Berbekal dengan sleeping bag dan lotion anti nyamuk, Alhamdulillah tidur kami nyenyak setiap malam.

Ada satu kejadian yang tidak bisa kami lupakan hingga hari ini. Pada malam itu, kami masih belum bisa tidur dan memutuskan untuk mengobrol seru di ‘kamar’ kami. Tiba-tiba, ada bunyi mencurigakan datang dari bawah gazebo. Semakin lama, bunyi gaduh terdengar semakin keras hingga kami mengecilkan volume suara kami. Salah satu dari kami mengintip ke bawah, lalu berteriak pelan, “ Ada babi.” Kami langsung terdiam, pelan-pelan kami menarik sleeping bag kami dan mengambil posisi berbaring. Untuk beberapa lama, kami hanya bisa terdiam khawatir, dan akhirnya kami tertidur pulas. Besok paginya, sudah tidak ada lagi babi hutan dibawah ‘tempat tidur’ kami. Entah, apa yang babi-babi itu lakukan tadi malam.

5. Dapat teman baru..

Rombongan Ibu dan Anak Babi

Rombongan Ibu dan Anak Babi via https://www.facebook.com

Inilah penampakan babi hutan yang mungkin membuat kegaduhan dibawah “tempat tidur” kami, hihi..

6. Lihat Rusa berlalu lalang, sudah jadi kebiasaan setiap hari..

Di Teluk Brumbun, hampir setiap hari saya bisa melihat Rusa berlalu lalang di depan resort.

7. Si Putih nan jelita..

Leucopsar rothschildi

Leucopsar rothschildi via https://www.facebook.com

Namanya Leucopsar rothschildi atau sering disebut sebagai Jalak Bali. Ia merupakan spesies burung endemik yang langka sehingga perlu dilestarikan.

8. Savana, pool biodiversity...

Savana adalah tipe ekosistem di dataran rendah, atau dataran tinggi, dimana komunitasnya terdiri dari beberapa pohon yang tersebar tidak merata dan lapisan bawahnya didominasi oleh suku rumput-rumputan.

9. Pulau Menjangan dari jauh..

Pulau Menjangan

Pulau Menjangan via https://www.facebook.com

Pemandangan Pulau Menjangan di belakang kami seolah memanggil-manggil dan membuat kami ingin segera menyelesaikan penelitian. “ Besok selesai ambil data, kita main ke Pulau Menjangan ya ! Kalian bisa snorkeling sepuasnya, “ janji Pak Putu.

10. Forester itu gampang bahagia..

Ayunan di Hutan

Ayunan di Hutan via https://www.facebook.com

Kebanyakan main di hutan bikin kami jadi lebih bersyukur akan ciptaan Allah. Ketemu ranting pohon yang bisa dijadiin ayunan aja senengnya udah masyaAllah, hihi.. #IniPlesirku

11. Percayalah, cewe forester adalah calon pasangan hidup yang tepat..

Kami rimbawati

Kami rimbawati via https://www.facebook.com

Biasanya cewek forester itu tangguh, nggak manja, dan mandiri. Tingginya gunung, dalamnya lautan, teriknya matahari, derasnya hujan dan rimbunnya akar-akar mangrove aja rela diterjang. Apalagi cuma serpihan-serpihan kerikil menuju ke hati Abang? Eeeaaa..

12. Setiap sore, kami dapat hadiah..

Senja Teluk Brumbun

Senja Teluk Brumbun via https://www.facebook.com

#IniPlesirku memang tidak selalu menyenangkan, namun senja di Teluk Brumbun seolah menjadi hadiah terindah. Menatap senja, kembali ke resort, membersihkan diri, menyantap hidangan makan malam, lalu bersiap menarik sleeping bag kami. Ahhh, rutinitas yang seperti ini cuma bisa kami lakukan di Teluk Brumbun.

13. We didn't realize we were making memories, we just knew we were having fun..

Terimasih, teman !

Terimasih, teman ! via https://www.facebook.com

Pada akhirnya, saya mulai menyadari bahwa dalam sebuah perjalanan, tidak hanya koleksi foto, souvenir unik, dan kepuasan yang bisa saya kumpulkan. Rangkuman kenangan manis, cerita konyol, dan kebersamaan justru bisa jadi oleh-oleh tak terlupakan hingga hari ini. #IniPlesirku