Siapa sih yang nggak kenal sama Tere Liye ? Yup, beliau adalah satu dari beberapa penulis kenamaan di Indonesia. Karya-karyanya selalu laris manis diburu oleh pecinta novel di seluruh penjuru tanah Air. "Hafalan Shalat Delisa", "Tentang Kamu", "Hujan", "Pulang", hingga serial fantasi remaja "Bumi" adalah contoh beberapa karya dahsyatnya. Bahkan, buku pertama yang saya sebutkan tadi, sudah diangkat ke layar lebar.

Apa buku Tere Liye favoritmu?

Anyway, dikenal dengan produktivtasnya dalam menulis, Tere Liye menjadi Role Model bagi para penulis di tanah air, terutama para penulis muda. Banyak yang penasaran dengan rahasia produktivitasnya. Tak hanya itu, banyak juga orang yang ingin mengetahui bagaimana caranya agar naskah bukunya bisa menarik perhatian penerbit. Tentunya, dengan harapan agar bukunya bisa diterbitkan. 

Luckily, saya berkesempatan bertemu dan bertanya langsung pada Tere Liye dalam sebuah talkshow kepenulisan berjatuk "Creative Writing Talkshow". Acara tersebut diadakan di Universitas Paramadina hari Sabtu, 9 September 2017 lalu. Selain memberikan "Nasihat Penting Untuk Para Penulis", beliau juga membagikan tips menembus penerbit mayor. 

Berikut adalah 5 Tips Menembus Penerbit Mayor ala Tere Liye tersebut: 

1. Lakukan Riset terhadap Penerbit

Google via http://google.com


Sebelum mengirim naskah, lakukan riset terlebih dahulu. Penulis itu adalah peneliti yang sangat baik. (Tere Liye)


Yup. Jika naskah yang akan kita ajukan sudah siap, pergilah ke toko buku dan lakukan riset. Cari tahulah penerbit mana saja yang menerbitkan buku-buku dengan tema atau genre yang serupa dengan jenis naskah kita. Kemudian, catatlah pada bukumu dan beri judul "5 Daftar Penerbit Potensial". 

Kenapa hal ini perlu kita lakukan? Ya tentu agar kita bisa memperbesar peluang diterimanya naskah yang kita ajukan kepada penerbit. Tere Liye memberikan sebuah ilustrasi sederhana.

Advertisement

Katakanlah kita menulis sebuah novel Teenlit. Namun karena kita nggak melakukan riset dengan baik, kita mengirim naskah tersebut ke penerbit yang khusus menerbitkan buku-buku politik. Tentu sampai kapanpun, buku kita nggak akan terbit. Beda ceritanya jika kita mengirimkan naskah tersebut ke penerbit yang memang fokus pada tema atau genre yang kita angkat, yaitu Teenlit.

So, apa nih jenis naskahmu? Segera buat "5 Daftar Penerbit Potensial"-mu ya!   

2. Cari Tahu Prosedur Mengirim Naskah

Google via http://google.com


Setiap penerbit pasti pernah mempublikasikan bagaimana prosedur pengiriman naskah ke penerbit tersebut. (Tere Liye)


Ada begitu banyak penerbit yang membuka diri mereka untuk naskah-naskah baru yang sudah jadi dan ingin diterbitkan. Mereka pasti memiliki prosedur pengiriman naskah dan pernah mempublikasikannya kepada khalayak luas. Misal, mereka mempublikasikan dalam website, Facebook, Instagram, atau akun sosial media mereka lainnya. 

Ikutilah cara atau prosedur pengiriman naskah tersebut. Jangan semaunya sendiri. 

Contoh, jika memang sebuah penerbit dalam pengumuman resminya telah menyampaikan bahwa naskah kita harus dicetak (print out), ya cetaklah naskah tersebut dan kirimkan. Jangan bandel. Jangan coba menegosiasi prosedur tersebut dengan misalnya mengirim email dan bertanya, "Apakah saya bisa mengirim naskah saya dalam betuk soft copy?"

Bukan hanya masalah hard copy atau soft copy, tapi perhatikan juga detil yang lain. Misal, jenis font yang digunakan, line spacing, kelengkapan naskah, dan lain sebagainya. Semakin sesuai naskah yang kita kirim dengan prosedur yang sudah ditetapkan penerbit, maka semakin besar pula peluang naskah kita diterbitkan. 

Gimana? Siap ikuti prosedur pengiriman naskah dengan baik? 

