Sahabat, sebuah kata yang memiliki arti dalam setidaknya menurutku. Mereka yang seharusnya ada disaat aku senang maupun sedih. Mereka yang seharusnya menjadi bagian dalam hidupku. Yaah namun itu semua sepertinya hanya ada didalam benakku saja. Buktinya, justru mereka yang membentukku menjadi manusia yang tidak percaya akan arti persahabatan. Justru mereka yang membuat aku menjadi manusia yang terlalu banyak curiga.

1. Kita Berteman Sudah Cukup Lama

Sahabat Kecil via https://www.google.co.id

Kita dipertemukan saat kita masih kecil ya masih sd tepatnya. Sewaktu SD rasanya aku kau dan dia tidak terlalu dekat. Layaknya anak kecil kebanyakan, aku bermain dengan siapa saja dan kalian pun begitu. Kita juga pernah bertengkar sewaktu SD dulu, pernah sampai diem-dieman. Setelah kita lulus SD, aku dan dia masuk ke SMP Favorit Se-Jakarta dan kau masuk ke SMP Favorit se-Jakarta Pusat. Aku rasa disaat SMP inilah kita semakin dekat.

Kita mulai sering hangout bareng atau hanya sekedar bertemu dan bercerita bagaimana kehidupan di sekolah yang baru dengan teman-teman yang baru. Serasa mengasyikan bersama kalian.

2. Kalian Sudah Seperti Keluargaku

We’re Family via https://www.google.co.id

Advertisement

SMP adalah masa-masa terpurukku. Aku di bully oleh teman-teman di SMP tapi kalian menyemangati aku. Tak jarang kalian juga memarahi aku karena aku yang terlalu pasrah di bully oleh teman-teman di SMP. Walaupun begitu, kalian tetap ada disampingku. Kalian tidak pernah absen menemaniku disaat terpurukku. Kalian sudah seperti keluarga bagiku. Disaat kehidupan keluargaku yang sedang hancur, kalian datang bak seorang pahlawan yang berhasil mencuri perhatianku.

3. Semua Mulai Terasa Berubah

Sampai akhirnya kita dipenghujung SMP. Kita sudah mulai fokus untuk UN supaya mendapatkan hasil yang memuaskan dan mendapatkan SMA Favorit. Tidak salah memang bila waktu kita untuk bertemu sudah berkurang karena kesibukan itu. Tapi aku merasa seperti ada yang berubah. Aku mulai tau kalau kalian sering jalan tanpa pernah mengajakku. Dan hanya saat-saat tertentu saja kalian mengajakku. Mungkin ini hanya perasaanku saja tapi ya itu yang aku rasakan. Kalian tidak pernah mengajak aku untuk hangout lagi atau hanya sekedar bertemu dan mengobrol. Hanya di awal bulan saja kalian mengajakku jalan karena kalian tau aku mendapatkan uang jajan di awal bulan.

4. Itukah Yang Namanya Persahabatan??

Ini yang namanya sahabat? via https://www.google.co.id

Hanya sebatas itukah yang kalian sebut persahabatan? Entah apa yang kalian fikirkan, tapi kalian berubah semenjak aku tinggal dengan mamaku. Ya mama papaku berpisah sejak aku SD dan tadinya aku ikut dengan Papa. Sejak kelas 3 SMP aku ikut dengan Mama karena Papa merasa tidak sanggup membiayaiku. Namun semenjak itulah mulai terlihat siapa kalian sebenarnya. Apa persahabatan hanya sebatas materi menurut kalian?

Kalian yang tadinya kuanggap seperti keluarga tega berbuat seperti itu kepadaku? Kalian sering pergi hanya berdua saja dan mengajakku hanya jika itu awal bulan dan itupun semua aku yang bayar. Bukannya aku perhitungan dengan kalian tapi sikap kalian berbeda dengan saat aku masih tinggal dengan Papa. Apa karena kalian tau bahwa Mama aku lebih mapan dibanding Papa dan kalian pun memnfaatkan keadaan? Ini yang namanya Sahabat??

