Teluk Benoa akan direklamasi seluas 838 hektar demi megaproyek milik PT. Tirta Wahana Bali International (PT. TWBI). Penolakan pun terjadi oleh banyak elemen masyarakat Bali, mulai dari Desa Adat, Banjar Adat, Sekaa Teruna Teruni (STT), Artis, Seniman, Mahasiswa, Pecinta Alam, dan banyak lagi yang tergabung dalam Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI). Bisa dibilang sebagian besar masyarakat Bali menolak Reklamasi Teluk Benoa ini. Berbagai aksi pun telah dilakukan, seperti aksi damai di depan kantor Gubernur, aksi damai di Teluk Benoa, aksi Parade Budaya dan Seni, dan banyak lainnya. Namun hal ini belum mendapat respon dari pemerintah daerah dan pusat yang seolah-olah tutup mata dan telinga. Disini saya akan memaparkan beberapa dampak yang terjadi, jika kurang paham anda bisa membaca lebih lengkapnya http://www.forbali.org

Hai kalian ! Iya kalian yang ngaku cinta Bali dan sering liburan di Bali, maukah kalian menolong kami juga? Saudara sebangsamu ?

 

1. Jika reklamasi tetap terjadi, kawasan Bali Selatan akan lebih mudah terkena banjir. Jakarta semacam pindah ke Bali

Foto Banjir DPS

Foto Banjir DPS via http://bali.tribunnews.com

Teluk Benoa merupakan muara bagi sungai-sungai di Bali Selatan. Jika muara ini sudah tidak ada karena reklamasi, maka bersiaplah terkena banjir besar di pulau dewata Bali ini.

2. Hilangnya paru-paru kota

Sebagai hutan mangrove terluas di Bali, Teluk Benoa menjadi paru-paru kota di sekitarnya. Jika hutan mangrove ditebang, maka bersiaplah dengan menurunnya kualitas udara.

3. Membunuh alam hanya karena investor rakus

Melukis gerakan tolak reklamasi

Melukis gerakan tolak reklamasi via https://www.forbali.org

Teluk Benoa termasuk wilayah konservasi yang sebenarnya harus dilindungi. Jika alam dikorbankan demi pariwisata dan uang semata, bersiaplah suatu saat nanti pulau Bali akan hilang dengan sejuta keindahan alamnya

4. Abrasi besar-besaran

Reklamasi Teluk Benoa akan mengubah arus air laut sehingga memperarah abrasi seperti di Semawang, Tanjung Benoa, Sanur, Lebih (Gianyar), dan pantai lain di sekitarnya. Rencana pengerukan laut di Sawangan untuk mereklamasi Teluk Benoa juga mengorbankan lingkungan laut di ujung selatan Bali itu.

5. Krisis air parah

Bali Selatan sudah kekurangan air bersih hingga 7,5 milliar kubik per-tahunnya. Warga susah mendapatkan air bersih. Penambahan hotel di Bali Selatan membuat warga makin kekurangan air bersih terutama bagi warga sekitar.

6. Rentan Bencana

ilustrasi

ilustrasi via http://s.kaskus.id


Pembangunan fasilitas pariwisata di atas lahan hasil reklamasi jelas tidak stabil. Ibarat gelas di atas tumpukan buku. Lebih mudah hancur jika ada gempa ataupun tsunami.

7. Pembangunan yang tidak seimbang

Bali Selatan sudah terlalu penuh dengan pembangunan pariwisata ketika daerah Bali Utara dan Timur tidak diperhatikan. Reklamasi Teluk Benoa hanya memperarah ketidakseimbangan pembangunan di Bali.

8. Terlalu banyak kamar hotel & resort

Sekarang ini Bali sudah memiliki 90.000 kamar hotel, villa, dan penginapan dengan rata-rata okupansi hanya 31-51 persen. Penambahan hotel akan membuat tingkat hunian makin rendah dan membuat Bali makin sumpek dengan hiruk pikuk Hotel yang berada ditiap sisi jalan

9. Bali sudah tidak dijuluki "Pulau seribu pura"

Dengan pemerintah provinsi (Pemprove) yang hanya mementingkan pembangunan Reklamasi dan Hotel-hotel, bukan tidak mungkin jika kelak Bali bukan lagi dijuluki pulau seribu pura namun akan dijuluki pulau seribu hotel, sedih !

10. Investor yang rakus

Sudah saatnya Bali serius menggarap pariwisata berbasis kerakyatan, bukan pariwisata massal yang hanya menguntungkan investor rakus yang ingin merusak alam Bali.

11. Banyaknya pejuang demo dengan aksi damai, semoga mereka tidak menjadi Salim Kancil berikutnya

Ilustras demo

Ilustras demo via http://cdn.tmpo.co

Dengan banyaknya antusiasme warga Bali dan diluar pulau Bali untuk menolak rencana reklamasi teluk benoa, semoga mereka yang memperjuangan alam tidak bernasib seperti Salim Kancil yang tewas karena membela tanah kelahirannya