Sebagai mahasiswa, banyak hal yang kita tunggu termasuk libur semester yang hanya dua kali dalam setahun. Tapi pernahkah kamu merasa libur itu tak terdengarkan dengan rindu yang siap melanda?

 

1. Libur panjang perkuliahan telah tiba. Terdengar mengasyikan memang, tapi entah mengapa kali ini aku berani berkata tidak.

adventure

adventure via http://www.google.com

Waktu bergulir begitu cepat dan membawa kita di penghujung semester yang sudah genap di depan mata. Ah, banyak senyum merekah di setiap wajah dengan tawanya yang sumringah. Mereka yang mendambakan kepulangan setelah lama di perantauan kota pendidikan. Aku pun. Tapi entah mengapa ada sesak yang menyelinap dalam dada.

A: "Kapan pulang?"

B: "Kamis ini. Kamu?"

A: "Mungkin di hari sabtu."

B: "Ah ya, selamat berlibur! Hati-hatilah! Sebelum kamu benar-benar pulang, jangan keluar ke mana pun. Aku tak bisa menolongmu bila kamu tersesat untuk kesekian kalinya lagi."

Ketidakmampuanku dalam mengingat jalan dengan baik, membuatmu selalu berbicara hal itu. Lelucon yang tidak lucu, namun membuatku selalu tersenyum. Kamu tidak acuh padaku. Itu perkiraanku yang entah benar tidaknya.

2. Aku masih ingat senyummu di sore itu. Sore terakhir kita bersama kota ini.

Hari sebelum kepergian, Tuhan berkenan mempertemukan dengan dalih tugas yang belum terselesaikan. Aku bersyukur setidaknya kamu saat itu ada. Aku puas memandangi wajahmu hingga sepersekian senja. Mungkin kamu tidak sadar dan mungkin jarak nanti tak akan mengganggumu. Tapi aku berani berkata tidak demikian.

Terpisahkan ratusan kilometer yang terbentang, selat yang akan segera kau seberangi cukup mengganggu kenyamanan. Daratan yang membentang dan selat itu telah siap menunggumu untuk melaluinya. Aku tahu itu. Pada akhirnya, kamu akan pergi dan meninggalkan kota ini untuk sementara waktu.

3. Kita memang hanya terikat pertemanan. Tapi entah mengapa aku merasa kehilangan.

Entahlah! Aku pun tak habis fikir pada diriku sendiri. Apakah "pertemanan" ini sebegitu membuat kehilangan? Padahal kita hanya akan berpisah dalam kurun waktu dua bulan. Aku merasa tawa-tawa kecilmu terlalu penuh mengisi setiap hariku. Ejekanmu yang sesekali membuatku kesal. Kedewasaanmu yang tak jarang menenangkan saat aku berada dalam kesulitan.

Kamu memang sederhana. Sesederhana aku merindukanmu, meski kamu bukan siapapun dan kamu mungkin tak akan bertutur seperti itu padaku.

4. Segeralah pulang! Rindu keluargamu tentu telah menunggu.

Aku akan merindukanmu

Aku akan merindukanmu via http://www.google.com

Aku cukup mengenalmu. Di atas segalanya, kamu sangat mencintai keluargamu. Kamu banyak bercerita tentang mereka yang kamu cinta, yang tinggal di pulau sana. Aku merasakan rindumu yang membuncah. Kini kamu memang harus pergi untuk mereka telah rela melepas waktu setiap harinya agar kau ada di sini. Kini saatnya kamu pulang membawa seyum merekah kepada mereka, orang yang telah berjasa membawamu di sini.

Tak lupa aku sampaikan terimakasih pada Tuhan, kepada mereka yang semoga kelak akan aku cintai juga karena telah membawamu hingga ke kota ini dan bertemu denganku.

5. Kuharap rinduku sampai dalam doa yang setiap malam kupanjatkan.

Kini kita benar-benar sudah terpisah jarak yang begitu jauh. Kuharap dirimu baik-baik di sana. Aku begitu tak mempercayaimu. Dengan kebiasaan begadangmu, kebiasaan tak memilih makananmu, aku khawatir! Tapi tentu ibumu akan menjagamu. Maka dari itu, aku menitipkan salam melaluimu. Kuharap kamu baik-baik di sana. Lepaskanlah rindu yang membuncah! 

Bukankah kita sepakat akan saling bercerita usainya? Ya, cerita yang pasti panjang. Setidaknya melepas kerinduan yang mungkin "hanya" aku yang rasakan.