5. Aku Hanya Ingin Mengetes “Persahabatan” Yang Kalian Maksud

Aku hanya sampah via https://www.google.co.id

Hingga pada suatu saat, aku sengaja mengajak kalian duluan. Aku tidak menunggu sampai kalian mengajakku karena aku tau kalian tidak mau bertemu denganku kecuali itu awal bulan. Dan kalian pun tak pernah mau ku ajak bertemu kecuali itu awal bulan. Aku sengaja mengajak kalian bertemu di awal bulan karena aku tau pasti dipikiran kalian aku sedang ada banyak uang.

Seperti biasa kita bertemu disebuah tempat makan. Aku tidak menawari kalian untuk memesan makanan dan kalian memesan sendiri. Aku sengaja memesan makanan yang paling murah. Aku sempat lihat bagaimana ekspresi kalian saat melihat aku hanya memesan makanan yang murah tapi aku tidak bereaksi apa-apa. Kita mengobrol sambil menyantap makanan yang sudah dipesan. Sampai pada akhirnya makanan kita habis dan aku hanya diam. Aku masih ingat kata-kata yang kau ucapkan " Bayar ni makanannya." Aku hanya ingin mengetes dengan menjawab bahwa aku belum dapat uang jajan. Namun reaksi kalian tidak kusangka, Kalian marah padaku "Lo gimana sih, ga punya uang malah ngajakin jalan. Ini siapa yang mau bayar emangnya?" Aku masih ingat sekali reaksi yang kalian perlihatkan kepadaku dan sampai sekarang masih membekas. Kemudian kalian membayar HANYA makanan kalian dan kemudian kalian pergi.

6. Kalian Memanfaatkan Aku Didalam Kata “Sahabat”

Penghianat via https://www.google.co.id

Sungguh reaksi yang sangat tidak kuduga. Mungkin memang saat itu kalian sedang tidak punya uang, tapi sebagai sahabat aku rasa itu bukan reaksi yang baik dengan kalian memarahiku di tempat umum hanya karena aku tidak punya uang. Namun balik lagi, saat itu aku hanya ingin mengetes kalian. Aku hanya ingin tau apa yang aku pikirkan selama ini benar atau tidak adanya dan ternyata benar. Kalian hanya memanfaatkan aku di dalam kata sahabat. Aku memang sahabat kalian tapi hanya saat aku punya uang. Saat aku tidak punya uang, aku hanya sampah bagi kalian.

Sejak saat itu aku tau siapa kalian sebenarnya. Kalian yang kuaanggap sahabat ternyata hanya memanfaatkan aku. Aku kira adegan-adegan seperti ini hanya ada di sinetron tapi ternyata aku mengalaminya. Tau kah kalian bahwa aku hancur sehancurnya dengan tindakan kalian. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mau mengenal kalian setidaknya sampai perasaan hancur ini sudah tertata kembali.

7. Terima Kasih Untuk Kalian Yang Dulu Kusebut “Sahabat”

Tidak ada persahabatan via https://www.google.co.id

Perlakuan kalian yang dulu kusebut sahabat secara tidak kusadari membentuk aku menjadi manusia yang was-was. Aku tidak menyalahkan kalian sepenuhnya, tapi ketahuilah bahwa kalian mempunyai andil atas sifat yang kini aku miliki. Aku tumbuh menjadi manusia yang tidak percaya akan kata persahabatan. Aku tetap berteman dengan semua orang, tapi aku tidak pernah mempunyai sahabat sampai sekarang. Karena menurutku tidak ada kata sahabat. Aku tidak mau terulang untuk kedua kalinya saat aku sudah menganggap seseorang sebagai sahabat dan ternyata dia menghianatiku. Aku menjadi banyak menaruh curiga terhadap teman-temanku. Aku menjadi manusia yang pelit karena aku tidak mau dimanfaatkan lagi.

Namun dibalik itu semua, aku berterima kasih kepada kalian. Aku berterima kasih karena kalian menunjukan kepadaku bahwa ada manusia sejahat kalian di bumi ini. Kalian mengajarkanku bahwa jangan terlalu percaya kepada seseorang bahkan bila kita sudah mengenalnya cukup lama. Kalian mengajarkanku bahwa orang yang sudah aku anggap sebagai saudara bisa dengan mudahnya menyakiti. Dan kalian mengajarkanku bahwa didunia ini memang penuh sandiwara dan kita harus tetap waspada.