Masalah keuangan merupakan masalah sebagian besar orang. Mulai dari anak muda sampai orang tua, mulai dari karyawan hingga pemilik usaha, mulai dari golongan berpendapatan rata-rata hingga golongan berpendapatan tinggi. Sebagian besar orang tidak dapat lepas dari masalah keuangan. Banyak uang belum tentu tidak banyak hutang, tidak punya uang sudah dipastikan hidup akan sangat sulit. Maka dari itu sangat menarik memami bagaimana mengatur keuangan agar tidak menjadi masalah. Dalam sebuah perjalanan, tanpa sengaja saya menemukan bagaimana memahami pengelolaan keuangan pribadi dengan baik.

Terkenang bulan Januari yang lalu, ketika saya berada negeri Gajah Putih, Thailand. Kala itu saya tiba di Don Muang International airport setelah selama kurang lebih empat jam berada dalam perjalanan dari Bali bersama sebuah maskapai yang memberi saya tiket promo atau tiket penerbangan yang murah.

 

1. Memilih transportasi yang murah

Di Dalam Skytrain di Bangkok

Di Dalam Skytrain di Bangkok via http://previews.123rf.com

Setibanya saya di negeri itu, saya memilih transportasi yang murah yakni naik bus dari Don Muaeng International Airport menuju Mo Chit Skytrain seharga 30 Bath atau kalau dirupiahkan kurang lebih senilai 12.000 dengan kurs 400 Rupiah per Bath. Sampai di Mo Chit saya membeli tiket skytrain One Day Pass seharga 140 Bath atau kurang lebih 56.000. Dengan tiket skytrain One Day Pass tersebut saya bisa menelusuri banyak tempat di negeri ini, tentu dengan harga yang murah. Namum sebelum berpetualang di negeri itu, saya terlebih dahulu menuju tempat tinggal sementara saya di Sukhumvit, tepatnya di antara Stasiun Asok dan Stasiun Nana, tempat yang terkenal dengan hingar bingar kehidupan malamnya.

2. Tinggal di tempat yang strategis

Tempat Yang Strategis Di Bangkok

Tempat Yang Strategis Di Bangkok via https://aws-dist.brta.in

Namum sebelum berpetualang di negeri itu, saya terlebih dahulu menuju tempat tinggal sementara saya di Sukhumvit, tepatnya di antara Stasiun Asok dan Stasiun Nana, tempat yang terkenal dengan hingar bingar kehidupan malamnya. Saya memilih tinggal di sebuah hostel yang terletak di antara Stasiun Asok dan Stasiun Nana bukan karena di sana ada Nana Plaza dan Soi Cowboy, daerah lampu merah yang sangat populer di negeri itu, melainkan karena di tempat itu sangat banyak tersebar pedagang makanan dan buah-buahan, serta dekat dengan stasiun skytrain.

3. Pilih tempat tinggal yang murah namun tetap nyaman

Hostel Murah Dengan Rating Baik Di Agoda

Hostel Murah Dengan Rating Baik Di Agoda via https://pix6.agoda.net

Saya pun memilih sebuah hostel yang cukup murah seharga 250 Bath permalam atau kalau dirupiahkan sekitar 100.000 rupiah permalam. Meskipun murah tetapi soal kualitas luar biasa baik, tidak salah Agoda memberi rating sangat tinggi untuk hostel tersebut. Kebersihannya begitu yang terjaga, fasilitasnya yang lengkap, mulai dari library, home theater, bar, kitchen, loundry, wifi dan pelayanan yang baik membuat hostel tersebut diminati oleh para backpacker asal Amerika, Eropa dan Asia. Soal keamanan pun luar biasa baik, tidak semua orang dapat masuk ke Hostel ini tanpa membawa card key. Saya rasa ini hostel terbaik yang ada di negeri ini.

4. Save habitually, manage wisely, share generously

Esok harinya saya pun bergegas menuju sebuah hotel bintang empat untuk bersilaturahmi sekaligus menghadiri sebuah konferensi. Dalam konferensi tersebut, saya mendengar presentasi tentang financial literacy dari salah seorang pakar financial literacy asal National Institute of Education, Singapore. Sungguh, saat itu saya sampai merinding mendengar key-note speech Beliau. Penyampaiannya yang luar biasa dan esensinya yang menakjubkan membuat saya tidak hilang perhatian walau sedetik. Beliau menyampaikan financial literacy selalu menekankan pada "SMS" yakni Save Habitually, Manage Wisely, Share Generously. Dalam hati saya berfikir bahwa sesungguhnya apa yang saya lakukan sesungguhnya sudah memenuhi kaidah-kaidah yang Beliau sampaikan, namun baru kali ini saya dapat memahaminya secara sistematis.

5. Evaluasi diri

Terakhir Beliau menyampaikan, financial literacy itu tidak tentang seberapa banyak anda mendapatkan uang tetapi seberapa banyak anda belajar menabung, memanajemen dan berbagi. Dengan memilih transportasi murah saya sesungguhnya sudah memiliki perilaku menabung. Dengan memilih lokasi tinggal yang strategis sesungguhnya saya sudah memanajemen dengan bijaksana. Dengan tinggal di hostel sekamar berenam saya sesungguhnya sudah berbagi. Akhirnya saya pun lebih dapat memahami diri saya sendiri. “Smart money It's not about how much you earn, but about what you learn. It's about value." Pesan terakhir dari Ibu Prof. Dr. Koh Noi Keng, National Institute of Education, Singapore.