Beberapa tahun belakangan ini jagat pertelevisian Indonesia kian disesaki tayangan-tayangan yang sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan kepribadian bangsa. Mulai dari serbuan serial drama mewek negerinya Lee Min-ho, hingga drama kolosal asal negeri Raja Jalal & Ratu Jodha Akbar.

Sementara tayangan asli Indonesia hanya menyisakan ruang bagi kisah percintaan Wakwaw dan Mancung, serta ngaung-ngaungnya siluman serigala dan 7 manusia harimau. Bukan, ini bukan menggeneralisir bahwa seluruh tayangan di televisi Indonesia itu buruk rusak.

Masih ada kok acara-acara televisi Indonesia yang mengedukasi dan layak dinikmati. Tapi masalahnya hanya sedikit masyarakat Indonesia yang suka menonton tayangan mendidik itu. Masyarakat Indonesia, terutama mereka yang tinggal di desa-desa lebih senang di “didik” drama-drama pembodohan ala FTV ataupun sinema-sinema laga yang sangat seru dan penuh debu. Ini bukan asal bicara, saya mengalaminya.

Untuk tayangan-tayangan FTV yang lebih imajinatif daripada film Cinderella, sebaiknya kita mengurangi mengonsumsinya, bahkan akan lebih baik jika meninggalkannya. Tapi, untuk drama kolosal khas Indonesia, kita wajib menontonnya (ulang). Ini bukan soal selera, ini masalah budaya, ini tentang peradaban kita.

Sinetron kolosal Indonesia yang dibuat sebelum era Tutur Tinular versi 2011 lahir dan menjadi borok, adalah tayangan-tayangan yang memiliki cita rasa dan kualitas tinggi. Bahkan, warga negara jiran seperti Malaysia dan Singapura pun suka. Apalagi kita!.

Sinetron-sinetron itu sebagian besar merupakan karya adaptasi dari sandiwara radio yang begitu familiar ditelinga masyarakat Indonesia. Sedikit dari sinetron itu adalah Saur Sepuh: Satria Madangkara dan serial Tutur Tinular. Karya-karya ini pernah eksis pada 1980-an.

Bahkan, saat saya masih menimba ilmu di Jogja, sandiwara Tutur Tinular kadang masih disetel ulang setiap hari kamis.

Aduh, kenapa jadi serius gini ngomongnya. Ya, udah langsung aja. Inilah 7 Drama Kolosal Indonesia yang Layak ditayangkan ulang!

 

1. Wiro Sableng

Wiro Sableng

Wiro Sableng via http://wowkeren.com

Namanya Wiro Sasana, lain dari ibu bernama Suci, dengan ayahnya bernama Raden, karena sesuatu ia dibesarkan oleh seorang guru, bernama Sinto Gendeng, alias eyang Sinto Geni, atau Sinto-sinto Gila. Lha, ini kan lirik lagu ost-nya!!!

Sinetron yang diadaptasi dari karya babenya Vino G Bastian ini wajib diputar ulang untuk melepas lelah anak-anak SD sepulang sekolah. Bukan apa-apa, banyak nilai edukasi yang termuat di dalam serial televisi yang ngehits di tahun 1990 an ini.

Nggak percaya? Coba baca artikel Hipwee sebelumnya yang mengulas “Sinetron Indonesia yang Pernah Mendidik". Dulu, saking sadisnya populernya sinetron yang dibintangi Ken-Ken Sukendro ini, sampai-sampai senjata kapak naga geni 212 milik Wiro diperdagangkan secara bebas di sekolah-sekolah SD dalam format mainan KW. Ini juga menunjukkan bahwa sinetron-sinetron jaman dulu sangat pro terhadap UMKM.

2. Pandji Tengkorak

Pandji Tengkorak versi manga

Pandji Tengkorak versi manga via http://ultramicroscopic.wordpress.com

Drama kolosal yang diadaptasi dari komik karya Hans Jaladra ini mempopulerkan cerita silat khas nusantara. Dalam kisah ini, Pandji diceritakan sebagai seorang suami yang menuntut dendam terhadap orang yang telah membunuh istrinya, Murni.

Untuk menyamarkan identitasnya, Pandji mengenakan topeng tengkorak dan menyamar sebagai pengemis. Pandji sendiri beraliran ilmu hitam karena dalam kisah ini, Pandji diriwayatkan berasal dari pantai selatan.

Komik Pandji Tengkorak sempat memeriahkan khasanah layar kaca nasional pada 1971 dan 1983. Juga sempat ditayangkan sebagai serial televisi di Indosiar pada 1996.

Bagaimana? Kamu para ladies pasti penasaran kan sama sosok Pandji yang sesungguhnya? Yang jelas ia lebih tamvan dan setia daripada Aliando-nya Prili Latuconsina.

3. Saur Sepuh: Satria Madangkara

Brama Kumbara sewaktu masih pemuda desa

Brama Kumbara sewaktu masih pemuda desa via http://youtube.com

Saur Sepuh berlatar Kerajaan Majapahit dan Madangkara. Cerita kolosal ini menggambarkan perjalanan seorang ksatria bernama Brama Kumbara dalam meraih tahta kerajaan.

