Hai kamu, tak kusangka perjalanan kita melewati hari-hari yang tak hanya suka ria tetapi juga duka lara, yang kadang melelahkan sudah sampai sejauh ini. Terjal dan berliku. Tak jarang kita berbeda pendapat, beradu argumen, dan atau malah saling mencibir.

Terkadang jika sudah terlalu lelah untuk mengutarakan, kita hanya diam, membiarkan emosi masing-masing menguap seiring berjalannya waktu. Kita yang memiliki persamaan sekaligus perbedaan dalam sifat dan mengambil sikap telah ditakdirkan Tuhan sejak awal, bahwa akan ada ikatan berwarna serupa bernamakan persahabatan yang melekat di hati kita.

Aku ingin bercerita sejenak tentang kita. Mengenang cerita yang mewarnai perjalanan kita.

 

1. Pernah suatu ketika ada sikapku yang tak berkenan di hadapanmu, kamu seketika menjauh dan berubah.

kamu marah dan seketika berubah

kamu marah dan seketika berubah via http://katabontang.com

Kala itu aku tak menyangka, kemarahanmu begitu hebat. Kamu yang biasanya bisa mengomel dan bawel, kali ini lebih banyak diam bahkan menghindari keberadaanku. Terkadang, diam bisa mengungkapkan segalanya. Dari situlah aku sadar, kamu benar-benar marah. Aku meminta maaf penuh penyesalan, tetapi tak kamu gubris sedikit pun. Sosial mediaku kamu hapus sepenuhnya.

Kamu bersikap seakan hubungan persahabatan kita cukup sampai disini saja.

Aku bingung harus menebus salahku bagaimana, sebab waktu tak mungkin mundur ke saat dimana aku berbuat salah. Ibarat manusia yang telah mati, tak mungkin hidup kembali hanya untuk membayar hutang-hutangnya.

2. Ternyata bertengkar dengan sahabat sepertimu lebih membuatku frustasi daripada bertengkar dengan pacar yang posesif.

hari-hariku terasa menyedihkan

hari-hariku terasa menyedihkan via http://imgkid.com

Hari-hari dimana aku dan kamu tak berkomunikasi adalah hari-hari yang sangat menyedihkan. Melelahkan. Bagaimana tidak? Kita satu ruang kelas, dan tak ada tegur sapa sedikit pun. Seperti orang yang tak pernah mengenal. Kadang aku berpikir, seberapa besar salahku, sampai kamu tak mau sedikitpun melihatku? Sahabatku, kamu tahu, di hari-hari yang membuat pundakku lebih berat dan merasakan lelah yang membuncah itu, aku cuma bisa memandangmu dari kejauhan.

Apa masih mungkin kita kembali seperti dulu, hai orang yang kini asing bagiku? Tertawa keras, bercanda seputar kebodohan kita, dan duduk berlama-lama di tempat makan favorit kita.

3. Pertengkaran kita tak hanya sehari dua hari, tetapi hingga memakan waktu bulanan kita berseteru. Apa kamu tidak lelah? Aku sendiri sudah mulai pasrah

lelah menunggumu berubah

lelah menunggumu berubah via http://imgkid.com

Kamu yang sudah berubah menjadi orang asing itu tetap saja bersikap dingin. Buatku, itu isyarat darimu bahwa sudah tak ada harapan lagi untuk menyatu. Aku mulai tak peduli dengan kelakuanmu yang makin menyudutkanku. Namun tetap saja aku kepikiran barang selintas saja.

Seseorang yang menyakiti kadang akan merasa lebih sakit hati daripada yang tersakiti...

Dan benar, rasa sakitnya tak kunjung usai, ketika maaf dan penyesalan kita tak ada harganya sedikit pun. Tapi itu memberiku pelajaran, bahwa tidak ada satu toko pun yang menjual kata maaf untuk kubeli.

4. Diam-diam, kuselipkan doa ketika kamu lewat di hadapanku, ketika kamu bercanda dengan teman-teman kita, dan ketika tanpa sengaja kita bertatap mata, semoga kita bisa kembali seperti sediakala

kamu cuma sekedar lewat

kamu cuma sekedar lewat via http://jacob.blogspot.com

Segala cara sudah kutempuh untuk meminta maafmu, tetapi ternyata tak ada balasan sama sekali. Aku kecewa, ternyata kamu sekeras itu. Tetapi aku harus terima.

Dan cara terakhir adalah merelakan sikapmu dan membiarkanmu pergi dengan kebencian yang kamu bawa tentangku. 

Diam-diam aku bersyukur kamu bisa membenciku sedalam itu. Itu artinya aku adalah orang yang cukup berarti hingga bisa membuatmu sakit hati. Aku mulai terbiasa tersenyum ketika melihatmu meskipun masih dengan kebencian yang kamu simpan, masih dengan senyumanku yang selalu kukenakan saat bercanda hangat denganmu.

5. Suatu ketika,tiba-tiba kamu mengundangku duduk di sampingmu, tetapi kali ini kamu yang tersenyum

akhirnya kita duduk bersampingan

akhirnya kita duduk bersampingan via http://sarahalstonphotography.com

Saat itu aku mencari tempat duduk dan tiba-tiba kamu memanggil namaku, bukan nama yang biasa kamu panggil sebagai panggilan akrab kita. Aku menengok dan kamu menepuk kursi di sebelahmu, menyuruhku duduk di situ, di sampingmu.

Seketika aku menjadi salah tingkah dan sedikit kaku, tetapi ku-iya-kan permintaanmu. Kamu mulai mengajakku basa-basi. Jujur aku ingin tertawa. Kamu lucu, berpura-pura tidak ada apa-apa, padahal di balik ini usai terjadi perang dunia ketiga. Sebentar, 'usai' kataku? Ah, apakah ini pertanda kita bisa berteman kembali? Sungguh aku tidak masalah jika harus memulainya dari awal.

6. Pada akhirnya, doa yang pernah kuselipkan itu, muncul ke permukaan hubungan kita, menjadi tali yang mampu mengikat kembali keceriaan yang sempat hilang

keceriaan yang kembali kutemukan

keceriaan yang kembali kutemukan via http://blog.pho.to

Kamu tahu? Berulang kali kupanjat syukur ketika kamu tak lagi menjadi orang lain. Aku tak perlu susah memulai dari awal bagaimana kita berkenalan lantaran kita adalah dua orang yang memang sudah saling kenal, bahkan sangat mengenal luar dan dalam.

Aku percaya, sahabat itu mirip rumah, kemanapun kamu pergi merantau, kembalimu tetap ke rumah.

 

Sahabatku, aku bersyukur karena kita bisa menyelesaikan masalah dan mematahkan jarak yang sempat membuat kita menjadi dua orang asing dengan egonya masing-masing. Sahabatku, sejauh ini kita telah belajar menjadi orang yang seharusnya saling memahami, saling terbuka, dan saling mengerti.

Ya, jika suatu ketika kita bertengkar lagi, tidak apa-apa asal tahu batasnya, mungkin memang perlu ada warna gelap supaya lukisan cerita yang kita buat menjadi semakin mantap. Pernah bermasalah denganmu mungkin adalah ujian dari sebuah pilihan.

Setiap pilihan yang kita ambil akan selalu Tuhan uji, apakah kita yakin atau justru kita akan lari ke pilihan yang lain.

Kini aku lebih yakin. Ya, aku telah memilihmu menjadi salah satu orang terdekat. Sahabat, terima kasih telah ada, meskipun tak mungkin setiap saat.