Merantau, merupakan sebuah istilah bagi seseorang yang memilih untuk meraih mimpi di kota orang. Hal ini bisa berupa bekerja ataupun ketika ingin menempuh pendidikan yang lebih baik. Dan tentu saja, pilihan ini bukanlah perkara yang mudah. Terdapat beberapa keuntungan, namun juga risiko jika kita salah mengambil langkah, atau sebut saja kita tidak pintar membawa diri. Karena, bisa jadi bukan sebuah kebanggaan yang akan kita bawa kembali ketika kita pulang nanti menghadap orang tua, malah sebuah kegagalan yang akan kita sesali nantinya.

Dan berdasarkan pengalaman pribadi penulis yang merantau ke Kota Jakarta selama 7 tahun, akhirnya penulis merasa telah berhasil survive untuk merantau di Jakarta, yang memang, jika perlu diingat bahwa hal tersebut bukanlah sebuah perjalanan yang mudah. Mengapa demikian? Ya tentu saja, ketika kita merantau dan memilih hidup mandiri, kita telah menentukan bahwa semua yang kita lakukan akan menjadi tanggung jawab kita sendiri, baik kini dan di masa yang akan datang.

Berikut ini adalah hal-hal yang perlu kita lakukan, jika kita memilih untuk melanjutkan studi, di kota orang.

 

1. Memilih hunian adalah langkah awalmu

Desain interior kamar kost sederhana

Desain interior kamar kost sederhana via http://tokopedia.net

Ketika memilih untuk merantau, hal utama yang perlu kita pertimbangkan adalah hunian tempat kita tinggal selama kita merantau. Kamar indekos atau rumah kontrakan bisa menjadi pilihan. Tentu dalam memilih hunian juga kembali pada kemampuan finansial masing-masing orang. Namun yang perlu diperhatikan adalah, di mana sih lingkungan tempat kita kos yang kita ambil.

Dalam hal ini, yang perlu diingat bahwa lingkungan kos memiliki peranan sangat penting terhadap keteguhan diri dalam merantau. Mengapa demikian? Karena lingkungan kos bukan tentang seberapa nyaman dan lengkapnya fasilitas yang tersedia, tapi juga tentang siapa orang-orang yang ada di sekitar kita.

Sampai di sini mungkin para pembaca sekalian sudah mulai berpikir, apakah kita harus menjadi orang yang memilih teman untuk bergaul? Jawabannya ya tentu saja. Bahkan seseorang yang berasal dari keluarga yang kuat dalam agama pun,  bisa saja terpengaruh. Ya, bisa saja. Adalah, bukan hal yang tidak mungkin kita bisa tahan terhadap godaan terhadap ajakan negatif tetangga kos kita, tapi apakah kamu sekuat itu? Tentu hanya dirimu sendiri yang bisa menjawabnya.

 

2. Berteman harus, tapi kuatkan tekadmu!

Tipe-tipe teman seperti inilah yang bakal jadi penyelamat kamu ketika kuliah

Tipe-tipe teman seperti inilah yang bakal jadi penyelamat kamu ketika kuliah via http://pedidikanindonesia.com

Syarat yang tidak kalah penting dalam merantau yaitu ingatlah, bahwa di kota itu kamu hanya seorang diri. Jadi, buatlah keluarga sebanyak-banyaknya untuk menyelamatkan diri. Karena sesungguhnya akan banyak masalah yang menantimu di depan, dan tentu kamu akan membutuhkan banyak bantuan orang lain. Hal yang bisa dilakukan yakni, cobalah mengakrabkan diri dengan tetangga kos, teman sekelas, dan juga alumni kampusmu.

Dan yang perlu kamu perhatikan adalah tujuanmu untuk datang ke kota itu untuk menuntut ilmu, mewujudkan mimpi orang tua bahwa suatu hari anaknya akan menjadi seseorang yang sukses dan mampu mengangkat derajat keluarga. Dari pengalaman penulis, banyak sekali teman penulis yang gagal menyelesaikan studinya karena telah salah memilih teman dalam bergaul. Menjadi anak kota bukan berarti harus memaksakan diri kita berbuat yang tidak-tidak bukan?

3. Bergabung di unit kegiatan mahasiswa itu menguntungkan bro!

Menwa: Organisasi Bela Negara

Menwa: Organisasi Bela Negara via http://militer.id

Hal yang sesungguhnya ingin penulis sampaikan adalah tentang poin ini. Yaitu jangan sia-siakan waktumu di kuliah hanya untuk mendengar ceramah dosen dan mengerjakan setiap tugas dan ujian yang diberikan oleh mereka. Buatlah jaringan sebanyak-banyaknya dengan ikut aktif di berbagai unit kegiatan mahasiswa maupun organisasi kemahasiswaan, tapi ingat jangan sampai kamu menjadi mahasiswa paling lama ya.

Yang perlu diperhatikan dalam poin ini adalah, jangan mencari organisasi dengan jumlah peminat cowok/ceweknya banyak ya. Tapi pilihlah organisasi atau unit kegiatan mahasiswa yang sesuai dengan minatmu, dan juga organisasi tersebut atau ukm tersebut punya potensi untuk mengembangkan softskill dan hardskillmu, dan juga memiliki jaringan alumni yang luas dan kuat. Hingga saat ini, penulis masih bersyukur karena telah tepat memilih untuk ikut ke salah satu unit kegiatan mahasiswa yang berasas bela negara di kampus, jaringan alumni yang kuat, hingga metode pendidikan dan pelatihan yang sangat baik, hingga mampu membentuk penulis menjadi pribadi yang lebih baik dalam hal manajemen, kepemimpinan, dan komunikasi.

