Gunung ini terletak diantara empat kabupaten yaitu, Probolinggo, Lumajang, Jember, dan Situbondo. Jalurnya terpanjang di Pulau Jawa, jarak yang ditempuh oleh pendaki bisa mencapai lebih dari 40 kilometer. Selain itu, gunung ini juga memiliki cerita rakyat legenda Dewi Rengganis. Namanya adalah Gunung Argopuro atau sering disebut Hyang Argopuro yang memiliki dua puncak yaitu Puncak Rengganis dan Puncak Argopuro pada ketinggian 3.088 meter diatas permukaan laut.

Lalu apa sajakah sensasi yang bisa kamu nikmati di gunung dengan jalur terpanjang se-Pulau Jawa ini?

 

1. Nikmati sedapnya minum kopi Argopuro

Secangkir kopi argopuro yang nikmat

Secangkir kopi argopuro yang nikmat via https://www.instagram.com

Ada dua jalur yang banyak dilewati pendaki, yaitu jalur Baderan di Situbondo dan jalur Bremi di Probolinggo. Nah, saat itu saya dan tim memilih untuk memulai pendakian dari jalur Baderan. Sebelum mulai mendaki di dekat pos basecamp Baderan ada sebuah warung kopi sederhana yang menyajikan kopi Argopuro yang begitu nikmat. Kopi ini mampu menyegarkan saya dan tim setelah melalui perjalanan yang cukup jauh dari Jakarta menuju Baderan.

Jadi, minumlah secangkir kopi Argopuro sebelum memulai pendakian yang bisa memakan waktu hingga lima hari perjalanan.

2. Nikmati perjalanan di Makadam

Ojek motor Baderan siap menyusuri jalan makadam hingga pintu masuk hutan

Ojek motor Baderan siap menyusuri jalan makadam hingga pintu masuk hutan via https://www.instagram.com

Ada dua cara menikmati jalan Makadam (jalan dengan batu dan tanah) untuk sampai batas Makadam atau pintu masuk hutan. Pertama dengan menggunakan jasa ojek motor dari warga sekitar dengan jarak tempuh sekitar satu setengah jam atau berjalan kaki sekitar tiga sampai empat jam perjalanan. Keduanya memiliki sensasi yang menarik.

Kemudian kami menyusuri hutan dan padang ilalang untuk melanjutkan perjalanan menuju Pos pertama, yaitu Mata Air 1 dan Pos Mata Air 2 untuk mendirikan tenda dan menikmati sensasi malam disana.

3. Luasnya sabana sejauh mata memandang

Meskipun musim kemarau, tapi hamparan sabana ini masih tetap memikat mata dan mengusir lelah

Meskipun musim kemarau, tapi hamparan sabana ini masih tetap memikat mata dan mengusir lelah via https://www.instagram.com

Setelah bermalam di Pos Mata Air 2, saya dan lima orang teman lainnya melanjutkan perjalanan menuju Cikasur. Ini adalah perjalanan dengan sensasi yang luar biasa, kami menyusuri hutan dan Sabana yang terbakar akibat kemarau panjang. Kami melihat pemandangan unik, sabana sebelah kiri kami hangus terbakar berwarna hitam pekat, sementara di sebelah kanan jalan setapak yang kami lalui, sabana berwarna kuning.

Namun, setelah sekitar tiga jam perjalanan melalui itu semua kami dimanjakan dengan hamparan sabana sejauh mata memandang dipadukan dengan birunya langit menambah sensasi yang luar biasa, lelah pun hilang.

4. Sungai mengalir indah

Sungai yang mengalir indah seolah menyambut kami yang kelelahan

Sungai yang mengalir indah seolah menyambut kami yang kelelahan via https://www.instagram.com

Puas menikmati hamparan karpet Sabana itu, kami melanjutkan perjalanan menuju Cikasur. Lagi-lagi lelah kami dibayar dengan suara sungai dari kejauhan yang membuat kami berlari kecil untuk melihat apakah suara aliran sungai itu benar-benar ada atau hanya suara yang kami khayalkan. Ternyata sungai itu ibarat pintu masuk Cikasur, kami terbuai dengan indahnya sungai Cikasur yang dipenuhi dengan tanaman Salada Air.

Ada dua sungai di Cikasur, pertama yang menyambut kami dan yang kedua sambungan aliran dari sungai sebelumnya lebih dekat dari tempat kami mendirikan tenda. Keduanya dipenuhi tanaman Salada Air.

5. Airport Cikasur

Airport Cikasur

Airport Cikasur via https://www.instagram.com

Tibalah kami di Cikasur, hamparan Sabana kembali menyapa kami. Ada bunker peninggalan Jepang dan ada satu pohon besar berdiri tegak tidak jauh dari bunker dan disana kami memutuskan untuk mendirikan tenda menikmati sensasi malam. Dulu, menurut cerita, Cikasur pernah menjadi landasan pesawat terbang yang dibuat oleh kolonial Belanda dan pernah diambil alih fungsinya oleh pemerintahan Jepang. Sejauh mata memandang hanya ada sabana dan ada beberapa parit yang galiannya cukup luas dan dalam.

Bukan hanya itu, kami juga dapat mendengar suara babi hutan dan burung merak seperti bersahutan, kami pun sempat menemukan beberapa bulu burung merak diantara sabana.

6. Jangan lupa menyantap lezatnya selada air dari alam :)

Panen salada air, ngga ada alasan untuk tidak makan sayur di Hyang Argopuro

Panen salada air, ngga ada alasan untuk tidak makan sayur di Hyang Argopuro via https://www.instagram.com

Jangan khawatir jika kehabisan bekal ketika sampai di Cikasur atau mungkin ingin menghemat logistik agar cukup sampai hari terakhir perjalanan menyusuri Hyang Argopuro. Ada Salada Air melimpah di sungai sekitar Cikasur. Kamu bisa memetik Salada Air sesuka hati untuk dikonsumsi. Kami mengambil untuk makan malam, menunya adalah tumisan Salada Air dan sebelum meninggalkan Cikasur keesokan harinya saya dan tim memetik lagi untuk bekal makan siang dan makan malam kami di perhentian pos selanjutnya.

Jadi tidak ada alasan untuk tidak makan sayur ketika mendaki gunung.

7. Selimut kabut di Danau Taman Hidup

sssttt jangan berteriak nanti kabutnya menjadi semakin tebal

sssttt jangan berteriak nanti kabutnya menjadi semakin tebal via https://www.instagram.com

Semeru terkenal dengan Ranukumbolo, Rinjani dengan Danau Segara Anak, dan di Hyang Argopuro kamu akan terpana dengan Danau Taman Hidup. Setelah menginap semalam lagi di pos Rawa Embik, lalu melewati jalan berbelok dan turunan yang cukup terjal, kemudian melewati hutan lumut yang lembab dan rapat maka tibalah di danau yang berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut.

Di danau itu ada sebuah dermaga yang bisa pendaki gunakan untuk mengambil air, memancing ikan, dan bisa juga untuk tempat berfoto. Saat saya dan tim tiba disana, hanya ada kami dan tiga orang lain yang berasal dari Yogyakarta, suasana Danau begitu tenang.

Sensasinya adalah selimut kabut tipis yang selalu ada di atas danau seolah menambah kesan tenang tapi jangan berteriak, ya, karena teriakan kamu akan membuat selimut kabut tipis itu menjadi tebal dan akan tiba-tiba datang kabut tebal tidak lama setelah kamu teriak.

Bagaimana, ingin mencoba teriak di Danau Taman Hidup?