Setiap pasangan menginginkan buah hati yang hadir dalam kehidupan mereka. Begitu pula dengana ku yang kini Tuhan percayai untuk menjagamu, Anakku Sayang. Tidak ada satu pun dari kami yang bisa memilih siapa yang menjadi buah cinta dari kami. Mulai dari jenis kelaminnya, bagaimana wajahnya, terlebih sifat yang sudah engkau bawa.

 

 

1. Kamu hadir memberi warna baru, gadis mungilku.

Hello, duniaku!

Hello, duniaku! via http://www.lintas.me

Tuhan mengaruniai kami seorang gadis mungil dengan muka menggemaskan, yaitu kamu. Ini adalah awal di mana hidup kami berubah terutama aku yang kini menjadi Ibu dan memiliki kesibukkan untuk merawatmu. Harus siaga 24 jam adalah kebahagiaan tersendiri walau tidak dipungkiri, ada rasa lelah yang tidak bisa dijelaskan.

Tapi jangan khawatir Anakku Sayang. Melihatmu tertawa dan tidur pulas saja, lelahku seakan menguap sampai tidak tersisa lagi.

2. Kini kamu sudah bisa memanggilku dengan sebutan Ibu. Bahagianya Ibu mendengar suara manismu.

Suaramu kini menghiasi hari-hariku, Sayang

Suaramu kini menghiasi hari-hariku, Sayang via http://vemale.com

Pertama kali Ibu mendengar suaramu adalah ketika kamu menangis. Ibu hanya bisa tersenyum dan melihatmu yang saat itu berada dalam pelukan Nenek. Ayahmu saat itu tidak ada, Nak. Tapi bukan berarti Ayahmu tidak menyayangimu. Ayahmu sayang sekali padamu. Buktinya beliau bekerja keras mencari nafkah untuk kita.

Sayang, jangan kau berkecil hati ketika orang yang menggendongmu untuk pertama kali adalah Nenek. Percayalah bahwa kami tetap menyayangimu.

Kini kamu sudah bisa memanggilku dengan sebutan Ibu. Ibu bahagia, kamu bisa tumbuh sehat dan selalu bahagia. Tidak sekali pun Ibu ingin kamu sakit apalagi menangis karena apapun. Mungkin Ibu akan merasa sedih jika kamu menangis dan Ibu tidak tahu penyebabnya.

3. Kamu sudah memasuki dunia sekolah. Temanmu kini bukan hanya Ibu. Semoga kamu tidak lupa pulang tepat waktu, Sayang!

Temanmu kini bukan hanya Ibu

Temanmu kini bukan hanya Ibu via http://ansieraamalia.blogspot.com

Kesayangannya Ibu, kamu pun kini tumbuh lebih cepat dari dugaanku. Kini seragam sekolah telah engkau kenakan. Temanmu pun bukan hanya Ibu, sekarang banyak dan beraneka ragam sifatnya. Ibu pun hanya bisa melihatmu dari jauh dan bertemu denganmu. Kini Ibu harus menunggu di jam pulang. Ibu harus bersabar.

Setelah engkau pulang, dengan bahagianya kamu bercerita tentang teman – teman mu yang menemanimu sepanjang hari ini. Sayang, apakah engkau tidak merasa bahwa Ibu merindukanmu?

Kadang Ibu pun ingin berkata, kapan kamu libur, Sayang? Ah tapi itu tidak mungkin. Ibu ingin melihatmu menjadi gadis yang pintar secara akademik juga Sayang. Tumbuh menjadi gadis berpendidikan agar kelak bisa menjadi gadis yang berguna dan tahu kewajiban. Satu hal yang perlu kamu tahu Sayang, Ibu berharap kamu bisa pulang tepat waktu.

Ibu ingin selalu melihatmu, sekali pun saat engkau tertidur pulas. Jika terpaksa pulang terlambat, tolong kabari Ibu agar rasa khawatir Ibu tidak berlebihan.

4. Dunia perkuliahan kini sudah di depan mata. Kamu pun semakin sibuk. Semua semakin terasa, Sayang. Ibu merindukanmu.

Kamu yang berbahagia memasuki dunia baru

Kamu yang berbahagia memasuki dunia baru via http://www.futuready.com

Sekolah saja sudah membuat waktumu tersita. Kini gadis mungilku, kamu sudah beranjak dewasa. Duduk manis di depan laptop dengan rambut diikat sekenanya adalah rutinitasmu. Sesekali kamu mengambil sepotong kue hasil tanganmu sendiri dan menikmati secangkir coklat hangat kesukaanmu. Ibu hanya bisa menatapmu dan beharap tugas mu cepat selesai.

Setelah selesai, tenyata kamu masih saja disibukkan kembali dengan ponselmu. Sayang, saat engkau di rumah, letakkan ponselmu untuk beberapa menit saja. Sempatkan waktumu untuk berbincang dengan Ibumu ini. Sekarang kamu memang sudah tumbuh dewasa. Mungkin ada beberapa lelaki yang mencoba mendekatimu untuk menjadikanmu kekasih.

Ah, benar saja yang Ibu keluhkan. Kini ada lelaki yang begitu engkau sayangi, yang hampir setiap saat engkau kabari. Beberapa kali Ibu mendengarkanmu berbicara dengannya melalui ponsel genggammu dengan tawa renyah yang selalu kamu lemparkan. Jarak kita semakin terasa Sayang, walau memang Ibu beberapa mengajakmu bercanda sampai kau pun tertawa.

Tapi Sayang, Ibu ingin kamu meluangkan waktumu sejenak untuk wanita tua yang semakin merindukanmu ini.

5. Saat kamu bercerita tentang siapapun, Ibu pun bahagia. Ibu ingin seperti ini denganmu setiap hari. Sederhana, tapi ini lebih dari cukup dari yang Ibu harapkan.

Senyum yang selalu Ibu rindukan

Senyum yang selalu Ibu rindukan via http://health.kompas.com

Ibu kini menyadari, kamu tidak pernah berubah Sayang. Mungkin Ibu hanya takut kehilanganmu karena kesibukkanmu yang tiada habisnya. Kini libur kuliahmu segera datang, tugasmu sebagai mahasiswa sementara sudah berakhir dan kini waktunya menikmati liburan. Sekarang setiap waktu kamu bercerita panjang walau sesekali kamu tersenyum sendiri menatap layar ponsel pemberian Ayah tahun lalu.

Tapi tidak mengapa, Sayang. Tahukah kamu? Ibu selalu lebih bahagia saat bersamamu. Terlebih ketika kamu mau berterus terang tentang lelaki yang membuat pipimu merona. Dan hal yang paling ibu rindukan adalah sifat manjamu, Nak. Tak peduli berapa usia mu sekarang.

Ajaklah ke rumah, biar Ibu kenal.

Itulah kalimat yang akhirnya Ibu lontarkan terhadapmu.

Sayang, siapa pun pendamping hidupmu nanti, satu yang Ibu pinta. Jangan pernah membuat engkau lupa terhadap wanita tua ini. Sesibuknya kamu Sayang, sempatkan waktumu untuk mengunjungi Ibu. Ibu tidak perlu engkau bawakan sesuatu. Cukuplah kamu datang dengan senyum bahagia yang selalu terpancar di raut wajahmu.

 

 

Dariku,

yang tak pernah lelah mengucap semoga kepada Tuhan, untukmu.