Penulis memang sebuah predikat yang lumayan keren bagi sebagian orang. Bahkan banyak orang yang mengidolakan penulis-penulis atau pujangga ternama Indonesia bahkan dunia. Namun, banyak orang yang ingin menjadi penulis tapi "takut" menulis. Lucu, kan? Kebanyakan dari mereka yang ingin bergelut dengan dunia sastra memiliki phobia tersendiri. Justru mereka yang bilang,

"Gue bukan anak sastra cuy. Gue cuman bisa bikin kata-kata gombal, wkwkw"

"Ahh, Gue mana bisa bikin kata-kata kek Pramoedya. Gue baca bukunya aja udah syukur."

"Gimana kalau tulisan Gue jelek? Kalau orang nggak suka? Gue kan malu."

"Gue takut kalau nyinggung orang. Gue juga nggak punya fantasi buat dijadiin alur cerpen atau novel."

Banyak banget kan persepsi-persepsi yang seakan-akan kaya genderuwo yang super duper nakutin. Memang sih, untuk menjadi penulis yang bener-bener keren ada banyak rintangan dan halangan. Tapi nggak ada salahnya kan memulai sambil belajar?

 

1. Ada orang yang memang memiliki bakat menulis, tapi ada juga penulis yang belajar dari nol dan mengalahkan bakat penulis lainnya

Menulis

Menulis via https://hipwee.com

Bakat bisa dimiliki siapa saja, tak terkecuali bakat menulis. Bagi orang yang memiliki bakat menulis, kegiatan merangkai kata adalah hal biasa, membaca adalah kebutuhan melebihi makan siang, dan berpikir atau berimajinasi adalah penghantar tidur. Tapi bagaimana dengan orang yang benar-benar belajar dari nol untuk menjadi seorang penulis?

Gampang kok. Untuk menjadi seorang penulis kalian cuman butuh niat untuk menulis dan realisasinya. Selesai! Untuk memperkuat kedudukan kamu, kamu juga perlu belajar soal ilmu kesastraan atau kebahasaan. Misal, kamu milih jurusan sastra Indonesia atau sastra asing. Eittsss jangan minder dulu untuk memilih jurusan perkuliahanmu di kesastraan, walaupun banyak orang bilang,

"Kuliah sastra? Mau kerja apa?"

"Kuliah sastra ya? Duh, baca berapa buku?"

"Kerjanya pasti cuman jadi penulis ya?"

Apa sih salahnya belajar bahasa? Toh zaman sekarang banyak orang yang salah ngomong, nggak bisa nulis bener, dan gagal paham EYD. Bahkan kalian tahu sendiri, kan kalau zaman sekarang banyak bahasa baru. Misal $la@y, qmuh, chienta, a6, dan lainnya yang sebenarnya nggak bisa dibaca dengan bahasa apapun. Anak sastra itu keren loh, karena bahasa juga memerlukan perasaan. Niscaya anak sastra juga bakal punya perasaan yang peka, cocok tuh jadi daftar gebetan baru!

Jadi nggak perlu takut jadi penulis kalau tulisanmu belum dilike banyak orang. Bukankah selera mereka juga berbeda? Dan kamu bukan Pramoedya, Ayu Utami, atau Putu Wijaya yang udah melanglang buana menjadi penulis kenamaan kan?

Bekerja keras dapat mengalahkan bakat seseorang. Jadi tunggu apa lagi, mulailah sedari sekarang!

2. Nggak cuma jadi anak sastra, kamu bisa ikutan komunitas penulis atau sanggar sastra di kota kamu

Komunitas Penulis Anak Klaten

Komunitas Penulis Anak Klaten via https://pangastutihera.wordpress.com

Menulis juga menjadi hobi bagi sebagian bahkan banyak orang. Terkadang mereka menjadikan kegiatan menulis sebagai "pelarian" dari teman-teman curhat yang kadang bukan jadi solusi malah lebih rese. Menulis di blog pribadi misalnya, menjadikan wadah kita curhat atau mengabadikan kejadian lucu, konyol, membanggakan, bahkan haru biru. Tapi ingat ya, jangan sampai membuat tulisan yang dapat menyinggung orang atau merugikan pihak lain.

Untuk menyalurkan hobi menulismu tanpa bingung cari guru, kamu bisa ikutan komunitas atau sanggar sastra di kotamu. Kalau di kotamu belum juga ada, maka kamulah yang wajib melahirkannya. Tentu dengan bantuan komunitas atau sanggar sastra kota lain yang salah satu anggotanya berteman baik denganmu. Makanya, nggak ada salahnya punya temen anak sastra. Di komunitas sastra kamu juga bisa berkontribusi dengan membuat karya terbaik kamu. Pasti mereka akan menghargai kamu kok. Bahkan mereka akan cuma-cuma memberi kamu pengetahuan banyak dan yang pasti pengalaman berharga tentang dunia sastra.

Jadi kamu bisa menambah kemampuanmu untuk menaikkan kualitas tulisanmu, kan?

3. Yang nge-share tulisan kamu masih dikit? Nyantai kalik!

Kalau kamu udah berani mem-posting karya aslimu di media sosial, tapi yang ngeshare, ngelike, atau viewersnya dikit, duh nyantai aja kalik! Itu bukan satu-satunya parameter kamu menjadi penulis kenamaan kok. Kamu cuman perlu belajar dan berpikir. Kamu perlu tahu kenapa tulisan orang X itu banyak yang ngeshare, ngelike, atau viewersnya berpuluh-puluh, beribu-ribu, bahkan berjuta-juta. Iya, banyak banget sampai semua orang ngomongin penulisnya. Gimana nggak ngiler liat tulisan yang populer? Iya, memang cita-cita semua penulis adalah tulisan yang disukai atau disebar sebanyak mungkin hingga dibaca kalangan umum seluas mungkin. Tapi yang perlu kamu tahu adalah apa sih yang membuat tulisanmu dan tulisannya memilikir jumlah likers dan viewers beda? Apakah kualitas tulisan, media tempat kamu menyebar luaskan tulisanmu, atau tema tulisan kamu tidak terlalu diminati banyak orang.