Yang mana hal tersebut sangat berguna di dunia kerja, bahkan ketika penulis terjun dalam komunitas. Dan karena ikatan alumni pulalah, yang selalu menjadi solusi bagi penulis dalam menghadapi setiap masalah yang ada selama merantau, tapi yang perlu diingat sekali lagi bahwa studimu tetap nomor satu. Aktif di organisasi dan unit kegiatan mahasiswa sebenarnya merupakan peluang bagi kamu untuk mendapat beasiswa juga loh. Dan juga banyak kesempatan pendidikan dan pelatihan yang gratis kita dapatkan karena tergabung dalam organisasi atau ukm tersebut.

4. Uang kiriman kurang, apakah harus nyari kerja?

Kehabisan uang awal bulan

Kehabisan uang awal bulan via http://cdn.klimg.com

Sering merasa bahwa uang yang dikirim oleh orang tua tidak pernah memenuhi semua kebutuhanmu? Tenang, karena pasti bukan kamu saja yang merasa demikian. Semua mahasiswa perantau merasakan hal itu juga. Yang perlu dievaluasi dari hal ini adalah, apakah sudah tepat caramu mengelola keuangan? Apakah kamu masih berpikir bahwa orang tua memiliki pohon yang selalu dapat memberikan padamu berapapun jumlahnya?

Para mahasiswa kerap merasa bahwa uang kiriman tidak pernah cukup. Padahal seiring bertambahnya uang kiriman, maka gaya hidup mahasiswa pun juga berubah. Yang tadinya pelanggan setia warteg, terkadang berubah menjadi warung nasi padang. Yang parah, bukan sesekali malahan setiap saat. Tentu ini akan memengaruhi kestabilan keuangan mahasiswa perantau.

Lagi-lagi yang ingin penulis tekankan, dalam menempuh studi cobalah untuk mengendalikan nafsu untuk hidup mewah. Sesekali boleh, tapi kalau keterusan kasihan kartu ATM. Pasti lama-lama juga lecet.

Dari peristiwa ini, tentu akan muncul ide brilian para mahasiswa untuk mencari kerja. Dan di sini penulis ingin katakan, bahwa hindari ide itu. Karena sering penulis lihat bahwa dengan mengambil keputusan itu, maka secara tidak langsung kita sudah mencoba bermain judi, apakah pekerjaan yang akan kita korbankan ataukah kuliah.

Intinya adalah jika tidak maksimal lalu untuk apa? Kalau hasil studimu hanya pas-pasan saja, itu akan menjadi masalah ketika akan mencari kerja. Karena tentu, perusahaan pada umumnya akan melihat IPK terlebih dahulu. Keasyikan mencari uang bisa saja membuatmu mengabaikan tujuan utamamu untuk merantau.

Lalu, apakah ada cara lain untuk mendapatkan uang tambahan? Ya, setiap bulannya banyak perlombaan yang bisa kamu ikuti untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Event seperti lomba menulis, lomba blog, atau lomba apapun tentu bertebaran diadakan oleh perusahaan sebagai media promosinya. Selain itu juga, mencoba untuk mencari pekerjaan sampingan/pekerjaan lepas bisa menjadi salah satu solusi.

Nah loh apa bedanya? Kan kerja juga?

Di sini asumsinya adalah, ketika kamu bekerja pada sebuah perusahaan pada saat kuliah, maka kamu memiliki kewajiban 8 jam per hari. Belum lagi tekanan dan tanggung jawab yang diberikan. Namun jika kamu memilih untuk menjadi pekerja lepas, kamu bisa memilih atau bahkan terdapat banyak kelonggaran sehingga kamu masih dapat memaksimalkan studimu pastinya.

5. Hunting wawasan di luar kampus

Getting started with C programming

Getting started with C programming via http://gohighbrow.com

Poin yang tak kalah penting juga adalah, manfaatkan waktu selama studi untuk mengikuti berbagai macam event. Baik pelatihan, seminar, workshop bahkan kursus yang ada di luar lingkungan kampus, yang mungkin bisa didapatkan dari institusi pemerintah, komunitas, bahkan lembaga pendidikan international. Karena saat ini, paradigma yang diinginkan oleh perusahaan adalah mencari mahasiswa multitalenta. Jika perusahaan bisa mendapatkan seorang fresh graduate dengan keahlian yang tinggi, kenapa harus merekrut karyawan yang biasa-biasa saja? 

Jadi, manfaatkanlah kesempatanmu untuk terus meningkatkan potensi diri ya. Lengkapi ilmu yang didapatkan dari perkuliahan dan organisasi dengan ilmu dari institusi pendidikan internasional. Contohnya jika kamu seorang mahasiswa bidang teknologi informasi, cobalah untuk mengambil sertifikasi internasional dari Microsoft, atau Oracle bahkan Mikrotik. Karena nantinya hal tersebut akan menjadi bahan pertimbangan tambahan bagi perekrut tenaga kerja bahwa kamu adalah kandidat berkualitas.