Makna kata “berkurban” seringkali dikaitkan dengan sapi, kambing, dan unta. Padahal inti dari kata itu sendiri bermakna bahwa kita rela dan mengikhlaskan apa yang telah kita kurbankan. Benar memang jika ada gurauan bahwa seseorang telah berkurban perasaan. Gurauan tersebut bermakna implisit yang maksudnya adalah seseorang telah merelakan perasaannya demi memberikan ketenangan di hatinya. Entah itu perasaan suka, rindu, dan sayang, atau perasaan lainnya yang dikurbankan, yang terpenting dalam berkurban adalah ketulusan yang diturutsertakan di sana. Memiliki ketulusan dalam hati seseorang itu berat bagi yang tidak mengerti kebaikan-kebaikan apa saja yang akan mengikutinya setelah dia berhasil berkurban. Karena terkadang seseorang cenderung tergoda untuk membahas suatu kejadian yang telah berlalu. Lalu untuk mengetahui apakah kamu salah satu dari seseorang yang sudah berkurban masa lalu, coba intip tanda-tandanya seperti yang di bawah ini.

1. Memiliki perasaan yang netral saat mengingat peristiwa di masa lalu

Aku tidak apa-apa via http://www.kaskus.co.id

Tingkat terendah dari kepedulian seseorang adalah merasa tidak suka atau benci dengan suatu hal. Salah jika kamu berkata sudah tidak peduli dengan apa yang terjadi di masa lalu, tetapi di dalam hati masih merasa benci saat mengingatnya. Buktikan jika memang kamu sudah tidak peduli dengan apapun yang terjadi di masa lalu, maka berusahalah untuk melatih hatimu setiap hari agar mampu mati rasa. Saat tiba-tiba teringat masa lalu, jangan mempertahankan pikiran negatif yang diakibatkan dari flashback kejadian yang buruk itu. Angkat kepalamu dan katakan, “Tidak apa-apa kok, itu masa lalu”. Perlahan-lahan, kamu pasti akan terbiasa dengan sendirinya hingga pada akhirnya kamu merasa bosan jika memikirkan apa yang sudah berlalu.

2. Tidak malu saat ada yang mengungkit kesalahanmu

Biarkan orang lain berkata apa via http://businessnewsdaily.com

Malu dengan kesalahan adalah hal yang wajar saat kamu masih dibayang-bayangi dengan merasa bodoh karena kesalahan itu baru saja terjadi, sedangkan kamu sudah menyadari bahwa itu salah untuk dilakukan. Namun apabila perasaan malu itu terus-menerus dirasakan, secara tidak langsung hatimu ternyata suka menuding-nuding dirimu sendiri. Kamu tidak sadar bahwa kamu sudah menanam bibit-bibit sifat suka menyalahkan diri sendiri. Relakan kesalahanmu, akui bahwa kamu memang manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan. Ingat-ingatlah selalu bahwa orang lain bisa percaya diri kembali, maka demikian juga dengan kamu.

3. Tidak ada keinginan untuk dianggap oleh orang lain

Advertisement

Jangan mau dikasihani via http://mubi.com

Peranmu di masa lalu bukan lagi peranmu di masa sekarang. Mungkin saja keburukanmu di masa lalu tidaklah 100% buah dari kesalahanmu, bisa saja karena ada tangan orang lain yang usil saat itu. Namun hal ini sebaiknya tidak menjadikanmu sebagai drama queen/king yang merasa pantas untuk meratapi keburukan di masa lalu lantas menyalah-nyalahkan orang lain. Jika ada orang lain yang mengetahui bahwa dahulu kamu adalah orang baik yang sedang mengalami kejadian buruk sehingga kamu mendapatkan label yang buruk juga, biarkan saja. Terlena dengan anggapan kasihan dari orang lain bisa menjerumuskanmu jika kamu tidak hati-hati. Tetaplah bersikap sederhana dan jangan ada keinginan untuk menjelek-jelekkan orang lain atas apa yang sudah terjadi padamu.

4. Setiap hari berusaha membenahi diri menjadi lebih baik

Berbuat baik selalu via http://www.thebookoflife.org

Siap berkurban masa lalu, artinya kamu juga siap untuk meninggalkan sesuatu di masa lalu yang tidak perlu kamu bawa lagi sekarang. Apapun yang ada saat ini, tetaplah ceria. Sambil merangkai masa depan yang cerah, selalu perbaiki diri sendiri agar menjadi pribadi yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga lebih baik. Jangan bosan meng-upgrade diri menuju ke level yang lebih tinggi. Perbaiki hati, maka hal-hal lain akan mengikuti. Apa yang menjadi sebuah isi, maka seminimalis apapun kenampakan bungkusnya, semuanya akan tetap sedap dipandang dan tidak mengganggu penglihatan karena isinya menarik.

5. Terbuka dengan saran dan kritik orang lain

Senang menerima saran via http://www.eslgold.com

Apa yang ada di dalam hatimu, hanya kamu yang tahu, bukan orang lain. Namun apapun yang kamu tampakkan di luar, orang lain yang lebih jeli menilai. Oke, memang kamu sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik, menurut standarmu. Tapi kamu tidak mungkin bertahan hidup sendirian kan di bumi baru kamu ini? Dengarkan penilaian orang lain jika memang ada baiknya untuk kamu lakukan. Berani berkurban masa lalu berarti kamu juga siap untuk melepaskan egomu.

6. Tidak segan berbagi isi hati dan pikiran dengan orang lain

Tidak menutup diri lagi via http://vtox.amazinggrass.com

Di fase ini, kamu resmi sudah menjadi pribadi baru yang berhasil berkurban masa lalu. Kamu tidak lagi menutup diri dengan orang lain, tidak lagi malu dengan kesalahan, dan kamu dengan mudah menerima orang lain untuk menjadi bagian dari rantai persahabatan yang baru dalam hidupmu.