Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Seperti yang aku tahu, Rasulullah pun mengajarkan kita untuk berbakti kepada ibu bahkan tiga kali sebelum selanjutnya kita harus berbakti kepada sang ayah. Jadi, aku mohon cairkan hatimu untuk tetap menuruti keinginan ibumu di atas segalanya karena alasan keinginannya, yang walaupun bertentangan dengan keinginanmu adalah yang terbaik dan untuk kebahagianmu kelak, jangan risaukan aku di sini. Aku tidak apa-apa.

 

1. Calon ibu mertuaku tersayang, izinkan saya untuk membuktikan bahwa saya adalah wanita yang tepat untuk putra tunggalmu.

ibumu menjagamu sejak kamu kecil

ibumu menjagamu sejak kamu kecil via http://24.media.tumblr.com

Aku tahu, ini bukan situasi yang mudah baik untuk diriku ataupun dirimu. Aku tahu pasti sangat berat untuk memilih salah satu antara kedua wanita yang sama-sama kau kasihi dan kau cintai di dunia ini. Tetapi, tenanglah sayang! Aku tidak akan memaksa ibumu untuk merestuiku dalam waktu yang cepat. Justru, aku akan membuktikan bahwa akulah sosok wanita terbaik yang akan mendampingi putra tunggalnya hingga akhir hayat.

Aku mohon, sebaiknya kamu memprioritaskan beliau sebagai malaikat tanpa sayap, yang selalu menjagamu sejak lahir dibandingkan aku wanita yang baru kau temui, saat kau mulai beranjak dewasa dan mengenal cinta.

2. Tolong, janganlah risaukan aku! Aku mohon tunjukkan sikap patuhmu kepada ibumu.

jangan risaukan aku

jangan risaukan aku via https://delupher.files.wordpress.com

Untuk laki-laki yang sangat aku cintai, aku tahu ini situasi yang sangat sulit untuk kita. Saat kamu harus memprioritaskan wanita yang melahirkanmu ketimbang aku yang bukan apa-apa, di satu sisi, aku bangga atas keputusanmu karena kamu telah menunjukkan sikap patuhmu. Aku bangga, kamu bisa menyenangkan hati ibumu dengan melakukan apa yang beliau inginkan.

Di sisi lain, aku sedikit terluka karena harus terpisah sementara denganmu. Aku yang selalu berusaha menjadi yang terbaik di mata ibumu, ternyata belum juga berhasil mengambil hati dan restu ibumu untuk mendampingi putra semata wayangnya yang sangat beliau sayangi.

3. Apakah aku tidak pantas untuk bersanding denganmu? Aku mengerti betapa sempurnanya dirimu dan betapa sederhananya diriku.

betapa sempurnanya dirimu

betapa sempurnanya dirimu via http://img.theepochtimes.com

Aku tahu, diriku yang sangat amat sederhana ini jauh dari kata sempurna ini hanyalah wanita biasa yang terus berusaha untuk selalu membuatmu bahagia. Parasku yang tidak cantik, aku pun tidak pantas bersanding dengan lelaki tampan sepertimu. Aku bukan berasal dari keluarga terpandang, hanya rakyat biasa yang hidup dengan segala kesederhanaan. Sementara kamu, putra tunggal kebanggaan keluarga yang patut dijaga.

4. Sempat menjadi pendampingmu adalah suatu kebanggaan. Berpisah denganmu untuk sementara waktu adalah sebuah kesengsaraan.

berpisah denganmu adalah kesengsaraan

berpisah denganmu adalah kesengsaraan via http://www.nextscientist.com

Aku sangat bahagia sempat berada di sisimu meskipun mungkin kamu malu menjadi pendampingku. Tidak ada satupun hal yang dapat dibanggakan dari diriku. Aku tahu, banyak perempuan di luar sana yang lebih segalanya dariku. Tapi aku akan memastikan dan membuktikan pada ibumu dan semua keluargamu, kalau aku adalah wanita yang memiliki rasa cinta dan sayang yang paling besar untukmu.

Saat ada wanita lain yang menawarkan kenyamanan yang lebih, aku mohon kau tetap bertahan untuk menungguku memantaskan diri untuk mendampingimu di mata ibumu. Meski aku tidak dapat menyentuhmu lagi dan harus menjauhimu untuk sementara waktu, percayalah aku akan selalu menjaga dan memantaumu dari jauh, aku akan ada di barisan terdepan saat ada seseorang yang menyakitimu.

5. Aku akan selalu berdiri dengan jarak yang sudah kita tentukan untuk sementara waktu.

Aku akan selalu berusaha kuat untuk berdiri di sini. Ya, di tempat yang sama saat kau meniggalkanku demi mematuhi perintah ibumu. Saat kau merindukanku, tengoklah ke belakang. Aku akan memelukmu erat dan selalu rela sakit untuk segala suka tawa dan kebahagiaanmu. Kau tidak perlu terlalu merisaukan perasaanku.

Aku berjanji untuk selalu berusaha memperbaiki diri dan menjadi sosok wanita yang pantas mendampingi putra tunggalmu, calon ibu mertuaku. 

6. Saat jarak dan waktu belum mengizinkan kita untuk bersama, aku akan setia menunggu ibumu merestuiku mendampingimu.

menunggu ibumu merestuiku mendampingimu kelak

menunggu ibumu merestuiku mendampingimu kelak via http://i.huffpost.com

Saat jarak dan waktu tidak mengizinkan kita bersama, aku akan selalu setia menunggumu sampai kau dapat memperpendek jarak dan menghentikan waktu agar kita dapat bersama kembali beserta restu dari ibumu. Saat ketulusan sudah berbicara, aku dapat memastikan sampai kapanpun aku tidak akan pernah membenci siapapun dan apapun atas keadaan ini.

Tidak ada setitik pun noda dendam di hatiku untukmu, calon ibu mertua yang juga aku cintai sama besarnya seperti aku mencintai putra tunggalmu. Langit dan bumi selalu menjadi saksi bahwa kamu adalah satu-satunya laki-laki yang selalu membuatku merasakan keberuntungan, dapat menikmati ciptaan Tuhan yang sangat istimewa. 

Kebahagiaan abadi yang sesungguhnya aku harap tidak terhenti, tetapi saat ini angin sedang menguji cintaku padamu. Angin sedang memerintahkanku untuk bertahan di bilikku, sementara angin tidak mengizinkanmu opergi dari istanamu. Aku yang lemah, tapi selalu berusaha menjadi sayap pelindungmu. Aku akan rela tidak terbang untuk membuatmu selalu terbang tinggi.

Tidak hanya cinta yang harus kita kejar, citamu, impianmu, citaku, impianku tidak kalah penting dari cinta kita. Berjanjilah untuk tulus menuruti perintah ibumu! Berjanjilah untuk selalu menggapai cita dan impianmu. Saat aku telah berhasil memantaskan diri untuk mendampingimu, kelak aku akan menjemputmu.

Aku akan memperjuangkan cintaku dan membuktikan bahwa aku pantas dibanggakan dan layak untuk putra tunggalmu, wanita yang kuharap kelak bersedia kupanggil "Ibu".