Sandiwara radio yang amat populer di era 1980-an ini didaptasi ke layar lebar dan layar kaca. Dibintangi Fendy Pradana, Hengky Tornando, dan Murti Sari Dewi, film yang naskahnya ditulis Niki Kosasih ini pernah meraih penghargaan Piala Citra 1988 untuk kategori Penyunting Film Terbaik.

Dalam format sinetron, Saur Sepuh melahirkan seorang legenda drama kolosal Indonesia dalam diri Anto Wijaya. Sosok Brama Kumbara yang diperankannya begitu sempurna. Saking sempurnanya, Anto Wijaya kemudian kerap jadi aktor utama di sinetron kolosal lainnya seperti Tutur Tinular dan Angling Dharma. Kalau zaman sekarang, kiprahnya mungkin bisa disepadankan Reza Rahadian.

4. Misteri Gunung Merapi

Mak Lampir

Mak Lampir via http://kapanlagi.com

Dari seluruh tayangan drama kolosal yang beredar di layar kaca, tampaknya sinetron inilah yang satu-satunya berbau mistis. Bercerita tentang kehidupan seorang pemuda bernama Sembara yang merupakan anak angkat Kakek Jabat.

Sembara yang harus meningkatkan ilmu kanuragannya dengan berat hati harus berpisah dengan pujaan hatinya, Farida. Calon istrinya yang ditinggal itu ternyata di “mangsa” oleh siluman harimau bernama Mardian. Pengembaraan Sembara tak sia-sia.

Ia mendapat seorang guru yang juga siluman harimau bernama Datuk Panglima Kumbang. Datuk Panglima Kumbang sendiri adalah musuh bebuyutan Mak Lampir. Nenek tua yang tak mati-mati. Dulu drama kolosal ini kerap menghiasi layar kaca tiap akhir pekan di chanel indosiar.

Tayangan pembukanya yang cukup seram kadang membuat saya yang waktu itu masih duduk di sekolah dasar lebih memilih mematikan televisi dan membuka kitab suci. 

5. Tutur Tinular

Arya Kamandanu dan Mei Shin

Arya Kamandanu dan Mei Shin via http://ceritamu.com

“Tutur Tinular” atau dalam bahasa Indonesia bermakna “nasihat atau petuah yang disebarluaskan,”  mengisahkan perjalanan asmara seorang ksatria asal desa Kurawan bernama Arya Kamandanu. Ia adalah putra seorang pembuat keris andal, Mpu Hanggareksa.

Kamandanu memiliki seorang kakak yang pandai membuat syair bernama Arya Dwipangga. Saking jagonya ia dalam menyulam bahasa, banyak wanita yang tergila-gila olehnya. Bahkan, setiap wanita yang tampak hampir pasti jadi istri Kamandanu, entah mengapa tiba-tiba mlipir ke arahnya.

Mereka menjadi istri Dwipangga. Lalu dicampakan olehnya. Anak-anaknya kemudian justru diasuh oleh Kamandanu. Barangkali tiada kisah cinta yang menyedihkan melebihi kisah Kamandanu. Untuk menghapus penderitaannya, ia memilih menjadi pengembara.

Setelah Nariratih direbut Dwipangga, ia mengembara ke negeri China. Di China ia memperoleh pedang wasiat nagapuspa, dan seorang wanita yang kelak menjadi cinta keduanya. Ia adalah Mei Shin, wanita cantik yang ditinggal mati suaminya. Mei Shin hampir menjadi istri Kamandanu, sebelum bajingan Dwipangga merebutnya kembali.

Ah…cinta…deritanya memang tiada akhir.  

6. Angling Dharma

Batik Madrim dan Angling Dharma

Batik Madrim dan Angling Dharma via http://youtube.com

Angling Dharma adalah seorang raja di Kerajaan Malwapati. Ia mencapai puncak tahta setelah memperistri adik Batik Madrim, Setyowati. Dan memperoleh ilmu kanuragan tingkat tinggi warisan gurunya, Nagaraja.

Konon sosok Prabu Angling Dharma benar-benar terdapat dalam dunia nyata. Petilasannya ada di Bojonegoro Jawa Timur.

Dulu serial Angling Dharma ditayangkan tiap hari di chanel Indosiar. Tokoh utamanya tentu saja Anto Wijaya. Dan penonton utamanya tentu saja kita.

7. Walisongo

Arya Gading (tengah) yang telah memeluk Islam

Arya Gading (tengah) yang telah memeluk Islam via http://youtube.com

Mungkin inilah serial kolosal (berkualitas) terakhir yang diproduksi PT. Genta Buana Pitaloka/Paramita. Berkisah mengenai sepak terjang walisongo dalam menyemaikan ajaran-ajaran Nabi Muhammad SAW, sinetron yang tayang pada bulan Ramadan ini dikemas secara apik dan epik. Beberapa tokoh fiktif seperti Arya Gading dan Bondan Kayuwangi disusupkan untuk membuat alur cerita berjalan lebih menarik.

 

Bagaimana? Apa kamu mau melihat sinetron-sinetron kolosal ini kembali tayang? Atau kamu cukup puas dengan tokoh Arjuna versi Shakeer Seikh yang terus diproduksi ulang?