Membalas tulisan mbak Neneng Pratiwi tentang ibu, saya juga ingin menulis perasaan saya untuk Ayah.

 

1. Jika cinta ibu menyejukkan, maka kasih sayang seorang ayah menguatkan

like father like son or like father like daughter?

like father like son or like father like daughter? via https://www.google.co.id

Entah sudah kodratnya atau hanya faktor psikologis saya saja yang mengatakan bahwa kebanyakan anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya dan anak lelaki lebih dekat dengan ibunya. Tetapi yang terjadi di lapangan (rumah tangga) memang seperti itu, termasuk yang saya alami. Jika Iwan Fals menciptakan lagu untuk “ibu” atau Melly Goeslaw mengungkapkannya lewat lagu “Bunda” untuk bidadari dunia kita, maka  Rinto Harahap juga tak kalah dalam mencurahkan isi hatinya lewat lagu “Ayah” yang banyak direcycle ulang oleh band-band sekarang seperti Peterpan (sekarang Noah) bahkan Ebiet G. Ade justru lebih frontal dalam memberikan judul di salah satu lagu masterpiece-nya “Titip Rindu Buat Ayah”  untuk malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjaga kita itu. 

2. Kelak, akupun belum tentu sehebat Ayah

wish I'll be as great as you

wish I'll be as great as you via https://www.google.co.id

Ayah, tak banyak yang kita bicarakan memang. Entah saat bertatap muka atau hanya sekedar telpon dan saling balas pesan sms. Hubunganmu denganku memang tak sehangat hubungan ibu denganku. Saat aku ingin melakukan apapun aku selalu bilang pada ibu. Saat ingin sesuatu pun aku hanya bilang pada ibu. Akupun juga tidak tahu kenapa hal itu terjadi dan sudah menjadi kebiasaan. Dalam urusan remeh temehku aku selalu katakana pada ibu, tidak untuk Ayah. Walaupun sebenarnya dalam urusan-urusan besar Ayah selalu dilibatkan. Mungkin karena kita sama-sama lelaki yang memiliki ego yang sama.

3. Terkadang kita berbeda pandangan akan suatu hal

namun ayah selalu bersikap demokratis tanpa memaksakan kehendak pada tiap anggota keluarganya

namun ayah selalu bersikap demokratis tanpa memaksakan kehendak pada tiap anggota keluarganya via https://www.google.co.id

Ayah, maafkan anakmu jika kau merasa diperlakukan tak adil. Walau kau sejatinya sudah memaklumi apa yang terjadi diantara kita. Mungkin karena sifat keras Ayah dan rasa segan dan hormatku yang berlebihan yang justru memberikan jarak diantara hubungan kita. Sering sekali saat aku menelpon ke rumah dan ayah yang mengangkat telponnya ucapan spontan yang keluar dari mulutku adalah “ibu ada?” atau “mana ibu, yah?” atau bahkan Ayah sudah tahu jika aku menelpon maka hanya ingin bicara dengan ibu dengan mengangkat telpon dan langsung menjawab “ibu lagi pengajian, ada apa?” entah bagaimana perasaan Ayah saat itu.

4. Aku tahu, kita saling mendoakan dalam diam

percayalah dalam hening sepi aku rindu Ayah

percayalah dalam hening sepi aku rindu Ayah via https://www.google.co.id

Ayah memang tak banyak bicara namun sangat tegas dalam tindakan. Sikap dingin itu justru yang menonjolkan Ayah sebagai kepala keluarga. Wibawa Ayah juga yang menuntut untuk dihargai dan dihormati tak hanya oleh orang lain namun juga oleh anak-anaknya. Selain itu semua aku sadar kalau kasih sayang Ayah juga sangatlah besar walau tak semuanya dicurahkan lewat perhatian layaknya ibu. Aku tahu saat semua terlelap dalam tengah malam ayah selalu berdoa untuk keluarga dan kesuksesan anak-anaknya. 

5. Dalam suatu hal kita masih menjadi "Boys"

boys always be boys with his toys

boys always be boys with his toys via https://www.google.co.id

Hal yang paling kaku itu saat kita memulai obrolan yang hanya akan diisi oleh dua atau tiga kali konversasi lalu selesai. Namun bukannya kita tak punya bahan perbincangan, justru saat kita sudah menemukan topik perbincangan yang cocok kita akan lupa kalau kita sudah ngobrol ngalor-ngidul.

Waktu paling tepat saat kita berkomunikasi adalah saat kita membicarakan hobi yang sama. Ya, saat itulah aku dan Ayah sering berbicara panjang lebar atau menghabiskan pulsa untuk saling tukar pendapat atau meminta saran, seperti “harga burung love bird disana berapa? Kalau kenari?. Disini harganya lagi anget nih. Kamu gak mau pulang? bawa berapa ekor gitu,  kamu ada uang? Ayah transfer atau tak ganti disini” atau saat aku yang memulainya dengan “batu ruby-nya ditawar temen Yah, kasih gak nih? Ditawar mahal lho, Bla bla bla.” Disaat itu kedekatan kita terasa.

6. Ayah, untuk semua hal Aku ucapkan banyak terima kasih

maafkan anakmu yang belum bisa membanggakanmu

maafkan anakmu yang belum bisa membanggakanmu via https://www.facebook.com

Ayah, walau aku tak banyak bicara denganmu dan jarang memberikanmu perhatian namun percayalah dalam hening sepi  aku sayang dan rindu Ayah. Ayah yang saat dulu ingin mendaftarkanku ke sekolah dasar favorit ditolak kepala sekolahnya hanya karena mengendarai sepeda ontel usang. Atau Ayah yang dulu saat memboncengku di belakang dan mengantarkanku ke sekolah dengan motor BMW (Bebek Merah Warnanya) tahun 70an dan sering telat karena sering mogok di tengah jalan lalu Ayah masih harus membuka busi lalu membakarnya agar bisa nyala kembali.

Ayah, maafkan sikap anakmu dan doakan anakmu cepat lulus lalu sukses.

~Dari anakmu di pulau seberang. I am proud to be your son.