3. Siapkan Naskah dengan Matang

Google.com via http://google.com


Pastikan naskah yang akan dikirim adalah naskah yang sudah benar-benar matang. Pastikan bahwa naskah tersebut telah memenuhi standar naskah yang baik. (Tere Liye)


Salah satu kunci utama agar naskah kita bisa diterbitkan oleh penerbit mayor adalah dengan menaklukkan hati editor. Dalam sebuah perusahaan penerbitan buku, pasti ada yang namanya editor. Nah, editor ini memiliki dua tugas: 1) Mengedit naskah yang akan segera diterbitkan, dan 2) Mencari naskah baru. 

Katakanlah dalam 1 bulan, penerbit A menerima 100 naskah baru untuk diseleksi. Nah, karena perusahaan mereka memiliki 5 editor, maka setiap editor mendapatkan 20 naskah baru untuk dibaca. 

Bayangkan ketika kita mengirimkan naskah yang belum matang. Misal, kita nggak menulis sesuai dengan EYD yang benar. Atau, tulisan kita nggak lugas alias muter-muter. Padahal, kita harus bersaing dengan penulis-penulis lain yang juga mengirimkan naskah.

Jika penulis-penulis tersebut mempersiapkan naskahnya dengan baik sedangkan kita nggak melakukannya, maka siap-siap saja untuk mengalami penolakan. Nggak mau 'kan kejadian itu menimpamu? So, persiapkan naskahmu dengan baik! 

4. Tulis Buku yang Ingin Kamu Baca

Google via http://google.com


Buku yang baik itu akan selalu menemukan pasarnya. (Tere Liye)


"Apa sih definisi buku yang baik itu?", tanya Tere Liye dalam talkshow saat itu. Seperti yang sudah diduga, muncul jawaban yang sangat beragam dari para peserta. Misalnya, ada yang menjawab "Buku yang sesuai kebutuhan", "Buku yang menghibur", "Buku yang membuka wawasan", dan lain sebagainya. 

Tere Liye nggak menarik kesimpulan dari apa yang dinamakan "Buku yang baik" itu karena pada dasarnya setiap orang memiliki pandangannya masing-masing. Namun, beliau menggarisbawahi bahwa buku yang baik akan selalu memilki pasar. Dalam kata lain, buku yang baik akan selalu menemukan pembacanya. 

Saat menulis naskah yang ingin diajukan ke penerbit, pastikan bahwa kita menulis untuk pembaca. Kenapa? Karena penerbit akan mencetak dan menerbitkan naskah kita untuk dijual kepada para pembaca. Maka dari itu, selalu tanamkan dalam pikiran bahwa kita menulis buku yang ingin kita baca.

Kalau kita ingin baca, kemungkinan besar, orang lain pun akan ingin membacanya. Dengan demikian, pasar pembaca akan terbentuk dan itu akan menjadi pertimbangan positif juga bagi penerbit. Gimana? Apa kamu siap? 

5. Coba, coba, dan coba lagi!

Google via http://google.com


Naskah untuk novel pertama saya, Hafalan Shalat Delisa, juga nggak langsung diterima oleh penerbit. Saya harus mengalami beberapa penolakan. (Tere Liye)


Berbeda dengan empat tips sebelumnya, tips ini nggak terlalu membahas segi teknis, melainkan fokus pada segi psikis. Ya, tepat sekali! Saat ini kita membicarakan sesuatu yang lazim terjadi di dunia penerbitan buku: Penolakan oleh penerbit. 

Seperti yang kita tahu, dibutuhkan kerja keras, usaha, doa, dan juga keberuntungan untuk akhirnya bisa memiliki naskah yang akhirnya bisa diterbitkan. Namun, kita juga tahu bahwa persaingan untuk mencapai titik itu sungguhlah ketat. Kita harus "tahan banting", kalau kata Tere Liye. 

Kita harus tetap mampu menggingit semangat dan motivasi kita untuk tetap menulis, apapun keadaannya. Tere Liye mengaku bahwa ia sempat menerima beberapa penolakan saat mengirimkan naskah untuk novelnya dan juga saat mengirimkan artikel untuk salah satu harian ternama di Indonesia. Namun penolakan itu nggak membuat nyali dan semangatnya ciut. Itu justru menjadi pelecut semangat yang baru. 

Penolakan adalah hal yang wajar. Namun pastikan bahwa setiap kali kita mengalami penolakan, saat itu pula semangat dan usaha kita harus dilipatgandakan! Ini juga menjadi nasihat Tere Liye untuk penulis yang ada di Indonesia. So, are you ready?