Pengacara merupakan salah satu penegak keadilan di samping hakim, jaksa, dan polisi. Mengemban tugas untuk memberikan pendampingan hukum bagi klien yang membutuhkan serta membelanya di pengadilan untuk memenangkan perkara agar dibebaskan atas kasus yang menjeratnya atau mengurangi hukuman yang diberikan kepada sang klien. 

Mendengar kata pengacara, pastinya yang pertama kali terlintas di benak khalayak ramai adalah jas yang sedemikian mahal, mobil sport terbaru, dikelilingi perempuan-perempuan cantik, dan sebagainya. Anggapan tersebut benar adanya karena wajah segelintir pengacara di bumi pertiwi berkehidupan seperti itu. Hal inilah yang menjadi pendorong anak-anak muda untuk berbondong-bondong menimba ilmu di fakultas hukum demi merengkuh kehidupan layaknya seorang pengacara. Sehingga tujuan sakral dari fakultas hukum itu terpelintir dengan sendirinya, ingin menghadirkan lulusan yang memberikan keadilan pada masyarakat malah menjadi ajang memupuk kekayaan pribadi. 

Indonesia tidak pernah kehilangan cahaya di tengah gelapnya khatulistiwa, buktinya masih banyak orang-orang berintegritas yang patut diteladani sepak terjangnya dalam mengemban tugas. Sektor kepolisian terdapat Hoegeng, sekor kejaksaan terdapat Baharuddin Lopa, dan sektor pengacara terdapat Yap Thiam Hien. Berikut serangkaian sepak terjang Yap Thiam Hien yang dapat menginspirasi kalian untuk memurnikan tujuan menjadi seorang pengacara.

1. Membela seseorang tanpa pandang bulu

Sebagai seorang pengacara, Yap Thiam Hien tidak pernah melihat seseorang dari seberapa tebal dompet yang dimiliki klien, membela secara pro bono (gratis) pun akan diladeni beliau. Hal tersebut tidak dipermasalahkan oleh beliau karena menurutnya keadilan merupakan hak setiap manusia. Suatu waktu beliau pun pernah menjadi pengacara seorang tukang botol kecap di pasar baru yang dianiaya atas perbuatan yang sebetulnya tidak dia lakukan. Hal lain pun pernah ia lakukan dengan membela lawan politiknya, Soebandrio, mantan menteri luar negeri era Orde Lama. Di saat semua pengacara tidak ada yang menyanggupi menjadi pembela Soebandrio, seorang Yap Thiam Hien memberanikan diri untuk menerima tawaran menjadi pembelanya.

2. Tidak mengutamakan kemenangan klien

Kantor hukum Yap Thiam Hien hanya menerapkan tarif pengacara, lima sampai dengan sepuluh juta. Berbanding terbalik dengan kantor hukum pada masa itu yang menerapkan tarif dengan sangat tinggi, antara empat puluh sampai dengan lima puluh juta. Beliau tidak pernah bertujuan memenangkan klien, namun memberikan keadilan serta mengungkapkan kebenaran yang tertutupi di muka pengadilan. Beliau dikenal sebagai sosok yang berapi-api dalam beracara, tak jarang beliau menumpahkan kemurkaannya kepada calon klien. Hal ini tak ayal dilakukan karena beliau ingin mengorek kebenaran terlebih dahulu atas keterangan klien, agar tidak ada kebohongan dalam keterangan klien yang justru akan mejatuhkannya di pengadilan.

3. Profesionalitas mengesampingkan sentimen pribadi

Advertisement

Kemanfaatan via http://suarakeadilan.org

Yap Thiam Hien ialah seorang minoritas, ia tionghoa, beragama kristen, dan jujur. Hal yang disebut terakhir ini dapat diteladani oleh semua orang tanpa melihat suku, agama, ras, dan sebagainya. Namun, keminoritasannya diuji saat membela Rachmat Basoeki. Tersangka kasus pengeboman Bank BCA pada 4 Oktober 1984. Rachmat Basoeki dikenal sebagai seorang anticina. Dia yang menyarankan Tashrif dan teman-temannya untuk melakukan pengeboman terhadap Bank BCA yang dianggapnya sebagai simbol kekuasaan bangsa Cina di Indonesia. Yap Thiam Hien tanpa berlama-lama bersedia menjadi penasihat hukum Rachmat Basoeki. Hal tersebut membuahkan hasil pengadilan yang memvonis Rahmat Basoeki tujuh belas tahun penjara, lebih ringan dibanding tuntutan jaksa yakni hukuman mati. 

Hal inilah yang menarik perhatian, Yap Thiam Hien tidak segan-segan membela Rachmat Basoeki yang anticina. Pembelaan beliau menandakan keadilan dan kebenaran sangat penting dibanding sentimen pribadi. Di akhir hayatnya, Rachmat Basoeki pun menyadari tidak semua orang tionghoa itu buruk.

4. Tanpa kompromi menyatakan kebenaran

Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) merupakan salah satu organisasi yang di masuki Yap Thiam Hien. Organisasi ini didirikan oleh beberapa keturunan Cina untuk mengintegrasikan keturunan Cina ke dalam Republik Indonesia. Organisasi yang diketuai oleh Siaw Giok Tjhan ini pun tak luput dari auman, Yap Thiam Hien, sang singa pengadilan. Beliau mengritik keras Baperki atas dukungannya terhadap manifesto politik Bung Karno, yang menyatakan kembali pada UUD 1945. Yap Thiam Hien bersikeras menolak karena minimnya pasal tentang hak asasi manusia yang dikhawatirkan timbulnya diskrimanasi masif. Contohnya, pada saat itu UUD 1945 masih memuat pasal 6 tentang ketentuan presiden harus orang Indonesia asli. Perbuatan Yap Thiam Hien yang tanpa kompromi ini menyebabkan dirinya tersingkir dari Baperki.

5. Ketegasan tidak luntur walaupun terhadap keluarga

Tidak pernah tawar menawar terhadap kesalahan, hal ini patut disematkan kepada seorang Yap Thiam Hien. Beliau tidak pernah sekalipun memberi ampun terhadap kesalahan, sekalipun ada anggota keluarga yang tersandung masalah. Suatu waktu Yap Hong Gie, putra sulung beliau, membawa mobil beliau tanpa izin. Yap Hong Gie remaja pun tak sengaja menabrak seorang bocah di kawasan Grogol, Jakarta Barat. Mobil beliau diamuk massa dan dibuang ke kali, sedangkan untung baginya tidak terkena amukan massa melainkan langsung dibawa ke pos polisi terdekat. Yap Thiam Hien pun langsung menjemput Hong Gie, namun bukannya mendapatkan pelukan dan pembelaan kepada sang anak, beliau membawanya ke Kepolisian Sektor Palmerah, Jakarta Barat. Dikutip dari Tempo "Kamu harus mengaku bersalah" ujar Yap Thiam Hien. "Bila mau dihukum ringan, coba minta ke hakim di persidangan".

6. Penutup

Demikian sekelumit kisah sang bahadur, semoga para mahasiswa fakultas hukum setelah menamatkan pendidikannya dapat memberikan keadilan kepada yang berhak layaknya Yap Thiam Hien. Sepenggal kata-kata bijak dari beliau yang semestinya terpatri kepada seluruh advokat.


"Jika Saudara hendak menang perkara, jangan pilih saya sebagai pengacara Anda, karena kita pasti akan kalah. Tapi, jika Saudara cukup dan puas mengemukakan kebenaran Saudara, saya mau menjadi pembela Saudara"