Saat ini usia kita memasuki masa produktif dengan segudang impian dan keinginan. Sudah banyak masyarakat muda memiliki side job untuk memenuhi kebutuhan bahkan keinginan untuk mencapai taraf hidup tertentu. Hasrat untuk mendaki tangga karir diiringi kegagalan serta tersendatnya rezeki yang diterima terkadang membuat kita patah semangat. Ada kalanya kita merasa iri dengan kehidupan tetangga yang tampak lebih makmur dan sukses dari kita. Semoga tulisan ini bisa sedikit mengangkat kesedihanmu, mengobarkan api semangatmu untuk tetap hidup.

 

1. Rezeki itu Ibarat Kita Mancing.

Kalau lagi suntuk coba sesekali kamu pergi ke pantai. Ikut para nelayan mencari ikan. Biarkan mereka sibuk dengan tangkapannya dan sibukkan dirimu dengan memancing. Kalau dihari itu kamu lagi beruntung, kailmu akan selalu dimakan. Tapi kalau hari itu kamu lagi apes, pasti jarang sekali dapat ikan bahkan sama sekali enggak dapat.

Nelayan mengandalkan insting dan pengalaman. Karena mereka sadar bahwa mereka tidak bisa selalu beruntung. Walaupun ditempat yang sama mereka meletakkan umpan tetap saja tidak ada jaminan esok akan memperoleh hasil yang sama banyak. Secara teori di laut pasti ada ikan tapi tidak selamanya pancing serta umpan yang kamu lempar akan menuai hasil. Kamu tidak tahu apa yang ada di dalam laut, apakah posisimu tepat untuk melempar jaring. Yang bisa kamu lihat adalah luasnya permukaan air laut sejauh mata memandang, bukan kedalaman air laut serta posisi ikan. Sama seperti rezeki. Walaupun kamu sudah melempar kail dan umpan ( bekerja atau berwiraswasta ) tetap saja kamu harus menunggu rezeki itu hadir.

2. Rumus Rezeki Seperti Saat Kamu Ingin Makan Sesuatu.

Kok hadirnya rezeki saat kita  ingin makan gorengan, martabak, bakso, mie pangsit?

Iyalah. Hadirnya rezeki itu seperti kamu ingat langganan bakso, mie pangsit, gorengan, martabak,sate, serabi solo, ayam penyet, pecel lele, dan lain-lain. Berarti itu rezeki bakul yang kamu beli nanti. Rezeki itu seperti ban bocor, komputer kena virus, HP jatuh dan layarnya retak, jerawat nongol sehingga kamu ingin facial. Berarti itu rezeki tukang service yang kamu datangi.

Artinya Tuhanlah yang memberikan rasa ingin makan sesuatu, Tuhanlah yang mengingatkan kamu pada abang bakso langgananmu. Terkadang pula ada hal yang aneh menimpa, hal-hal sial yang bisa jadi itu karena kelalaianmu ataupun karena emang cobaan yang pada akhirnya lewat dirimulah Tuhan memberi rezeki pada orang lain. Dan itu berlaku juga untuk orang lain yang mendatangkan rezeki untukmu. Jika kamu berdagang, maka Tuhan akan membuat pelangganmu ingat padamu, jika kamu bekerja di kantoran Tuhan akan membuat si Bos atau Manager atau Surpervisior ingat padamu, memberimu pekerjaan tambahan dengan fee, dinas luar kantor, terlibat dalam proyek yang bisa mendongkrak karir. Lewat itulah Tuhan bekerja dalam hidupmu, menaikkan rezekimu.

 

3. Rezeki Seret? Memang Lagi Siklusnya.

My Wallet is like an Onion

My Wallet is like an Onion via http://funnyand.tumblr.com

Kok rezeki ada siklus? Enggak percaya kalau rezeki ada siklus? Contoh nyata nih, yang baru aja senter berita kemarin. Soal motivator di salah satu stasiun televisi. Beberapa tahun lalu beliau bener-bener berjaya dengan kata-kata motivatornya. Tapi hanya karena satu masalah pada akhirnya beliau jatuh. Contoh lain lagi, pentolan grup band ternama di Indonesia yang dulu terkenal banget, akhirnya karena suatu kasus, dia sudah tidak terdengar lagi kabarnya, karyanya. Dan masih banyak contoh-contoh lain.

Siklus rezeki seseorang itu bergantung bagaimana cara dia bangkit ke posisi puncak, bagaimana cara dia mempertahankan dan bagaimana pula cara dia menangani masalah yang menimpa. Seperti iklan snack yang dibawakan oleh Agnes Monica, live is never flat! Mungkin saat ini kamu sedang lelah berjuang, ingatlah bahwa semua orang sukses di dunia ini melalui proses perjuangan yang sama seperti kamu rasakan. Tapi hasilnya akan berbeda jika kamu berjuang dengan totalitas. Ingat bahwa kerja keras tidak akan pernah berbohong.

