Menikah bukan sekadar tinggal serumah lalu melakukan banyak hal bersama-sama. Bukan. Tapi lebih dari itu. Menikah lebih tentang bagaimana kita menjadi dewasa menghadapi masalah, memahami pasangan kita luar dan dalamnya, berbaur dengan masyarakat; memberi manfaat.

Banyak yang memutuskan menikah hanya karena 'kebelet'; gak bisa menahan gejolak di dalam dirinya, atau karena dihantui umur yang sudah lebih dari cukup untuk menikah. Akhirnya dengan modal nekat, mencoba memindahkan tanggung jawab dari orang tua calon ke pundak kita.

Berat.

Muda atau tua tidak masalah, yang penting siap atau tidak?

Muda atau tua tidak masalah, yang penting punya ilmunya atau tidak?

Inilah beberapa hal yang perlu kamu persiapkan untuk menikah.

1. Mencintai Tuhan

Persiapan Pernikahan – Mencintai Tuhan via http://sengketahati.blogspot.com

Hal pertama yang harus kita lalukan sebelum menikah adalah mencintai Sang Pencipta kita sebelum apapun. Dialah yang memberikan kita oksigen dengan cuma-cuma, sehingga kamu bisa membuka gadget hari ini, Dia pulalah yang kemudian menyempurnakan penglihatan sehingga kamu bisa membaca Hipwee.

Terlebih dari itu, Dialah yang menggerakan tanganmu sehingga tergerak untuk membuka artikel ini, sehingga –mudah-mudahan- menjadi bahan perenungan sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.

Saya selalu merumuskan persiapan seperti ini …

Advertisement

Cinta Tuhan > Niat > Ilmu > Calon

Kenapa? Agar rumah tangga kita selalu dikucuri oleh keberkahan dan hati kita dilapangkan terhadap permasalahan yang akan muncul. Sebab pada hakikatnya, pernikahan adalah ujian ketaatan yang harus dilewati dengan kesabaran yang tinggi.

Kenapa keberkahan? Karena berkah itu bukan soal kaya atau miskinnya, tapi sedekah dan doanya; bukan sedikit atau banyaknya; tapi ridha dan merasa cukupnya.

Banyak hal terjadi di luar kemampuan kita, maka penting untuk terus terikat pada Sang Maha Mampu.

Rumah tangga perlu dilandasi hal ini agar tidak mudah tergoyah oleh masalah-masalah kecil yang sebenarnya membesar karena disikapi dengan persaan yang salah.

Jadi, cintai Tuhan dulu, maka masalah rumah tangga apapun akan terasa berkah.

2. Mengenali Diri Sendiri

Persiapan Pernikahan – Mengenali Diri Sendiri via http://thelatestork.com

Menikah adalah tentang mengenali pasangan yang akan membersamai kita sampai meninggal. Sebelum melangkah ke tahapan itu, sudahkah kita mengenali diri kita sendiri?

Kebanyakan tidak. Apalagi yang mendahului pernikahan dengan pacaran.

Nih, ya … Saya kasih tahu. Pacaran itu tidak baik.

Kenapa?

Karena dalam pacar-memacari biasanya kita tidak jujur terhadap diri sendiri. Seringnya sih … melebih-lebihkan. Apapun kalau demi pacar akan dilakukan meskipun harus menjadi orang lain.

Ibaratnya, kita sedang beriklan tentang apa yang tidak kita miliki. Dan poin pentingnya adalah … ajang balas budi yang tidak seimbang atara laki-laki dan perempuan.

Kamu mungkin paham, ya …

Nah, jadi penting sebelum menikah itu mengenali diri sendiri. Dengan demikian, kita akan jujur terhadap apa yang menjadi kekurangan kita.

Bukankah termasuk kebahagiaan bila mendapatkan pasangan yang menerima kekurangan kita, lalu kemudian melengkapinya? Iya, dong.

Banyak cara untuk mengenali diri sendiri, salah satunya dengan mencoba tes kepribadian. Ada yang gratisan seperti tes Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), silakan dicoba.

Tes tersebut akan menampilkan kecenderungan kepribadian kita. Apakah Introvert atau Ekstrovert, Intuiting atau Sensing, Feeling atau Thinking, Perceiving atau Judging. Jadi nanti hasil tesnya akan berupa empat kombinasi dari empat dimensi di atas.

3. Belajar Ilmu Pernikahan

Persiapan Pernikahan – Belajar Ilmu Pernikahan via http://1000awesomethings.com

Pernikahan adalah prosesi sakral, perjanjian berat yang, dalam riwayat-riwayat suci, diibaratkan sebagai Gunung ditimpakan ke punggung.

Selesai ijab qobul, semua tanggung jawab dari ayah calon perempuan, dialihbebankan ke dalam kehidupan calon laki-laki. Sedih-bahagianya; tertawa-menangisnya. Semuanya.

Maka dari itu cinta perlu ilmu.

Ilmu pernikahan akan memberi bekal pada kita tentang tata cara mengurusi rumah tangga. Mulai dari hal remeh-temeh; menyambut suami pulang kerja, sampai hal yang akan menggoncang keutuhan rumah tangga itu sendiri; suami digosipkan selingkuh.

Ilmu tersebut akan mencakup hal-hal luar kamar dan dalam kamar. Apa yang harus dan tidak boleh dilakukan … semua dibahas.

Pun dalam Ilmu pernikahan, kita akan tahu apa dan siapa yang seharusnya menjadi prioritas. Suami, harus mengutamakan ibunya daripada istrinya; sedangkan istri harus mengutamakan suaminya dari yang lain.

Banyak hal. Hak dan kewajiban tiap-tiap pribadi anggota rumah tangga.

