Tentu sudah banyak yang mengetahui jika dalam tayangan televisi ada banyak upaya  untuk menggaet perhatian pemirsa dan meyakinkan mereka atas apa yang disajikan. Dalam dunia politik sendiri upaya yang sama juga menjadi titik berat supaya pemirsa memilih si calon baik itu Presiden, Gubernur sampai Anggota Dewan yang dicitrakan tegas, bersih dan berwibawa.

Bahasa gampangnya adalah pencitraan.  Ilmu Pencitraan dalam dunia akademis disebut Imagologi. Kata yang diperkenalkan novelis Milan Kundera dalam bukunya Immortality. Dilahirkan di Brno, Cekoslovakia (sekarang Ceko) sejak tahun 1975 hidup dalam pengasingan di Perancis  sebelum akhirnya mendapat kewarganegaraan Perancis pada tahun 1981.

 

1. Imagologi Adalah Output dari Perkembangan Teknologi Komunikasi dan Informasi

image.slidesharecdn.com via https://image.slidesharecdn.com

Milan Kundera merupakan orang pertama yang menggunakan istilah imagologi untuk menunjukkan kondisi di era media massa elektronik. Kundera mengilustrasikan bagaimana neneknya adalah pribadi yang tidak bisa dibodohi karena memiliki kontrol personal terhadap realitas meskipun tinggal di desa. Kundera membandingkannya neneknya dengan seorang tetangganya yang hidup di Paris dengan ritme hidup khas kota besar modern.

Kerja delapan jam sehari dengan kemacetan yang menyita waktunya, kalau kata Pak Bob Sadino "Itu Kerja Apa Dikerjain?" Dan ketika sampai di rumah langsung menonton televisi. Apapun yang disampaikan televisi terutama polling opini publik terhadap sebuah masalah akan dipercaya baik itu fakta atau rekayasa, dan sekarang televisi berkolaborasi dengan media sosial untuk mengontrol realitas, imagologi.


Reality was stronger than ideology. And it is in this sense that imagology surpassed it: imagology is stranger than reality (Kundera-Immortality)


2. Imagologi dari Tinjauan Ilmu Bahasa

Advertisement

google.co.id via https://www.google.co.id

Imagologi secara etimologis berasal dari kata imago (citra/gambar) dan logos (ilmu). Proses Kajian imagologi sangat beragam mulai dari teori tentang citra publik, bagaimana pendekatan terhadap citra publik, dan merancang citra itu sendiri. Konsep citra publiksejatinya semacam mengolah sosk dewa berwajah dua.

Di satu sisi citra dipahami sebagai komunikasi, terutama komunikasi visual atau presentasi. Pada sisi yang lain citra dianggap sebagai ‘gambar mental’ atau ide. Teoritikus Jame E. Grunig memilah perbedaan ini sebagai ‘citra artistik’ dan ‘citra psikologis’.


Citra artistik mengacu pada pengirim pesan yang merepresentasikan sesuatu. Sedangkan citra psikologis melekat pada penerima pesan, yang menginterpretasi dan memahami citra sesuai apa yang sudah diramu.


3. Mengorek Kebenaran DIbalik Imagologi

brilio.net via https://cdn.brilio.net

Citra apabila ditelaah berdasar pada pendekatan wacana kritis dipandang sebagai realitas buatan manusia yang menipu atau pseudo-reality. Seperti misalnya ada seorang jurnalis yang tidak percaya begitu saja pernyataan seorang pejabat dan berusaha untuk menemukan kebenaran dibalik pernyataan tersebut.

Terdapat pula pendekatan wacana pemasaran dalam membahas citra. Imagologi di sini lebih diartikan pada seni untuk menciptakan citra-citra yang bernilai atau ideal dimana orang akan mengikutinya tanpa mempertanyakanya dengan kritis. Insinyur citra atau dalam bahasa Kundera adalah imagologues adalah orang yang penuh keyakinan dan prinsip, ia meminta jurnalis mencerminkan sistem imagologis dari saat tertentu untuk diterbitkan atau disiarkan di media.


The imagologist is a spacemaker whose task is to create a gap where others can write. For there to be such an opening, everything must remain inconclusive. The absence of answers creates the opening of the media philosopher’s quest-ion. The only writing worth reading today is spacey. Turn on, tune in, space out.

Taylor dan Saarinen


4. Imagologi, Antara Ideologi dan Ilmu Pengetahuan

linguistikid.com via http://linguistikid.com

Secara eksplisit, Milan Kundera merumuskan Imagologi sebagai bentuk baru dari sebuah ideologi. Ideologi kini bisa dikatakan sudah usang dan gagal, ia hanya ilusi yang menutupi kenyataan atau realitas sebenarnya. Contoh yang paling sederhana adalah Ideologi Komunis. Komunis dahulu berdogma, kapitalisme akan mati dengan sendirinya karena kaum proletariat semakin miskin. Namun kenyataannya terbalik.

Buruh dan petani di Eropa kini hidup makmur dengan suplai makanan berlimpah, bahkan komunis akhirnya justru ambruk beserta ajaran – ajarannya. Realitas atau kenyataan berbicara lain. Ia membongkar kepalsuan ideologi, sebuah realitas yang semu. Ketika ideologi menjadi barang usang, kini muncul imagologi. Ia kembali mengalahkan realitas. Ideologi mengalami transformasi dan menemukan bentuknya yang baru.


Imagologi adalah “kepalsuan baru” yang saat ini mengendalikan manusia dalam setiap aspek kehidupan.


5. Imagologi Sebagai Alat Politik

www.google.co.id via https://www.google.co.id

Banyak anggapan bahwa Medialah yang bertanggung menyebarkan wabah imagologi ini. Ketika politisi terlampau terkait bersama dengan media, kompilasi antara ilmu, pengguna dan medi kini justru terkait bersama dengan yang namanya sosok imagologue. Dari Imagologue memilih seorang jurnalis bekerja berdasar pada rule of the game bagaimana proses imagologi yang sedang populer.

Dia memantau seluruh tempat dan memberi keputusan mana yang patut didukung, meski tidak bisa dipukul rata bahwasanya semua media sama saja. Tugas kita adalah sebanyak mungkin membaca sumber informasi dari sumber yang otoritatif seperti buku, karya ilmiah hingga jurnal. Supaya tidak semakin banyak orang terjebak dengan berita hoax akibat konspirasi dari penyalahgunaan imagologi.