Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit. Jika tidak mencapai langit, paling tidak kita akan jatuh ke bintang-bintang. Aku tidak ingat pasti kalimat siapa itu, kumohon ingatkan jika kautahu. Kau pernah pula berkata demikian, namun aku lupa kapan. Yang pasti kau sedang menjangkau langit itu. Saat ini, kau sudah meniti tangga-tangga itu. Langkah demi langkah. Aku ingin menjadi bagian dari perubahan negeri ini lewat dunia seni peran, katamu. Ya, kau ingin menjadi aktor handal yang tidak hanya jadi tontonan, tapi juga tuntunan.

Sebelum kau disibukkan dengan agenda syuting ini-itu, roadshow ini-itu, aku hanya ingin memutar kembali rekaman perjalanan kita sebagai sahabat. Sahabat? Aku harap kau masih akui itu.

 

 

 

1. Malas jika hanya jalan berdua, memang lebih seru bareng teman-teman.

Bisa pusing dan jungkir balik menunggumu foto-foto

Bisa pusing dan jungkir balik menunggumu foto-foto via https://twitter.com

Risiko berteman dengan teman yang berwajah sinetronis dan filmis memang begitu. Kalau di tempat keramaian, di mall, seringnya pandangan perempuan dan para cewek labil beralih kepadamu. Sudah begitu nanti teman yang berjalan denganmu ini akan menjadi tukang foto dadakan. Kalau jalan ramai-ramai, kau bisa nyuruh yang lain. Atau kalau kau sedang dikerubungi fans kau, kami tinggal saja hehe..Dimana-mana memang enak jalan bersama dengan teman-teman yang berwajah pas-pasan, ini bisa menaikkan level kegantengan. Dan tak sibuk dengan adegan photo on the road.

"Berjalan denganmu artinya berkurang beberapa level kegantengan kami."

 

 

2. Mengantarmu ke tempat casting membuatku mendapatkan pengalaman penting.

Dunia baru bernama casting

Dunia baru bernama casting via http://www.idseducation.com

Dengan mengenderai motor, aku mengantarkanmu ke sebuah production house ternama di bilangan Jakarta Selatan, sepulang dari kuliah. PH yang sangat produktif membuat sinema elektronik, juga film. Ke sana bukan untuk mendaftar casting, namun kau dapat panggilan casting. Tentu itu keren sekali di saat yang lain pada mengantri casting.

Sesampainya di gedung yang menjulang menembus langit Jakarta yang berhujankan debu, kita mampir sholat dulu. Oh my God, gedung setinggi itu tidak punya mushola. Akhirnya kita sholat di belakang halaman gedung. Lalu kita naik lift, namun ternyata aku tertahan, tidak diizinkan. Aku hanya menunggu di basement dan kau naik ke atas, meski pada awalnya kau ngotot ke security agar mengizinkan naik, namun nihil. Selang beberapa menit, kau datang dengan seseorang berbadan gede. Kau datang bagai pahlawan saja. Not bad.

Di ruang casting director kau ditanya segala macam tentang dunia seni peran. Kau menjawab penuh dengan keraguan.Sementara aku hanya memerhatikan dan bergidik ngeri melihat dua pria yang ada di hadapanmu itu. Berbadan gede, atletis, kokoh, terpercaya dan sangat keriting ujung-ujung jarinya.Nampaknya bumi makin renta dan menunggu kehancuran.  Apakah duniamu nanti seperti ini?

"Segalanya memang penuh risiko. Gagal dan sukses adalah pilihan. Dan orang ganteng tahu harus memilih mana."

 

3. Kabar bagus itu akhirnya datang, kau langsung mendapatkan peran

Jempol dah untuk keberhasilannya

Jempol dah untuk keberhasilannya via http://alpinraft.ch

Sepulang dari casting, sepanjang jalan kau memang banyak bercerita tentang aktingmu. Diminta akting apa ternyata kamu bisa. Dan alhamdulillah, kau lolos casting. Ditawarkan main sinetron. Mendapatkan honor sebesar tiga juta setiap kali episode. Meski bukan pemeran utama namun cukup kece lah ya. Sinetronnya pun sinetron religi. Yang namanya sinetron ya begitu, selalu ada kamera "zoom-in" dan "zoom-out", dan mungkin kata-kata "APA" sambil mata melotot.

Mungkin itu yang ada di bayanganku, secara aku sudah lama tidak nonton drama tv rasa Indonesia apalagi ala-ala hewan terbang Indosiar. Namun ternyata ayahmu kali ini tidak setuju karena banyak benturan dengan jadwal kuliah. Kau pun mengikuti dan mengiyakan dengan kerendahan hati.

"Selama masih banyak yang nonton, sinetron akan berkembang dengan baik lebih dari jamur yang jamuran."

4. Karena kesibukan masing-masing dan jadwal kampus yang padat, akhirnya kita jarang ketemu.

Jarak membuat kita jarang.

Jarak membuat kita jarang. via https://dailysocial.net

Media sosial kini makin bejibun. Facebook, microblog Twitter, Path, IG bahkan yang sekarang yang hits Periscope. Keberadaan medsos-medsos memang membantu. Yang jauh jadi dekat, yang dekat makin menjauh karena asyik menundukkan pandangan, tenggelam di hape.

Toh ternyata kesibukan membuat kita larut. Lupa lebih tepatnya enggan untuk menghubungi satu sama lain. Aku juga sih, termasuk malas dengan teman-teman yang lain. Kabar terakhir kau pernah main sinetron meski satu episode ya? Keren, bro!

"Bukan kesediaan gadget tapi juga kesediaan hati untuk menyapa"

5. Beuh, ternyata harus ditutup begitu jalannya persahabatan.

Tok, tok, tok! Ada orang di rumah?

Tok, tok, tok! Ada orang di rumah? via https://dailysocial.net

Tentu kau ingat pesan WA-ku yang terakhir. Padahal waktu itu hanya nanya tentang kebenaran yang muncul di IG. Namun kau menanggapi dengan sinis tingkat masinis. Memang kenapa? Ada masalah? katamu ketika itu. Agak kaget bin aneh dengan jawabanmu. Sepertinya bukan "elu banget".

Lebih kaget lagi ketika kamu bilang, "ini urusan saya, bukan urusan Anda. Saya tidak punya sahabat seperti Anda!" Lalu kamu memblokir WAku. Oh, lala...Well, kabarnya filmmu mau tayang akhir tahun ini ya? Congrats, bro! Semoga kau akan menemukan ketulusan persahabatan di belantara semu!