4. Belajar Ilmu Komunikasi

Persiapan Pernikahan – Ilmu Komunikasi via http://ugallery.com

Kehidupan rumah tangga tidak akan pernah lepas dari masalah.

Tahukah kamu, ternyata masalah rumah tangga sering muncul bukan karena kurangnya cinta?

Ust. Salim A. Fillah pernah menasehati –dikhususkan untuk laki-laki- dalam sebuah kajian

Para suami ingat satu hal, keterampilan yang paling penting dipelajari sebelum menikah nanti adalah keterampilan mendengarkan curhat.

Karena sangat tidak banyak suami yang pandai mendengarkan curhat. Apalagi curhat istrinya. Kalau yang pinter mendengarkan curhat teman sekantor banyak.

Komentar-komentar yang sering muncul dalam benak suami ketika mendengar curhatan istri adalah 'Gitu aja diceritain, pentingnya di mana?'; yang sering muncul di kepala suami adalah 'Itu peristiwa terjadi berapa kali, ini sudah cerita yang keempat.'

Banyak rumah tangga terjadi konflik bukan karena kurangnya cinta, tapi karena kurangnya ilmu tentang cinta. Salah satu ilmu tentang cinta adalah ilmu tentang mendengarkan; ilmu tentang menyimak tangis.

Jadi penting bagi kamu yang sedang dalam persiapan untuk mempelajari ilmu komunikasi. Terutama psikologi perempuan dan laki-laki.

Sebab, laki-laki dan perempuan sangat berebeda sekali dalam mengungkapkan masalah.

Ketika laki-laki sedang dalam masalah, biasanya dia menarik diri; dan yang harus dilakukan oleh seorang perempuan adalah … membiarkan. Karena laki-laki punya pride yang akan terganggu jika perempuan mencoba untuk membantu menyelesaikan masalah mereka.

Biarkan laki-laki menyelesaikan masalahnya sendiri. Waktu akan mengembalikan mereka seperti semula. Tugas para perempuan saat itu adalah … menerima dengan tulus dan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa.

Berbeda dengan perempuan. Ketika mereka sedang dalam masalah, perempuan biasanya mencari telinga untuk mendengarkan curhatannya; dan yang harus dilakukan laki-laki adalah … berada di sisinya, mendengarkan. Karena perempuan punya love yang akan berbunga-bunga ketika pasanganya setia dalam keadaan apa pun.

Namun masalahnya, laki-laki sering keliru menganggap perempuan mempunyai sikap yang sama ketika memenghadapi masalah. Hasilnya, mereka membiarkan para perempuan. Padahal sebaliknya, mereka ingin diperhatikan.

Begitu pun perempuan sering keliru menganggap laki-laki mempunyai sikap yang sama ketika menghadapi masalah. Hasilnya, mereka selalu mendekati laki-laki dan kepo terhadap masalahnya. Padahal sebaliknya, laki-laki ingin dibiarkan menyelesaikan masalahnya sendiri.

Pusing? Mending pelajari ilmunya langsung. Banyak, kok, buku-buku yang membahas tentang relationship pria-wanita.

5. Mempunyai Visi

Persiapan Pernikahan – Punya Visi via http://kerjayuk.com

Visi rumah tangga amat sangat penting sekali kuadrat. Sebab membangun rumah tangga tanpa visi hanya akan membuatnya berjalan tanpa kompas.

Sebelum menikah, penting bagi kita menentukan tujuan akhir dari pernikahan itu sendiri. Sebab yang tidak punya tujuan akan berada dalam dua kemungkinan.

Ibaratkan begini … kita punya uang dan punya waktu. Lalu naik taksi. Kita berkata ke supir taksi tersebut, "Pak, kami punya uang dan waktu, antarkan kami ke mana pun. Bebas."

1. Tidak ke mana-mana

Kalau supir taksinya pintar, mungkin dia akan keliling-keliling kompleks saja. Lalu setelah nominal di argonya pas dengan uang yang kita berikan, diturunkan di tempat yang sama.

2. Tidak tahu sedang di mana

Kalau supir taksinya ngeselin, mungkin dia akan ajak kita ke jalan tol yang panjaaaang. Lalu diturunkan di tengah perjalanan.

Pilih mana?

Mending menyusun visi, lah.

Kita kelak berumah tangga tidak hanya hidup sendiri, tetapi juga bertetangga. Jadi visi yang harus dirumuskan ada 2; visi rumah tangga dan visi sosial.

Akan menjadi apa keluargamu kelak, ditentukan kedua visi itu.

Selamat merumuskan. 🙂

6. Memiliki Potensi Rezeki

Persiapan Pernikahan – Potensi Rezeki via http://satriabajahitam.com

Ini yang sering dipermasalahkan di mana pun. Menikah harus mapan dulu.

Sangat keliru.

Saya beri sub judul "Potensi Rezeki" karena yang harus diperhatikan bukanlah 'apa yang sekarang dimiliki', tapi 'sesemangat apa' calon kita meraihnya.

Banyak yang menjadi sukses karena menikah. Tapi banyak juga yang tidak sukses. Maka, pernihakan tidak lantas membanyakkan rezeki. Tetapi menikahi orang yang bervisi dan mempunyai potensi rezekilah yang akan membanyakkannya.

Oleh karena itu penting bagi kita untuk tidak menjadikan 'seberapa mapan' sebagai tolok ukur cocok/tidaknya calon yang akan kita jadikan pendamping hidup.

Lihatlah semangatnya. Lihatlah potensinya. Nilai visi hidupnya.

***

Nah, itulah beberapa hal –minimal- yang harus dipersiapkan sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan