Rasa memang tidak bisa dipercakapkan dengan lebih panjang. Kesediaan hati untuk mencurahkan cinta yang belum memiliki sekaligus belajar melepaskan juga bukan konsep yang gampang. Tuhan masih menggenggam erat doa-doa yang terlayang kudus dan akan melepaskannya nanti di waktu yang tepat dalam penantian yang lengang.

 

1. Tidak Ada yang Lebih Menawan daripada Kekekalan Getaran Perkenalan Malam yang Tak Terduga.

Perkenalan

Perkenalan via http://ww2.hdnux.com

Sebelumnya telah mampu kuprediksi arah getar yang tak menentu ini. Ada senyum darimu yang mendadak turut menjadi bagian urusan hidupku yang belum selesai. Teman di sampingku saat itu dengan spontanitasnya menjabarkan siapa dirimu. Aku hanya diam, terpaku, menyimak, tanpa memberi respon yang terlalu. Siapa kamu? Berani-beraninya sedikit mencuri perhatianku.

Hingga di sebuah malam yang sedikit mendung, mengulurlah tangan kita atas persetujuan Tuhan. Entah terasakan olehmu atau tidak, aku sesungguhnya begitu kacau menghadapimu saat itu, tak bisa biasa, sedikit canggung, bahkan untuk menarik sedikit bibirku agar bisa berbagi senyumku pun aku tak mampu.

Baiklah, itu memang kali pertama namamu tersebut dan terketahuilah juga namaku olehmu yang akhirnya menjadi tak asing lagi. Itu malam yang tak biasa dan sangat mengganggu prosesi tidurku. Aku telah mencoba berbagai cara untuk memejamkan mata. Keadaan seperti ini memang sedikit kurang ajar. Apakah ini yang dinamakan kekekalan getaran perkenalan malam yang tak terduga? 

2. Kamu Menghilang dan Kembali Datang Seolah Menawarkan Intensitas Lain dari Sekedar Hanya Perkenalan Malam Itu.

peluang hubungan

peluang hubungan via https://www.google.co.id

Setelah perkenalan malam itu, hari-hari pun terlalui dengan wajar meskipun sesekali bayangmu melalui hujan sangat mampu mengusik tenangku. Hingga Tuhan hampir sedang memberi kisah manis pada kita. Suatu sebab dan keadaan yang berkata tidak dan itu bukan kuasaku. Di saat itulah ada yang seolah mengusikku. Entah kenaifan apa kali itu berkelebat hebat.

Suaraku via sms untuk pertama kalinya bergetar di ponselmu. Mungkin sebagai makhluk yang mengenyam ilmu peka, kamu pun memiliki prediksi ada apa-apa di hatiku yang sedang kucoba pertahankan dengan malu-malu. Hari demi hari terlalui dengan beberapa butir keberanian untuk memulai berkomunikasi denganmu. Memang tidak terlalu sering, tapi bisa dibilang cukup baik dan agresif mengingat dirimu begitu dingin dan sangat wajar. Atau justru aku yang kurang ajar?

3. Gelora Merah Langit Pagi Tersipu Malu, Melihat Tingkahku yang sedang Tergila-gila Kepadamu.

gelora langit

gelora langit via https://www.google.co.id

Aku hanya mencoba maju berdasarkan nuraniku untuk dapat mengenalmu lebih dulu, hingga memasuki tahun pertama, kedua, dan ketiga di tahun ini. Belum begitu kontras memang akan bagaimana ujung dari rasa yang sedang Tuhan titipkan ini. Kuringkas saja tentang bagaimana aku melalui hari selama musim berganti, waktu berdetak, negara bergejolak, yang semua itu berbanding lurus dengan porsi rasa cinta yang menggila kepadamu.

Dihujani rindu yang rontok ke bumi. Dibekuk ketabahan yang lapang terbentang. Menyeka air mata diri sendiri yang kadang kurang ajar tanpa permisi jatuh dan menjatuh. Memaklumi beberapa hal mengapa kamu sering membalas apa pun bentuk komunikasi yang sedang berusaha kubangun dengan waktu yang relatif lama.

