"Kenapa orang dewasa boleh tidur larut malam sedangkan anak-anak tidak boleh?"
"Kenapa kupu-kupu suka bunga?"
"Kenapa orang suka minum kopi yang rasanya pahit?"

Biasanya anak yang dapat berpikir kritis memang tidak percaya begitu saja pada sebuah informasi yang diterimanya. Terlebih lagi apabila sumber dari informasi tersebut belum diketahui benar oleh Anak. 

Sebab, anak yang berpikir kritis mempunyai kecenderungan untuk mencari kejelasan atas suatu sumber informasi atau pendapat. Jika perlu, mereka pun mencari-cari bukti yang bisa menunjukkan keakuratan dan ketepan inmformasi yang mereka peroleh.

Jadi, buah hati juga memiliki sikap analitis, yaitu penyelidikan terhadap suatu peristiwa yang bertujuan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Anak yang berpikir kritis juga mempunyai kemampuan problem solving yang merupakan kemampuan yang dimiliki anak dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

Perlu diketahui bahwa pemikiran kritis anak-anak berbeda dengan orang dewasa, tentang isi dan kompleksitasnya. Nah, untuk bisa mengembangkan kemampuan berpikir pada anak, kita bisa melakukan beberapa hal berikut.

 

 

1. Mengajak anak untuk berandai-andai.

Anak berandai-andai

Anak berandai-andai via http://www.hetanews.com

Kita bisa mengarahkan anak untuk mengandaikan peristiwa yang mungkin terjadi meskipun belum pernah mereka alami. Misalnya saja, anak diminta untuk membayangkan seandainya tidak ada pohon dan air, apa yang akan terjadi dan sebagainya.

Hal ini akan merangsang otak anak untuk berpikir detail tentang permasalahan dan merangsang kreatifitasnya untuk mencari solusi. Dan kedepannya di masa pertumbuhannya, anak cenderung lebih suka melakukan penelitian ilmiah dan menuliskan hasil karyanya. Disisi lain, dia akan lebih mudah menceritakan sesuatu secara lisan dan tulisan.

2. Mengajak anak untuk belajar menemukan kesalahan.

Anak menyusun puzzle

Anak menyusun puzzle via http://1.bp.blogspot.com

Misalnya saja kita menyodorkan gambar yang kurang lengkap kepada anak, dan menanyakan apa yang salah dengan gambar tersebut dan bagaimana seharusnya yang tepat.

Ini akan menstimulasi otak anak secara otomatis mengamati sekitar lingkungannya. Apa yang kurang dan apa yang harus diperbaiki. Anak juga trlatih untuk melakukan problem solving.

3. Mengarahkan anak untuk melengkapi cerita yang kurang.

Anak menulis cerita

Anak menulis cerita via http://www.pendidikankarakter.com

Berikanlah anak sebuah cerita yang belum lengkap, kemudian mintalah anak untuk menemukan bagian cerita yang tidak lengkap atau hilang tersebut.

Daya imajinatif anak akan berkembang seiring dengan pertambahan usianya. Untuk membekali anak dengan imajinasi yang out of the box, cara ini bisa dilakukan di waktu luang anda untuk menemani anak bermain.

4. Membiarkan anak bermain di luar rumah dengan teman sebayanya.

Anak bermain

Anak bermain via http://cdn-2.tstatic.net

Bermain di luar rumah dengan teman-teman sebaya, atau mendatangi taman bunga, museum atau melihat pameran automotif, akan membuat anak lebih kritis terhadap apa yang mereka lihat. “Sifat kritis itu sangat penting bagi anak-anak.

Jika mereka kritis bertanya, itu salah satu petunjuk kalau anak memiliki mental yang cukup baik,” ungkap Hasmi. Senada dengan Hasmi, hasil penelitian yang dilakukan di Universitas Minnesota, AS, Dr Paul Torrance membuktikan semua anak mampu menerima rangsangan yang diberikan guru ataupun orangtua dengan baik.

5. Ajaklah anak bepergian.

Anak Bepergian

Anak Bepergian via https://www.klm.com

Terserah Anda mau menamakannya apa. Apakah Hari Bertualang (biar kesannya seru) atau cukup Hari Jalan-jalan. Pada hari itu, saatnya keluar dari kegiatan rutin dan tempat-tempat yang selalu dikunjungi.

Bawalah anak-anak ke suatu tempat baru yang bisa membuka pikiran dan mengasah imajinasi mereka. Bisa dengan pergi ke museum, ke taman, atau ke gunung.

Usahakan untuk mengajak mereka berkunjung ke tempat-tempat baru sesering mungkin. Libatkan anak dengan bertanya, tempat seperti apa yang ingin mereka kunjungi. Atau, tanyakan padanya apa yang sedang dipelajari di sekolah dan ajaklah ke tempat yang berhubungan dengan pelajarannya itu.