Tidak ada murid yang tak ketar-ketir kalau harus berhadapan dengan murka sang Bapak dan Ibu guru di sekolah. Kamu pasti langsung deg-degan ketika melihat perubahan ekspresi Bapak dan Ibu gurumu.

Bapak dan Ibu guru yang sering marah saja tetap membuatmu berhati-hati menjaga sikap. Apalagi jika kamu bersama temanmu tak sengaja membuat mereka yang terkenal penyabar malah memperlihatkan sisi emosi yang menyeramkan. Bila hal ini terjadi, hanya ada satu sosok yang paling terkenal dan sering kamu persalahkan. Dialah "Lusi", “lu sih” atau “elu sih”.

Diucapkan dengan nada sedikit mencibir dan jengkel, “elu sih” seakan jadi cara paling efektif untuk memindahkan kesalahan pada teman-temanmu. Karena mengucap kata-kata yang mempersalahkan orang lain memang mudah, tak heran kalau 7 momen ini sering membuatmu mengucapkan “elu sih” dengan mudahnya saat di sekolah :

 

1. Datang Terlambat Ke Sekolah

Tak ada waktu untuk santai saat jarum jam kian mengancam.

Tak ada waktu untuk santai saat jarum jam kian mengancam. via http://Essentialkids.com.au

Di suatu pagi yang indah, kamu dan temanmu tampak berlarian tergesa-gesa menuju ruang kelas. Sudah ada wali kelasmu di sana. Ia berdiri sambil menatapmu dengan pandangan nanarnya yang lelah hati. Begitu nanar hingga kamu dan temanmu tak berani menyambut pandangannya. Dan kemudian muncullah kalimat-kalimat khas dari bibirmu

“Elu sih tadi di WC lama banget. Sambil betelor ya di WC. Jadi telat gini dah.”

“Yahh diomelin Ibu dah nih. Elu sih tadi jalannya kayak putri Solo.”

“Elu sih barusan pake salah seragam segala. Kalo kaga kan kita gak telat begini, nih.”

2. Ditegur Gara-Gara Ngobrol

Ibarat peribahasa : bermain air basah, bermain api letup, bermain dengan teman diomelin

Ibarat peribahasa : bermain air basah, bermain api letup, bermain dengan teman diomelin via http://Indonesiamengajar.org

Kelas hari ini seru sekali. Bukan karena pelajarannya yang mudah dimengerti, melainkan karena seisi kelas sibuk membicarakan film baru yang sedang hits di bioskop. Seketika itu kelas yang gaduh mendadak hening karena tangan gurumu yang menggebrak papan tulis atau meja. Kamu dan semua temanmu pun diam seribu bahasa menyaksikan geramnya gurumu di depan kelas.

“Elu sih tadi ngakaknya kenceng banget, kayak kuda aja.”

“Kok gue, sih. Orang elu sih tadi yang heboh manggil-manggil si Riska.”

3. Terlambat Masuk Ke Kelas Sehabis Istirahat

Makanya kalau jajan jangan kebanyakan memilih. Pilih yang pasti dan pas di hati.

Makanya kalau jajan jangan kebanyakan memilih. Pilih yang pasti dan pas di hati. via http://Print.kompas.com

Rasanya belum puas perut ini menikmati waktu istirahat. Tetapi bel masuk sudah berbunyi dan semangkuk mie ayam masih menanti untuk dihabiskan. Selesai makan, kamu dan teman sebangkumu pun berlarian menuju ke kelas. Dan ternyata yang kamu dapati adalah “sambutan tak ramah” dari gurumu yang sudah duduk manis di dalam kelas.

“Lain kali kalo telat masuk lagi abis istirahat, belajarnya di kantin aja, ya.”

Tersenyum malu-malu, kamu menghadapi gurumu sambil beringsut ke bangkumu. Di telingamu terdengar bisikan dari teman sebangkumu yang masih terengah-engah sehabis berlari dari kantin tadi.

“Tuh kan gue bilang juga apa. Elu sih makannya diemut, jadi lama, deh.”

4. Nah Lo, Ketahuan Nyontek, Deh.

Mata (guru) lebih cepat daripada tanganmu.

Mata (guru) lebih cepat daripada tanganmu. via http://Theatlantic.com

Pelajaran yang diujikan hari ini susah sekali. Materinya juga banyak seperti isi kitab suci yang diambil dari Barat saja. Salah satu cara yang tentu tak terpuji dan menambah daftar dosamu adalah : menyontek.

