"Kamu mendapat nilai E. Cepat kembali ke Medan!"

Tanganku bergetar membaca pesan dari salah satu sahabatku. Aku sedang menikmati liburan di kampung halaman dan sedang bersiap untuk melakukan pelayanan ke daerah lain. Kabar ini sampai hanya lima menit sebelum keberangkatan dan sangat tidak mengenakkan untuk membatalkan perjalanan bersama keluarga pendeta. Dan apa alasanku nantinya? 

Terlalu memalukan rasanya membatalkan perjalanan dengan alasan nilai "E". Ingin rasanya aku bersembunyi ke kamar dan menangis. Tetapi hari itu, aku menahan air mata dan tetap melanjutkan perjalanan. Aku merenungi alasan di balik nilai "E". Mengapa aku bisa mendapatkannya?

1. Aku menghadiri setiap kelas. 16 kali pertemuan.

Murid yang baik via http://www.wikihow.com

Ya, aku adalah mahasiswa yang baik. Mungkin aku adalah Raju Rastogi dalam film 3 Idiots versi wanita. Aku masuk kelas dan tidak pernah absen. Aku juga mengerjakan PR, rajin bertanya, dan tidak pernah membuat keributan.

2. Memang aku pernah terlambat sekali dan waktu itu ujian.

Sial aku terlambat via http://classroomclipart.com

Aku pernah terlambat sekali dan hanya itu saja. Hanya hari itu memang ada ujian. Tetapi aku menelepon teman sekelasku dan meminta tolong untuk memberitahu kepada Anda bahwa saya terlambat. Hari itu memang angkotnya rusak. Sungguh, angkotnya rusak! Dan jawaban anda membuat saya spechless, "Minta surat keterangan dari supir angkotnya!"

Advertisement

Minta surat keterangan dari supir angkot? Bagaimana mungkin saya bisa menemukan sopir angkotnya?

Dan saya nggak hapal nomor kendaraannya. Saya nggak tahu kalau syarat dimaafkan hari itu adalah surat keterangan dari sopir angkot.

3. Saya hanya menuntut penjelasan, Pak. Penjelasan yang logis.

Mengapa aku begini? via http://www.s-curiosity.com

Rasanya tidak ada alasan memberikan saya nilai E. Jadi, untuk beberapa waktu saya menelepon Bapak dan meminta untuk bertemu. Saya tidak meminta nilai saya diubah. Hanya rasanya, Bapak berhutang penjelasan kepada saya. Tetapi Bapak kelihatannya bertele-tele dan tidak memiliki argumen untuk saya. Bapak tidak pernah mau menemui saya.

4. Nilai E adalah momen untuk berhenti dan bersiap untuk berlari.

Saya merasakan ketidakadilan. Tetapi nilai E membuat saya berpikir banyak hal. Bahwa tidak semua orang yang mendapat nilai E berhak mendapat nilai E. Pasti sebagian dari mereka hanya karena ketidakadilan. Bahwa ada sebagian orang yang kau anggap guru tidak menganggapmu sebagai murid. Bahwa tidak semua orang yang menyatakan dirinya guru patut kau tiru, karena kau tidak harus kencing berlari.

Bahwa nilai E adalah penilaian satu orang saja. Sementara kau punya ribuan orang atau lebih di sekitarmu dan mungkin tidak satu pun dari mereka memberimu nilai E.

5. Aku belajar untuk berkata ” TIDAK”.

Sejak kejadian itu, aku belajar berkata tidak kepada hal yang kuanggap tidak benar di kampus. Menjadi mahasiswa yang baik bukan berarti aku harus menuruti segala peraturan tak tertulis namun menekan. Percayalah! Aku belajar ini dari seorang guru. Sejak kecil aku belajar PPKn dan agama. Tidak satupun dari pelajaran itu yang mengajarkanku untuk menuruti birokrasi kampus yang terkadang menyeret mahasiswa ke arah yang salah.

6. Terimakasih, Pak! Karena membiarkan saya berhenti dan berpikir.

Terimakasih via http://www.gurl.com

Terimakasih mengizinkan saya berpikir banyak hal setelah insiden nilai "E", Pak. Saya banyak berubah sejak saat itu. Mungkin di masa mendatang, saya akan jadi dosen atau guru. Saya berjanji kepada diri saya sendiri. Saya tidak akan memberi nilai E kepada siswa saya.

Nilai E adalah 0. Artinya tanpa melakukan apapun, seorang mahasiswa akan mendapat nilai E. TANPA MELAKUKAN APAPUN, termasuk tidak menghadiri kelas.

Terima kasih telah mengizinkan saya merasakan nikmatnya nilai E.