“Sudah semester tua, sudah harus mikir judul skripsi”

Sebagai seorang mahasiswa, hal yang paling diharapkan tentunya lulus dengan tepat waktu bersama teman-teman dan membangkan orang tua. Awal kuliah, kita masih disebut maba, kita terlena akan gemerlap kehidupan mahasiswa. Jadwal kuliah yang semau kita, tak lagi memakai seragam, bebas berekspresi diri. Dan masih banyak lagi ke hedon-an hidup mahasiswa yang membuat kita terlena. Lalu waktu terasa begitu cepat, seperti rasanya baru kemarin kita dibentak habis-habisan ketika ospek. Sekarang kita begitu heboh dengan tugas akhir yang disebut skripsi.

 

1. Duh sudah tua

“Rasanya baru kemarin deh kita ospek, kok sekarang sudah mau skripsi saja”

Waktu yang berlalu begitu cepat atau kita yang tak terlalu perduli terhadapnya? Kita merasa masih terlalu muda, ditambah lagi dengan muka yang baby face. Duh sudah tua ya? Sudah harus memikirkan judul penelitian. Duh ini adek angkatan mondar mandir, bikin makin sadar aja kalau sudah tua. Rasanya tidak terlalu rela jika kita disebut sebagai angkatan tua, mau gimana lagi dong, jiwa kita masih muda. Yeeaaah.

2. Tugas kita gak tampak sih

“Duh mbak tugasku banyak banget”

“Halah gak sebanyak beban hidupku dek”

Okelah kita sebagai mahasiswa pejuang skripsi, pasti bakal dapat keluhan dari para adek angkatan tentang tugas yang banyak. Laporan yang tiada akhir, praktikum yang sangat panjang. Duh dek, percayalah, kami sangat merindukan saat-saat itu. iya sih kami terlihat tanpa banyak tugas, tapi sungguh kalo boleh milih sih mending tugas kalian. Setidaknya tugas itu tampak oleh mata, sedang tugas para pejuang skripsi ini tak tampak mata, tapi mengguncang otak. Seolah duel otak itu gak cukup memanaskan pikiran.

3. Judul ditolak dosen pembimbing lagi

”Aduh ditolak lagi tolak lagi, pengen ganti dosen pembimbing aja rasanya”

Sudah mikir konsep itu susah, bikin judul itu gak gampang. Begitu maju dosen, ternyata ditolak. Aduh pak dosen, lagu sakitnya tuh di sini kita sampai hafal liriknya lo. Semua dosen sih iya pasti pengen mahasiswanya memilih judul yang paling keren, bagi dosenmu, kamu itu bawa nama dosen, kalau penelitianmu cemen, ya malu lah dosenmu. Apa kamu yakin mau ngajuin judul ‘analisis tingkat stress mahasiswa terhadap bimbingan dosen dengan judul skripsi yang selalu ditolak’? duh gak berbobot banget.. sudah ditolak berapa kali? Tatak wes. Maju  terus pantang mundur.

4. Ini pake metode apa sih

“Horee judulku diterima”

Fix kamu pasti kegirangan banget kalau judulmu diterima oleh dosenmu kan? Berbahagialah secukupnya, karena sesungguhnya masih banyak step by step yang harus kamu perjuangkan. Salah satunya ya ini menentukan metode. Semester sebelumnya sudah belajar metodologi penelitian dan rancangan percobaan sih, tapi tetep aja masih bingung. Satu-satunya cara ya cari dosen yang paham, konsultasilah kalian wahai mahasiswa. Hihi

5. ACC, yes sempro

“liat pak agustono gak? Mau pemberkasan”

“ciyeee mau sempro yaa”

Iyap proposal sudah kelar revisi, saatnya pengujian. Gak semua sih, tapi adalah fakultas yang menerapkan seminar proposal ini. Sudah sampai tahap ini? Belajar yang rajin ya. Nentuin jadwal dosen yang gak semudah ambil uang di dompet (apaa kaitannya?), nyari peserta seminar, belum lagi nyiapin konsumsi. Haduuh memang skripsi tidak mengkhianati biaya kok.

6. Siip yuk penelitian

“lancar sempro, langsung penelitian ah”

Oke ekspektasi memang gak sesuai realita. Kamu bisa berkhayal selesai sempro bisa langsung penelitian. Tapi ternyata banyak hal yang harus kamu persiapkan. Terutama anak sains, mulai dari cari bahan, prepare tempat dan banyak hal lain. Banyak stressor yang menghambat, tapi gak boleh mematahkan semangat. Ayo semangat.

7. Revisi lagi nih

“Pak Kustiawan lagi di Bandung????????????”

Iyaaa penelitianmu udah kelar? Bersyukur gih. tapi jangan lupa buat maju hasil ke dosen pembimbing ya. Kudu rajin. Katanny mau wisuda? Itu anak orang kapan mau dinikah kalo males revisi?

8. Sidang lagi, duh Tuhan

Iya selesai semua masih ada sidang hasil. Ini adalah final dari segala perjuanganmu. Setelah ini, kalo ada yang tanya kapan wisuda, jawab aja “sabtu kalo gak minggu”. Kamu bisa bernafas lega. Sedikit lagi perjuanganmu berakhir. Kamu bisa kasi undangan ke orang tuamu. Yeee

9. WISUDAAAA

Akhirnya kamu bisa kasih undangan keorang tuamu. Undangan yang dinanti-nantikan mereka. Sebagai bukti bahwa anaknya sudah melaksanakan kewajiban belajar di perguruan tinggi dengan baik. Orang tua mana yang tidak bahagia anaknya wisuda. Perjuanganmu selama berbulan-bulan bahkan tahun itu menghasilkan sesuatu yang gak bisa kamu ucapkan. Alhamdulillah.

 

Jadi gimana? Mau nyerah gitu aja sama yang namanya skripsi cuma karena dosen susah ditemuin? Gak pengen gitu pake Toga trus foto sama keluarga? Hihihi. Makanya ayo semangat para pejuan skripsi.