Tanpa banyak drama, pertemuan pertama kita adalah ketika kamu pindah ke sebelah rumahku di masa kecil dulu. Tumbuh dan meremaja bersama membuat kita akrab untuk berbagi kisah dan kesah. Seiring beranjak waktu, kita pun mendewasa  bersisian. Menjalani fase demi fase kehidupan bersama, belajar bagaimana jungkir balik kehidupan justru membuat kita semakin kuat.

Siap pasang badan satu sama lain dan tidak pernah melepaskan tangan ketika salah satu dari kita dilanda kesulitan, meski belum ada terucap ‘I’m yours, and you are mine’.

 

1. Dulu, bukankah hubungan kita baik-baik saja sebagai teman biasa?

Bukankah kita baik-baik saja?

Bukankah kita baik-baik saja? via http://www.pusatcinta.com

Merasa saling memiliki membuat kita ingin saling menjaga dan melindungi. Hubungan seperti kakak adik ini terasa cukup bagi kita. Saling menjaga, melindungi, saling mendukung dan kehadiran yang selalu ada, membuat kita mensyukuri keadaan yang ada. Aku tak pernah masalah dengan hal itu. Kamu pun tak pernah memikirkannya.

Ada di saat butuh, mendukung saat terpuruk, melengkapi saat kekurangan, sudah lebih dari segalanya bagi kita.

2. Perasaan ajaib bernama cinta itu mulai berkenalan dengan kita. Apakah tidak apa-apa?

Apakah tidak apa- apa?

Apakah tidak apa- apa? via http://moppel-pfund.com

Tak bisa dipungkiri, kanak-kanak bersama, meremaja berdua, hingga mendewasa bersisian, ada perasaan baru yang mulai berkenalan dengan kita. Kehidupan kita tak lagi berjalan seperti semula. Seperti ada jarak dan ada hal yang ingin kita jaga. Tak pernah terucap kata- kata ingin bersama, tapi ucapan- ucapan hati itu terangkai lewat sikap kita yang makin hari makin berbeda.

Apakah tidak apa- apa? Apakah ini tidak akan merusak semuanya? Aku takut membuat hubungan yang telah kita jalin sejak lama, hilang tak membekas. Jika hanya akan menjauhkan apa yang sebelumnya telah aku miliki, aku tidak mau berkenalan dengan cinta yang kamu tawarkan.

“Semua akan jauh lebih baik,” jawabmu.

3. Ketika keraguan menyusup, ada nada yang mulai bernyawa.

Boleh kan?

Boleh kan? via http://marta-club.ru

Menemanimu menjalani impian yang telah kamu raih, ada banyak rasa terselip di hatiku. Aku bangga, kamu telah memenuhi janjimu pada almarhum ayahmu. Aku senang masih bisa di sisimu sampai sekarang. Namun aku juga merasa kecil. Ketika kamu sudah meniti mimpi, sedangkan aku masih bertitel pencari kerja. Apa kita masih pantas bersisian?

“Kita bersama semenjak aku belum menjadi apa- apa. Kita bersama semenjak aku masih berangkak dan tertatih mengejar mimpiku. Pantaskah aku meninggalkanmu hanya karena status ini?” jawabmu sambil menepuk- nepuk ringan pundakku.

Ada getar yang berbeda setiap tepukan halus itu hinggap di pundakku. Ada nada sendu mengalir tak terbendung di hatiku. Tak perlu waktu yang lama, aku mulai menyadari, nada itu kini mulai bernyawa. Dan dia bernama cinta.

4. Kita mulai belajar mengucap cinta.

Entah dari mana awalnya, panggilan sehari- hari kita mulai bermetamorfosa. Panggilan- panggilan sayang mulai menghiasi percakapan kita. Kita bahkan tidak menyadari kapan persisnya kita mulai saling jatuh cinta. Kita memulai hubungan baru ini secara dewasa. Tidak lagi ada kata- kata jadian seperti kita masih ABG dulu. Mengikuti kata hati saja sudah cukup bagi kita untuk mengawalinya.

Mengatakan cinta, mengatakan rindu, mengatakan apa yang hati katakan.

5. Ada masa depan yang kamu janjikan.

Aku bukan wanita yang mudah luluh dengan janji manis dan rayuan gombal. Aku bahkan membencinya. Tapi kamu tahu dengan baik, bahwa aku adalah tipe wanita yang cepat leleh dengan janji masa depan. Ketika kamu mengingatkanku untuk terus berbakti kepada orang tuaku.

Ketika kamu memintaku untuk menggapai impian-impanku dan impian yang ditumpangkan orang tua kepadaku terlebih dahulu, aku luluh seluluh-luluhnya. Janjimu untuk bertandang ke rumahku, mengajak orang tuaku untuk ikut dalam masa depan yang kamu janjikan, membuatku meleleh seleleh-lelehnya.

“Kamu kerjanya jangan yang pakai shift, ya!”

“Kenapa?”

“Kalau shift kita bentrok, yang jagain anak kita siapa?”

 

“Nanti sebelum nikah, kita beli rumah dulu. Sehabis nikah, kita langsung pindah. Jangan ganggu Ibu lagi.”

 

Apa aku salah jika mengharapkan hal itu menjadi nyata?

6. Kamu menjadi lebih dingin daripada angin musim dingin.

Lebih dingin dari angin musim dingin

Lebih dingin dari angin musim dingin via http://www.westhoustonattorney.com

Sore itu, kamu berangkat bekerja tanpa memberi kabar padaku seperti biasanya. Ketika aku menanyakan, kamu hanya menjawab seadanya. Pertanyaan-pertanyaanku kamu jawab sekadarnya, bahkan tidak jarang kamu abaikan. Seharian penuh, kamu tidak lagi menanyakan bagaimana kabarku. Jujur saja aku bagai kehilangan arah.

Dua hari berlalu, kamu tidak lagi berkirim kabar. Aku pun seperti makhluk tak terlihat bagimu saat aku mengunjungi rumahmu. Aku yang sudah sangat- sangat terbiasa dengan kehadiranmu, merasa tak percaya kamu menjadi begitu dingin. Kamu yang biasanya lebih hangat dari mentari musim semi, kini menjadi lebih dingin daripada angin musim dingin.

7. Apa salahku? Haruskah menghindar seperti ini?

Haruskah kamu menjauh?

Haruskah kamu menjauh? via http://previews.123rf.com

Berhari- hari hari berlalu, kamu seperti sengaja menghindariku. Tidak pernah menatap ke arahku ketika bertemu, tidak membaca pesan- pesanku sementara kamu mengganti-ganti foto profilmu. Aku terpaku saat kamu membalas pesan orang lain saat aku duduk di sebelahmu, sementara kamu tidak membaca pesan yang sudah aku kirim dari berhari hari yang lalu.

8. Aku tahu sebanyak apa porsiku. Aku tak mengambil lebih dari yang kamu tawarkan.

Aku tak pernah mengharap lebih dari yang kamu beri

Aku tak pernah mengharap lebih dari yang kamu beri via http://www.haiineola.com

Aku tahu dengan sangat baik, sebanyak apa porsiku dalam kehidupanmu. Selama ini, aku tidak pernah mengambil lebih daripada yang kamu tawarkan. Aku hanya menerima bagianku sebanyak yang kamu berikan. Ketika kamu tidak memberikannya lagi, salah aku jika aku meminta porsiku? Salahkah aku jika menganggap porsi itu adalah milikku?