Pada cinta yang sejatinya belum benar-benar selesai. Ketahuilah, semesta sepertinya masih ingin kita bersama. Menikmati deras hujan di bawah payung yang sama. Intim berdua, larut dalam pelukan dan percikan rindu yang membara.

Senyummu pun masih sama. Tidak ada yang berubah dari enam bulan usia perpisahan kita. Kemarin malam pun begitu. Tapi wajahmu sayu. Matamu berkaca-kaca. Aku menunggu kau membuka suara. Berharap ada kata rindu di sana.

 

1. Kamu tahu betul, ada rindu yang kusembunyikan enam bulan belakangan. Sejak kita memutuskan untuk berpisah selamanya.

Rindu itu kita simpan rapat-rapat

Rindu itu kita simpan rapat-rapat via http://tolibintolibin.blogspot.com

Tatapan mata itu masih sama. Teduh. Menawarkan kata ‘pulang’ bagi segala kelelahan. Kita memang sudah enam bulan pergi tanpa pesan. Meski tak sepenuhnya saling memunggungi, tetap saja, aku merasa ada yang berbeda. Masing-masing sibuk dengan dunianya. Aku kembali terjun dalam aksi sosial untuk anak-anak dan perempuan. Sedangkan kamu, kembali menggeluti hobi dan pekerjaanmu di dunia jurnalis. Kita bagai dua elemen yang tak lagi menyatu. Bila kemudian dipertemukan dalam satu ruang yang sama, kita berbincang. Tetap tertawa dengan khas masing-masing. Seolah tak ada yang berubah. Padahal jelas-jelas kita saling membenci. Berusaha melupakan satu sama lain. Menggunakan tameng ‘kesibukan’ untuk menutupi luka.

Dan malam ini, kita mengakui segalanya. Tentang perempuan yang pernah mengisi hatimu semenjak aku pergi. Tentang laki-laki yang mempercundangi aku setelah kamu. Tentang rindu kita yang tersimpan rapat di sanubari. Tentang ‘kesepian’ yang kamu rasakan. Tentang pelukan yang tak lagi ada kala kesedihan menyerang. Tentang kesuksesan yang kita capai sejak memutuskan untuk berpisah. Ya, semuanya kita ungkap tanpa ada rasa takut untuk ditertawai. Aku merasa menemukan duniaku lagi. Begitu pun denganmu. Kita saling menemukan serpihan yang selama enam bulan hilang ditelan perpisahan.

2. Kecupan manis seolah jadi saksi, betapa kita lemah dalam hal ini. Kita memang tak pantas jadi ‘mantan’. Sekalipun bersama tanpa status, itu lebih baik daripada harus saling meninggalkan.

Sesederhana ungkapan rindu lewat kecup rasa rindu

Sesederhana ungkapan rindu lewat kecup rasa rindu via http://selongkar10.blogspot.com

Kamu mengusap rambutku. Berbisik pelan di telinga, “memang benar apa kata orang, yang sederhana memang sudah ditemukan. Kalaupun ada, mungkin cuma satu. Dan aku menyesal telah melepaskannya,”.

Menurutmu, apa yang bisa kuungkapkan sesaat mendengar ujarmu? Mungkinkah tertawa atau menangisi segala kekosongan kita? Ketahuilah, dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk saling mengisi dan mencintai. Aku mengenalmu bukan sekedar jadi kekasih. Tapi lebih dari itu: jadi sahabat dan sosok yang setia mendampingimu.

Kau mungkin tahu, perempuan mudah luluh walau hanya mendengar bisik manis soal dirinya. Kau pasti paham betapa aku mengkhawatirkan lingkaran hitam di matamu. Lingkaran penanda segala lelah dan beban yang kau tampung sendiri. Ya, kau pasti mengerti. Aku begitu merindukan dua belas jam dalam sehari yang pernah kita lewati. Bahkan, kita tak pernah melewatkan sesenti pun ruang di Jogja dengan tapak kaki yang beriring. Kamu spesial, bahkan lebih spesial daripada kespesialan itu sendiri.  

3. Kalau aku memelukmu seperti ini, tidak akan ada laki-laki yang marah, kan?

Semoga pelukan kali ini memang tulus dari hati

Semoga pelukan kali ini memang tulus dari hati via http://ciricara.com

Pertanyaanmu menjebak. Aku tertawa menanggapi. Merunut segala tatapmu yang teduh. Menyentuh senyummu yang manis dengan tatapan penuh tanya. Mengapa harus ada yang marah, bahkan mereka semua mengerti, aku belum mampu berpaling darimu sampai saat ini.

Kamu bahkan selalu menyempatkan diri menengok statusku di sosial media tentang laki-laki yang mengetuk pintu setelah kamu. Meski tak pernah meninggalkan jejak, tapi aku tahu kamu mencari tahu. Malam ini kaupun mengakui. Cemburu pasti ada dan aku dapat merasakannya. Tapi, masih ada banyak hal yang kamu lewatkan tentangku. Kesibukanmu menutupi segala sudut pandangmu. Seolah kita dapat dengan mudah terpisah. Dan pada kenyataannya, cinta itu masih ada dan sepertinya akan selalu ada tanpa kita minta. Perpisahan hanyalah jeda. Agar kita bisa berbenah dengan kepantasan masing-masing.

