Menjatuhkan hati pada seseorang yang kita kenal sejak lama, bukanlah suatu hal yang tak biasa. Sering kali ketika dua orang berbeda gender menjalin pertemanan hingga bertahun-tahun lamanya, salah satu pasti ada yang memendam rasa. Dan seringnya, ketika sudah jatuh cinta, rasa itu hanya terpendam dan takut untuk diungkapkan. Alasannya tak pernah jauh berbeda.

Ini adalah coretan tentang masa lalu yang tak pernah lekang oleh waktu. Tentang seorang gadis yang pernah bercerita tentang indahnya cinta di masa depan. Bagaimana jika apa yang menjadi keinginan di masa depannya justru adalah yang ia kenal di masa lalu? Berungkap cinta, atau memendam rasa hingga semua berjalan apa adanya? 

1. Kau hadir dalam pertemuan pertama kita senja itu. Membangun tawa, membuatku terhanyut ke dalamnya.

I m in love with my best friend. He will never know. via http://www.web-lady.com

Seperti sinar surya yang terbit dari cakrawala timur, kau hadir menghangatkan hatiku yang beku. Memberi terang pada hidupku yang abu-abu. Bukankah kala itu bahagia sedang berpihak pada kita?

Tawa yang mendengung keras di tengah gersangnya lahan tandus sekolah, memberi sekian juta memori yang sulit kulupakan, karena alam pun tahu, kitalah dua insan yang paling berbahagia dengan cara kita masing-masing.

Kehadiranmu membawa bahagia bagi hidupku. Mengetahui namamu, seperti mengetahui cinta telah datang di ambang pintu hatiku yang mulai terbuka untukmu.

2. Aku gadis periang dan kau lelaki pendiam. Kita tahu, perbedaanlah yang menyatukan kita.

Advertisement

What is your most terrible memory? is being in love with my best friend and all we have to do is just friend. via http://www.pureslovenia.com

Ketika aku asyik bermain di bawah terik matahari, berlari ke sana-sini, mencari tahu apapun yang selalu aku ingin tahu di alam yang indah ini, kau justru membeku di balik selimut tebalmu sembari menggerakkan tanganmu, membolak-balik halaman pada bukumu.

Mungkin saat itu, di matamu aku hanya gadis yang terlalu banyak membuang waktu untuk melebarkan tawaku, berteriak tak jelas hingga ruangan kelas itu penuh dengan dengunganku. Namun percayakah, setiap inci gerakan yang kau kira konyol itu, tak sedetikpun aku menyia-nyiakan mataku untuk berlabuh pada mata teduhmu. Memuji segala tindak sempurnamu.

Cause all of me, loves all of you. Love your curves and all your edges. All your perfect imperfections.” — John Legend, All of Me.

3. Lewat tetesan air hujan yang mengalir dari atap yang meneduhkan, aku bercerita tentang masa depan.

Let s grow old together. via https://www.pinterest.com

Kala itu hujan memberi kejutan bagi kita. Dalam sekejap, tak ada yang berlarian mengelilingi lahan tandus sekolah itu lagi, atau sekadar berlari kencang demi mengantri di depan warung bubur di kantin sekolah. Orang itu aku, sedang berdiri kaku sembari menadahkan danau tanganku—merasakan dingin dari tetesan air hujan itu.

Kepada yang lainnya, aku bercerita tentang masa depan. Tentang cinta yang saat itu mulai tabu diperbincangkan. Yang kami tahu, cinta itu menyejukkan, seperti tetesan hujan ini. Namun pada kenyataannya, cinta itu indah namun menyesakkan.

Melihatmu tertawa, membuatku merasakan cinta yang dalam. Mengenalmu membuatku tahu tentang indahnya perbedaan. Namun mengetahui perasaan ini hanya dapat tertutup dalam-dalam, membuatku sulit terbiasa seperti sedia kala.

Mengapa harus padamu kurasakan jatuh cinta? Mengapa ketika sudah terlalu dalam, aku hanya bisa diam memendam rasa?

4. Mendengar tawamu yang bukan lagi hanya padaku, membuatku merasa satu hal yang sebelumnya tak ada. Kusadar, aku takut kehilangan.

I saw that feel, I know you can feel it, too. Of those I called it silent love. via https://www.pinterest.com

Mungkin cinta tak sedang memihakku kala itu. Kini, memiliki waktu untuk sekadar berbincang denganmu menjadi harga yang mahal untuk kudapatkan. Sebagai anak kecil yang haus perhatian, aku tahu rasanya terlupakan.

Aku menghitung waktu untuk kau mengatakan sesuatu barang hal tak penting sekalipun, namun kau malah asik bercengkerama dan tertawa lepas bersamanya yang katamu ayu itu. Kau mengaguminya karena parasnya, namun aku mengagumimu atas segala baik-burukmu.

Apapun itu, meski buruk bagimu adalah yang perlu untuk kucintai. Aku menyukai segala yang tertanam di dirimu, namun aku mulai benci jika rasa itu harus kaualihkan ke lain arah—mengempas yang jauh lebih dulu ada.

5. Perpisahan kita bukanlah sesuatu yang dapat membuatku tersenyum lega, karena tak ada yang tersisa. Hanya bayanganmu yang perlahan menjauh pergi.

Some of us think holding on makes us strong, but sometimes it is letting go Hermann Hesse. via http://teendiaries.net

Lonceng kelulusan kita telah berbunyi. Aku melihat binar bahagia atas keberhasilanmu menjadi sosok yang selalu sempurna di mataku. Apakah artinya perpisahan telah begitu dekat dengan kita? Tak inginkah sejenak kau duduk di sampingku, kemudian menyediakan sepuluh detik waktumu untuk mendengar dongeng masa depanku?

Bukan sebentar bila bertahun-tahun lamanya kulalui tanpa mengetahui kabarmu. Katakan padaku, berapa mil jarak telah memisahkan kita? Mengharuskanku untuk kembali mengingat kenangan-kenangan kecil kita di ruang sekolah itu. Sepatah kata darimu terlalu berarti untuk tak kusimpan dalam hati.

Mengapa skenario yang kita mainkan tidak pernah selesai?

Mungkin jika Tuhan mengizinkanku untuk bertemu denganmu, tak inginkah sekali lagi kau duduk di sampingku kemudian bertanya kabarku? Aku tak meminta kau bertanya bagaimana akhir kisah tentang dongeng masa depanku. Kuyakin kau telah menyimpan skenario lain yang perlu kaumainkan bersama lawan mainmu yang baru — dan kutahu itu bukan aku.

Cukup tulisan ini, yang akan memberimu jawaban tentang akhir kisah pada dongeng masa depan yang tertutup untukmu.

Kau yang kuinginkan atas dongeng masa depan itu. Kau pemeran utama yang kubutuhkan untuk mengakhiri dongeng agar bahagia seperti apa yang kumau.

KAU, tapi Tuhan lebih tahu segalanya.

Cause sometimes, some things are better left unsaid.