Buku catatan sudah kamu letakkan di laci meja atau di bawah tumpukan buku-buku cetak. Kamu bergegas intip-intip sedikit sambil menyuruh temanmu mengawasi gurumu yang ada di depan kelas. Tak disangka-sangka tiba-tiba gurumu berdehem sambil mengeluarkan kalimat nan menohok hati

“Aris, kerja sendiri, ya.”

Siapa yang patut dipersalahkan jika sudah begitu adanya? Sadar atau tak sadar, akhirnya keluar juga ucapan itu dari mulutmu.

“Elu sih gak bener ngeliatinnya. Gue jadi ditegor Ibu, deh. Kan udah gue bilang kalo si Ibu nengok ke sini elu langsung bilangin gue. Katro dah lu.”

5. Lupa Bikin PR

Bak jejeran kue pukis hangat di etalase, kamu berbaris rapi menyalin PR.

Bak jejeran kue pukis hangat di etalase, kamu berbaris rapi menyalin PR. via http://Tempo.co

Kemarin sore kamu sudah chat teman sebangkumu. Kamu bertanya besok ada PR apa. Dia hanya bilang ada PR membuat puisi Bahasa Indonesia. Nyatanya keesokan hari kamu menemukan sesuatu yang berbeda. Hampir semua teman di kelas sibuk mengerjakan PR Matematika dan Biologi bersama-sama.

“Elu sih, Mar. Gue tanya ada PR apa, lu bilang Bahasa Indonesia doang. Jadi kelupaan kan bikin PR Matematika sama Biologi.”

“Ih, kok gue yang disalahin. Kenapa elu gak nanya ama yang lain juga, cuma nanya gue doang.”

6. Dihukum Beramai-ramai Sekelas

Sesekali aktivitas fisik di luar kelas sih boleh juga.

Sesekali aktivitas fisik di luar kelas sih boleh juga. via http://Tashkent24.rssing.com

“Kenapa sih kalo dibilangin gak bisa nurut? Sana lari keliling lapangan 10 kali.”

“Tapi Bu...”

“Gak pake tapi-tapi. Ntar kalo masih ribut juga, tambah 10 kali lagi”

Kamu dan teman-temanmu pun melangkah gontai keluar kelas, bersiap lari bersama-sama keliling lapangan. Di lantai 2 ada adik-adik kelas yang menyaksikan kamu dan semua temanmu bermandikan peluh mengelilingi lapangan.

“Elu sih tadi disuruh kerjain soal bukannya maju malah melongo. Jadi marah dah Ibu.”

“Elu kali yang tadi ngakak mulu di belakang ama si Marni. Bikin Ibu makin ngamuk.”

7. Membuat Guru Marah Luar Biasa

Kami memang nakal. Tetapi tak bermaksud menyakitimu, Pak, Bu.

Kami memang nakal. Tetapi tak bermaksud menyakitimu, Pak, Bu. via http://Ceritamu.com

Gurumu yang satu ini terkenal super sabar. Beliau tidak pernah marah besar dan selalu menegur muridnya dengan halus. Namun suatu hari ada musibah kecil yang menimpa kelasmu. Kelas yang gaduh ditambah murid-murid bersifat pembangkang membuat gurumu jadi kecewa luar biasa.

Ia pun menggebrak meja kemudian melangkah keluar dari ruang kelasmu. Seisi kelas terpana menyaksikan kejadian itu. Beliau yang begitu sabar akhirnya hari ini menunjukkan kekecewaannya sebagai manusia biasa. Setelah terhenyak cukup lama, mulailah kamu dan teman-temanmu saling menuding satu sama lain.

“Waduh si Ibu marah. Elu sih tadi berisik banget.”

“Bukan gue kali, tuh barisan depan yang gak dengerin Ibu lagi jelasin.”

“Udah 2 orang ke ruang guru gih, bilang minta maaf sama Ibu.”

“Aduhhh jangan gue, deh. Tadi serem banget mukanya Ibu. Warbiyasak horornyah.”

 

Sekolah adalah tempatmu mengenal dunia. Wajar kalau kata-kata “elu sih” masih mewarnai hari-harimu di sekolah. Setelah kamu menamatkan pendidikanmu di sekolah, semoga tak pernah ada lagi kata “elu sih” yang terlontar dari bibirmu.

Sebab tak sekadar memenuhi kebutuhanmu akan ilmu, gurumu tentu berharap kamu menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bertanggung jawab di masa depan. Menuding orang lain bukanlah sebuah tindakan yang dewasa. Sejatinya itu hanya memberikan ketenangan semu bagi relung hatimu yang dirundung rasa bersalah. Semoga kata “elu sih” nanti hanya sebuah kenangan manis yang membuat tawamu meledak ketika bernostalgia.