4. Enam bulan kesendirian membuatku jauh lebih dewasa dalam mengartikan permintaanmu untuk kembali.

Aku sudah kuat berjalan sendiri tanpamu

Aku sudah kuat berjalan sendiri tanpamu via http://rudicahyo.com

Semua orang berlomba menyemangatiku. Mendikte agar aku tiada pernah kembali padamu. Tertekan? Ya. Tapi sahabat-sahabatku tahu betul, betapa menderitanya aku dahulu saat bersamamu. Badanku menyusut. Aku terlihat lesu. Setiap hari menangisi ketidakpekaanmu. Larut dalam kecemburuan yang tak kenal kata henti. Soal kebiasaanmu menanggapi perempuan-perempuan lain dengan kemesraan yang di ambang batas, atau soal hobi-hobimu yang menyita waktu.

Segala luka di masa lalu berusaha kuobati, dengan keikhlasan melepas dan melupakanmu perlahan tanpa bermaksud menyakiti. Aku mulai selektif memilih tamu yang boleh masuk ke ruang hatiku. Satu dua lelaki pernah mengisi setelah kamu. Selesai mengucap “hai”, mereka pun pergi. Mereka tak kembali, bahkan hingga air mataku kering dan mengeras di pipi. Mengukir sebuah ketegasan di raut wajahku.

Aku cukup bahagia dengan keberadaan sahabat-sahabatku dan sahabat-sahabat kita yang selalu mampu menggenapi. Kamu memang sering terlihat bergabung dalam lingkaran, namun belakangan, kesibukan menyita waktumu untuk kami. Aku memaklumi, begitu pula dengan mereka. Lalu, kuputuskan untuk tidak jadi pioner untuk cinta yang kesekian kali. Aku lelah menyiksa diri sendiri. Aku lelah jadi perempuan yang dipercundangi. 

5. Dan malam ini kau datang kembali, dengan sepaket penyesalan, kata maaf dan mata berkaca-kaca. Kau kehilangan sinar. Cahaya yang dulu kutawarkan secara cuma-cuma mendadak hilang dari peredaran.

Aku tak kuasa melihat semua kelemahanmu

Aku tak kuasa melihat semua kelemahanmu via http://islampos.com

Kau adalah lelaki tercerdas yang pernah kutemui. Kau paham betul betapa sulit bagiku menolak kehadiranmu. Tak apa. Aku jauh lebih baik mendapatimu seperti ini. Bukan maksudku menertawai. Hanya saja, aku rasa karma sudah cukup sampai di sini. Sebagai orang yang menyayangimu, aku tak ingin kamu larut dalam kesedihan. Aku tak sanggup melihatmu pucat pasi. Aku tak mampu melihatmu menahan beban sendiri. Larilah ke pelukanku. Aku sudah lama menanti.

6. Pelukan ini ikhlas, tanpa mengharap balas. Pun bila ditakdirkan berjodoh, aku hanya ingin menemui sosokmu yang jauh lebih dewasa.

kutunggu kamu di puncak kesuksesan

kutunggu kamu di puncak kesuksesan via http://merdeka.com

Malam ini kita bagai dua insan yang dimabuk cinta lagi. Kau dan aku sepertinya lupa akan status sebagai mantan yang tersemat di sisi. Aku bahkan lupa kalau sebulan lagi kau genap berusia dua puluh tahun. Berjarak dua tahun lebih muda daripada aku. Meski demikian, kau secara terang-terangan mengingatkanku. Bahwa janjimu untuk jadi yang lebih baik akan segera kau tepati.

Sayangku, kita memang sulit untuk kembali sebagai pacar dan kekasih tanpa ikatan resmi. Aku pun tak bisa memaksakan diri. Silahkan berbenah bila kau mencintaiku. Pun begitu pula aku. Kamu tak perlu banyak bertanya soal rasaku. Semestapun tahu, bahwa rasa nyaman ini hanya mampu ditambatkan padamu. Entah akan dibaca atau tidak olehmu, aku tak pernah peduli.

Ku yakin kamu tak buta akan perasaanku. Terima kasih telah mengetuk pintu lagi. Tapi tunggulah aku di teras depan. Tunggulah aku yang sedang sibuk berdandan, agar dapat menyeimbangimu dari berbagai sisi.

Untuk kesayanganku yang sedang sibuk menjadi orang paling penting di UKM kampus, jangan lupa istirahat. Minumlah secangkir teh buatanku. Semoga dapat selalu menghangatkanmu. Semoga dapat selalu membuatmu hidup lagi dalam mimpi dan imajinasi. Semoga kita bertemu kembali sebagai dua insan yang siap untuk saling membahagiakan.

Bila jantungku untukmu dan jantungmu untukku, percayalah, sesulit apapun, pasti akan kembali menemui. Aku percaya padamu, meski untuk saat ini, kita memilih untuk jadi sepasang kekasih diam-diam. Percayalah, semesta tak pernah mengingkari, bahkan untuk urusan sesederhana ini. Kuharap kamu selalu mengerti. Detik ini, hingga nanti.