Maka, berpikirlah lebih luas saat tulisan kamu belum diminati banyak orang. Bukan berarti tulisanmu kurang bermutu, tidak bagus, dan tidak pantas dipublikasikan. BUKAN! Tapi bagaimana kamu membuat tulisanmu mampu bersaing dengan tulisan lainnya di media sosial dan kehidupan orang. Dan jangan lupa, cobalah untuk membuat tulisan yang berkualitas, bermanfaat, jika perlu sarat akan makrifat!

4. Menghasilakan tulisan yang diminati banyak orang memang kebanggaan, tapi lebih bangga lagi jika tulisan terbaikmu adalah hasil pikiran dan kerja kerasmu sendiri

Fokus menulis!

Fokus menulis! via http://cafemotivasi.com

Menulis karya yang dikagumi orang adalah kebanggaan bagi penulis, apa lagi jika karya itu bisa menjadi inspirasi bagi seseorang untuk bangkit dan lebih produktif. Tapi untuk menggugah seseorang, kamupun harus bangun dari santaimu yang kepanjangan untuk mengumpulkan pengalaman. Mengapa?

Memiliki karya emas adalah cita-cita siapapun, terlebih karya yang benar-benar hasil dari pikiran dan kerja kerasnya sendiri. Penulis adalah seorang yang jujur, spontan, dan blak-blakan. Jadi, buat kamu penulis yang baru saja menjelajahi dunia sastra, kamu nggak perlu takut atau bosan karena tulisanmu kurang diminati. Kamu akan lebih bangga saat kamu sudah melewati banyak rintangan untuk mencapai kesuksesan, yakni karya yang dipuja banyak orang. Yang terpenting pula adalah kamu menghasilkan karya mandiri, jujur, bukan hasil saduran ya!

5. Disukai banyak orang bukan satu-satunya parameter tulisan yang baik. Tapi seberapa berguna karyamu bagi banyak orang adalah kebanggaan terbaik

like or dislike?

like or dislike? via http://jagoanpassiveincome.com

Menghasilkan karya yang dikagumi banyak orang adalah kebanggan, tapi melahirkan karya yang sangat berguna bagi semua orang adalah kebanggan terbaik! Karena yang berguna akan selalu dikenang hingga kapanpun!

6. Kamu hanya perlu belajar dan belajar. Soal hasil, biar Tuhan yang bekerja!

Dengan belajar, aku tahu!

Dengan belajar, aku tahu! via http://kompasiana.com

Menciptakan karya bukan soal gampang. Seorang juga perlu memiliki ilmu tentangnya. Buat kamu yang beneran ngebet pengen terkenal menjadi penulis, kamu cukup belajar dan belajar. Nggak perlu takut untuk menghasilkan karyamu. Mau orang suka atau nggak suka, itu masalah mereka. Yang terpenting adalah kamu sudah berniat baik untuk belajar, menyebarkan ilmu yang kamu punya melalui tulisan. Selebihnya, biar Tuhan yang bekerja. Ikhlas dan berserah diri adalah password terkabulnya keinginan kamu, do'a adalah red carpet untuk mencapai Tuhanmu!

7. Nggak peduli mau berapa likers, menulislah karena kamu yakin akan menjadi penulis yang sukses

Sukses? Pasti!

Sukses? Pasti! via http://www.beritainfo.web.id

Berhenti menulis karena jumlah likers dan viewers tulisanmu sedikit adalah hal bodoh. Likers dan viewers bukanlah nilai akhir dari perjalananmu untuk menjadi penulis ternama. Apakah pada zaman Pramoedya, Soe Hok Gie, atau Chairil Anwar menulis, mereka memiliki jumlah likers yang banyak? Nggak kan?

Jadi teruslah menulis, apapun yang terjadi. Yang terpenting adalah niat baikmu untuk menulis, semua akan berubah saat kamu sudah pada waktu yang tepat. Pengalaman dan rintangan adalah pelajaran berharga. Mengejar mimpi memang tak mudah, tapi meraih bintang adalah sebuah kewajiban!

8. Menghargai penulis lain dengan membaca karya terbaiknya, membuat kamu banyak memetik pelajaran penting

Membaca adalah jendela terbesar untuk mengetahui banyak hal!

Membaca adalah jendela terbesar untuk mengetahui banyak hal! via https://sehatsampaitua.com

Jangan menyempitkan pandanganmu kepada sesama penulis. Mereka bukan kompetitor, bukan saingan. Anggap saja menulis adalah kegiatan menyenangkan. Toh saat ini kamu menulis untuk kegiatan biasa kan? Belum untuk mendapatkan penghasilan yang banyak. Jadi nikmati setiap pelajaran yang kamu petik dalam setiap langkah yang kamu pilih.

Dengan menjadi pembaca yang baik, kamu akan merasa lebih mengerti mengenai dunia kepenulisan. Mengerti bahasa imajinasi seorang penulis dengan alirannya. Mengenal banyak alur cerita dan diksi yang nikmat. Tidak perlu jauh-jauh ikut kelas menulis dari penulis kenamaan. Jika kamu bisa berkonsentrasi dengan buku-buku penulis terkenal, kamu akan banyak belajar cukup dengan membacanya.