Masihkah kau ingat, saat awal aku dan kamu menjadi kita. Bermula dari hal yang tak pernah ku kira. Kau bercanda. Aku tertawa. Kau ucap cinta, aku pun meng-iya. Saat kau kirim puisi pertama, tergagap aku membacanya. Ah, ternyata kau serius adanya.

Waktu berlalu begitu cepatnya. Putih abu-abu telah habis masanya. Status siswa telah berubah menjadi Maha-siswa. Kita tinggalkan kota kecil kenangan kita menuju Yogyakarta, sang kota pelajar di tanah Jawa.

 

1. Tahun pertama, sikapmu masih semanis biasanya...

meski sibuk, masih kudengar kabar darimu.

meski sibuk, masih kudengar kabar darimu. via https://drjenna.files.wordpress.com

Universitas berbeda, jurusan yang berbeda, dan tentunya kesibukan yang berbeda pula membuat kita lupa pada sepenggal kata. Pertemuan. Ya, meskipun berada dalam satu kota yang sama, jarang sekali kita bisa saling bertemu, sekedar tuk bicara bertatap muka.

Namun, kita pastikan komunikasi kita tetap terjaga, walau hanya via suara atau sekedar lewat kata-kata pada layar kecil si smartphone mungil kita. Nada rindu, canda-tawa selalu hadir menghias rasa di setiap kali kita bersua..

2. Lambat laun kau mulai menjauh, mengeyampingkanku dengan berbagai alasanmu

Kutunggu kabarmu di sela rinduku

Kutunggu kabarmu di sela rinduku via http://www.theatlantic.com

Selang waktu berlalu. Aku mulai merasa hubungan kita semakin jauh. Sudah jarang kudengar kabar darimu. Apakah kau telah menemukan "dia" yang baru ?

Ah, kubuang jauh-jauh pikiran itu. Tak mungkin kamu yang begitu menyayangiku, dapat berpaling secepat waktu. Bukankah kita pernah berjanji untuk saling menyatu ? dalam ikatan yang satu. Tak ingin aku terus meragu.

Namun, perlakuanmu perlahan menjawab tanya dalam benakku. Tak jarang pesan dariku hanya kau read tanpa si reply yang kutunggu-tunggu. Alih-alih menunggu telpon darimu. Bahkan panggilan telponku tak mampu menggapai keberadaanmu.

Haruskah ku sambangi kediamanmu ? Ketika ajakanku untuk saling bertemu, sering kau tolak dengan alasan klasikmu, teman. Ya, kau selalu punya janji dengan teman-temanmu.

Hai kamu, apa aku terlalu banyak menuntut ? Bukankah jarang kita jalan berdua ?

Well, ok lah, tidak masalah bagiku, karena janji memang harus ditepati, bukan ?

Tapi apakah wajar saat kau batalkan janji pertemuan kita demi ajakan temanmu berikutnya ? Hei kamu, ini bukan sekali-dua kali kau begitu.

3. Hubungan kita tetap berjalan, layaknya grafik pertumbuhan bakteri pada fase stationary, datar membahayakan.

Sad Girl Alone

Sad Girl Alone via http://hdwpics.com

Aku yang kau abaikan, tetap bertahan dalam jalinan cinta yang menghambar. Kukuatkan hatiku untuk bersabar. Marah ? Tidak. Aku malas berdebat urat, lebih baik kubiarkan.  Masih ingat terakhir kita hampir berseteru kata ? Kala itu aku mengingatkanmu pada norma. Katamu, itu karna terpaksa dan kritikku membuat kau tak terima.

Kadang seringku bertanya, "Ada masalah kah dengan kita ?"

Ya, terus kucoba membuka ruang untukmu. Untukmu bercerita. Untukmu berkeluh kesah. Jika saja kau jenuh, bisa kau katakan terus terang padaku. Jika kau lelah, aku rela kita berhenti melangkah.

Namun, sikapmu yang keras kepala membuatku lelah tuk mencoba. Hingga kuputuskan membiarkanmu semaumu saja. Apalah daya ? Lagipula, aku hanyalah kekasih yang tak mau kau ungkap keberadaannya pada teman selain SMA.

4. Sampai akhirnya, kau mengajakku bertemu pada malam itu...

Broken hearted girl

Broken hearted girl via http://abstract.desktopnexus.com

Tiada angin, tiada hujan, kau hubungi aku sore itu. Setelah beberapa kali janji bertemu kita harus tertunda, kau mengajakku makan malam bersama. Ada yang mengganjal perasaanku. Tapi Bah, terserahlah. Rinduku mengalahkan intuisi otakku. Sungguh, kau obat yang selalu ku nanti di tiap hari-hariku.

Melihat wajahmu, sudah mampu menenangkan perasaanku. Senyummu yang dulu selalu membuatku jatuh cinta, masih terlihat di wajah teduh itu. Diam. Bicara. Diam. Kau tampak gelisah. Kutanya kenapa, kau tersenyum penuh makna. Aneh, kulahap lagi makananku. Satu jam berlalu. waktu terus berjalan. konstan. Waktunya pulang. 

Kuraih tas kecilku. Kau membuka mulutmu.

"Pulang ?," tanyamu.

"Ya," jawabku."Kenapa ?"

"Aku ingin bicara," ucapmu, gugup.

Ah, aku kenal situasi ini. "Apa waktunya telah tiba ?," tanya benakku. Benar saja. Putus yang kau minta !

5. Namun, jujur saja. Sungguh sangat kusayangkan pilihanmu tuk menyembunyikan hal yang terjadi sebenarnya bahkan hingga akhir hubungan kita...

Alone Girl

Alone Girl via http://hdwpics.com

Lima bulan telah berlalu sejak pertemuan terakhir kita malam itu. Pesan yang kau kirim padaku, telah terabaikan olehku. Ya, awal perpisahan kita, masih sering kau hubungi aku. Dengan dalih pertemanan, kamu hampiri cinta lamamu. 

Hai kamu, bukannya aku tak ingin berteman denganmu. Kau sahabat terbaikku, jauh sebelum kita mencinta. Memang, hubungan cinta kita menoreh luka. Namun tak akan kupungkiri, cerita ribuan harian itu juga memberikan tawa dan sukacita.

Hanya saja, ada yang lebih dari sekedar sakitnya patah hati. Yang mungkin belum juga kau mengerti.

Yeah, I can accept all reasons you broke up with me. But, I really can not tolerate any kind of lies.

Kau lupa, karakter sahabat lamamu ini. Aku diam, bukan berarti aku tak tau apa-apa. Jujur, seharusnya kau katakan saja yang sebenarnya. Bukankah sudah ku bilang sebelumnya?

Ah, bukan hanya sekedar kau jadikan back up plan-mu saja, tapi juga kau dustai aku rupanya.