Kutipan salah satu ayat dari Al Qur'an semoga jadi penyemangat.

... Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami bergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)... Qs. Ali Imran 140

4. Kerja itu Emang Berat, Tapi Jauh Lebih Berat Lagi Jadi Pengangguran

Ada kalanya memang kita merasa suntuk dalam rutinitas. Terkadang beratnya bekerja membuat kita ingin di rumah, menonton TV seharian, tidur sampai siang. Dan lakukanlah saat hari libur, atur waktu agar kamu bisa menikmati hari yang kamu dambakan. Tapi bila rasa bosan bekerja itu menghampiri, coba pikirkan, sampai berapa lama kamu tahan untuk menganggur? Mungkin hari pertama sampai hari kedua kamu bisa menikmati kegiatan seperti memasak, menonton tv seharian, belanja. Tapi di hari ke tiga dan seterusnya kamu akan sadar bahwa kamu butuh kegiatan untuk menghabiskan hari, butuh kerja untuk menghidupi dirimu (dan keluarga bila kamu sudah berkeluarga). Milikilah mimpi sederhana, ambisi kecil agar kamu terpacu dalam bekerja. Misalkan traveling seminggu di new zeland? Atau punya alat mendaki baru?

Sadarilah mereka yang masih menganggur dalam kehidupan justru memiliki kekhawatiran lebih besar dibandingkan mereka yang bekerja. Mereka yang menganggur belum melangkah sedikitpun dari tempat duduk dan permasalahan yang menghampiri hanya di buang sementara dengan bersenang-senang. Masih ingat rasanya jadi jobseeker?

Get busy living or get busy dying-Andy Dufresne-Shawshank Redemption

5. Waktu adalah Uang

Time is money

Time is money via https://www.quotationof.com

Esensi waktu adalah uang memang benar adanya. Adakalanya kita merasa waktu cepat berlalu. Bukankah terasa seperti kemarin sore kamu bertemu dengan dia dan besok kalian akan menikah. Rasanya baru kemarin kamu masuk universitas dan sekarang sudah empat tahun bekerja. Rasanya baru kemarin kamu dimarahi oleh orang tua karena pulang larut dan saat ini sudah jadi oranag tua dan punya momongan. Butuh berapa menit kalian membaca tulisan ini padahal satu menit yang lalu kalian berniat mandi, dan setelah membaca tulisan dan diakhiri browsing artikel lain dan nyeletuk 'Ya ampun sudah jam segini'. Seperti itulah waktu habis. Terkadang diisi dengan hal yang tidak jelas.

Sempat viral orang kaya di Myanmar yang bagi-bagi uang karena kondisinya kritis. Mungkin dia sadar bahwa kekayaan bukan segalanya saat sakit. Sama seperti orang yang sudah tua, tinggal menunggu ajal mereka akan berpandangan lain soal kehidupan. Sama seperti Steve Jobs memandang kehidupannya saat ia kritis karena kanker. Di kutip dari lensaindonesia.com yang bisa kalian baca di bawah ini

Harta kekayaan yang aku peroleh saat aku hidup, tak mungkin bisa aku bawa pergi. Yang aku bisa bawa adalah kasih yang murni yang selama ini terpendam dalam hatiku. Hanya cinta kasih itulah yang bisa memberiku kekuatan dan terang.

Ranjang apa yang termahal di dunia ini? Ranjang orang sakit. Orang lain bisa bukakan mobil untukmu, orang lain bisa kerja untukmu, tapi tidak ada orang bisa menggantikan sakitmu. Barang hilang bisa didapat kembali, tapi nyawa hilang tak bisa kembali lagi.

Saat kamu masuk ke ruang operasi, kamu baru sadar bahwa kesehatan itu betapa berharganya.

Kita berjalan di jalan kehidupan ini. Dengan jalannya waktu, suatu saat
akan sampai tujuan. Bagaikan panggung pentaspun, tirai panggung akan tertutup, pentas telah berakhir.

Yang patut kita hargai dan sayangkan adalah hubungan kasih antar keluarga, cinta akan suami-istri dan juga kasih persahabatan antar teman.”

Jadi waktumu akan kamu habiskan untuk apa? Boleh kalian berpikir keras memperoleh rezeki, tapi jangan lupakan orang di sekitarmu, kebahagiaan dirimu, kesehatanmu.

6. Dan Sungguh, Kelak Tuhanmu Pasti Memberikan Karunia-Nya Kepadamu, Sehingga Engkau Menjadi Puas

Jadi bersabarlah untuk menunggu waktu bahagiamu datang. Berikan yang terbaik untuk hidupmu, orang-orang di sekitarmu. Menang saat ini terasa berat karena itu adalah proses dalam hidup. Bukankah memulai itu mudah tapi mempertahankan sesuatu itu susah? Nikmati hidupmu saat ini, nikmati setiap prosesnya, hargai waktumu kelak kamu akan tersenyum puas atas jerih payah yang kamu keluarkan.