Sengaja aku menguji keluasan sabarku dengan menjauh darimu, sengaja tidak menghubungi lebih dulu. Tapi apa? Yang berujung selalu aku yang berkhianat atas sistem ujian hati yang kuciptakan sendiri. Itu karena aku menggilaimu lebih dari wanita karir yang menggilai profesi dan kehidupan independennya. Dan yang menarik adalah selalu ada gelora merah langit pagi yang mengejekku karena penggilaanku terhadapmu ini.

Mungkin akan naif jika kukatakan di sini bahwa aku: menginginkan untuk kau imami di setiap sujudku pada Tuhan; betapa ingin aku kau dampingi di malam-malam yang kudus melalui ikatan pernikahan tentu saja; melahirkan benih cintamu yang menjadi titipan Tuhan; dan menjadi wanita yang selalu kau inginkan tatkala letihmu singgah selepas bekerja. Ya, keinginan wajar yang mestinya kamu hargai kali ini saja.

4. Bahkan Orang Tuaku Pun Bersuka Cita Bahwa Aku Bisa Mencintai Dengan Dewasa Dan Memaknai Bahwa Aktivitas Mencintai Sesungguhnya Juga Belajar Melepaskan.

Aku tau bahkan kamu sudah mengetahui bahwa aku tidak sedang bercanda dengan perasaanku ini. Semacam ada kelegaan di sini yang menandakan bahwa sudah semestinya kamu akan lebih mudah untuk memberikan respon agar aku bisa memberi sikap yang jelas. Waktu kita tak banyak jika diukur dengan potensi studi. Waktu kita mepet jika ditimbang dengan beragam harapan yang melambung dan ingin tercapai dulu oleh masing-masing dari kita.

Di sini kukatakan bahwa aku sesungguhnya makin memaknai bahwa berpasrah pada Tuhan adalah langkah terbaik dari wujud cinta yang sebenarnya. Doa yang terpanjat sudah tak terhitung. Aku tidak lelah. Pengharapan yang terbangun sendiri makin hari memang berusaha kuruntuhkan sendiri.

Bukan karena aku tidak mencintaimu lagi, tapi aku sekaligus belajar melepaskan sesuatu yang kucintai. Membesarkan harapan yang muluk boleh jadi akan menerbitkan butir-butir luka yang terlalu. Bukankah itu sakit? Maka dari itu aku hanya mewajarkan saja apa yang hadir dan dititipkan Tuhan untuk mampu dihadapi. Dan sekali lagi, biarkan kuasa Tuhan yang akan menjawabnya. 

5. Jalan Di Depan Masih Panjang, Kamu Masih Tersebut Di Dalam Doa Dan Menjadi Genggaman Tuhan.

doa dan penantian

doa dan penantian via https://lh3.googleusercontent.com

Ada yang bisa dipercakapkan lebih panjang dan lebih kudus dari sekedar perasaan, yaitu doa. Doa menjadi prosesi yang paling bijaksana antara hamba kepada Tuhan untuk menebarkan apa itu perasaan sesungguhnya, apa itu perasaanku terhadapmu.

Aku memang tidak punya kuasa untuk mengungkapkan. Bukan karena tak mampu, tapi aku menjaga getaran tertentu yang sangat mengusik ketenangan. Ada jalan lain yang harus kutaklukan dulu sebelum aku menaklukan perasaanku yang menggebu terhadapmu.

Sebuah perasaan yang belum berujung dan bahkan untuk menafsirkannya pun sangat tidak logika. Biarkan saat ini kusingkirkan perasaanku terlebih dulu untuk menggeluti beberapa macam skenario yang tentu telah Tuhan sediakan. Tanpamu atau bersama bayangmu atau bahkan takdir bersamamu? Tuhan sudah menggenggam doaku dan akan melesatkan di waktu yang tepat.