Dilihat dari ruang lingkup perjalanan sejarah dunia, pada bulan Agustus untuk pertama kali dalam sebuah peperangan digunakan senjata nuklir. Penggunaan senjata nuklir tersebut terjadi pada 6 Agustus 1945. Amerika Serikat menjatuhkan bom atom Little Boy di kota Hirosima. Berselang tiga hari kemudian, pada 9 Agustus 1945 bom atom Fat Man dijatuhkan di kota Nagasaki. Bom atom ini mengakibatkan terbunuhnya 220.000 orang di dua kota tersebut.

Hancurnya kota Hirosima dan Nagasaki mengakibatkan menyerahnya Jepang kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945 dan menandakan berakhirnya Perang Pasifik.

Jika dilihat dari ruang lingkup perjalanan sejarah nasional, pada bulan Agustus juga banyak terjadi peristiwa sejarah. Misalnya, diculiknya Soekarno-Hatta oleh para pemuda pada 16 Agustus 1945. Kemudian Indonesia memproklamirkan kemerdekannya pada 17 Agustus 1945. Sampai saat ini, sudah 70 tahun negara ini merdeka. 17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2015, dirgahayu Indonesia! 

Semoga cita-cita para pahlawan yang telah gugur di medan perang, bisa menjadi kenyataan. Bahwa negara kita ini berdaulat, adil, makmur, dan sentosa. Amin.

Kemudian, jika dilihat ke ruang lingkup perjalan sejarah yang lebih kecil, yaitu ruang lingkup hati, di bulan Agustus ini ada dua tanggal yang begitu penting, yang begitu terasa special dalam perjalanan hidup aku sejauh ini. Sebelum bulan Agustus datang, pada akhir bulan Juli, aku sudah mulai memberanikan diri untuk melakukan pendekatan pada seorang cewek (kalau dibilang cantik sih, nggak cantik juga). Tapi saya tergoda melihat dia yang menggunakan kacamata.

Bagi pandangan aku saat itu, cewek yang menggunakan kacamata itu terkesan enak untuk dilihat. Setelah beberapa hari melakukan pendekatan, naluri lelakiku mengatakan kalau nih cewek juga menyimpan rasa yang sama kepadaku. Pada 8 Agustus 2008, sebuah tanggal cantik menurut aku pada saat itu, 08-08-08, 8-8-8. Hari itu, hari Juma`t, setelah pulang sekolah, aku meminjam handphone Ayah.

Aku beranikan diri mengetik sms ”Mau nggak kamu jadi pacarku?” Lalu aku kirim ke nomor cewek yang lagi aku dekatin beberapa hari belakangan (aku bukan tipe cowok yang berani ngungkapin rasa hati secara langsung atau face to face). Saat itu, aku berani cuma lewat sms aja. Hehehe... Aku nggak tahu persis. Apa saat itu dia balas sms aku apa nggak. Yang jelas, bukan hari itu hati ini dan hati dia menjadi satu.

Lanjut hari Sabtu, 9 Agustus 2008. Setibanya di sekolah, aku ketemu dia dan kami pulang bareng. Saat itu, aku pura-pura nggak ingat aja kalau aku telah nembak dia lewat sms. Pura-pura nggak ingatnya karena aku nggak berani ngomong langsung. Seolah-olah mulut aku kekunci. Jadi, nggak bisa ngulang kata-kata yang sama seperti yang dikirim lewat sms kemarin. Karenanya, bahkan dia sempat ngatain aku seorang PHP setelah kami jadian.

Minggu, 10 Agustus 2008. Aku cek pulsa di handphone Ayah cukup untuk menelepon. Aku beranikan diri menghubungi si cewek berkacamata ini. Kuulangi lagi kata-kata seperti dalam sms kemarin. ”Mau nggak kamu jadi pacar aku?" Di seberang sana, si cewek menjawab, "Iya, aku mau. Yuk, kita coba jalani.” Resmilah hatiku dan hati dia menjadi satu di saat itu. 10 Agustus 2008. Hehehe...

 

1. Hai, cewek berkacamata! Terimakasih untuk satu tahun yang begitu indah di masa putih abu-abu.

Tiada masa paling indah

Masa-masa di sekolah

Tiada kisah paling indah

Kisah-kasih di sekolah

Itu sedikit lirik tembang kenangan yang mungkin benar adanya. Aku juga merasakan hal seperti yang tergambar pada lirik lagu tersebut. Sebagai anak pindahan di sekolah tersebut, dengan waktu cepat berhasil menaklukkan hati seorang cewek di sekolah tempat aku pindah merupakan sebuah prestasi yang nggak patut dibanggakan. Konon, cewek berkacamata ini merupakan cewek yang lumayan terkenal di lingkungan sekolah.

Sebelum aku datang ke hatinya, dia pernah menolak tiga cowok. Dua seniornya, satu juniornya. Aku adalah cowok keempat dan cowok yang tak kuasa ditolak oleh hatinya.

 Si cewek berkacamata ke sekolah tiap pagi diantar sama Papanya. Kadang aku lagi jalan ke sekolah, lalu dia lewat dengan Papanya. Dia menoleh ke belakang dan kamipun saling melempar senyum. Si pagi hari (kecuali Minggu dan libur sekolah), saling lempar senyum hampir jadi rutinitas hampir satu tahun di masa SMA. Jika waktu pulang sekolah telah datang, aku dan dia pulang bareng dengan teman-temannya.

Namun semenjak aku ada dan berjalan di samping kanan dia, akulah teman baru yang hampir tiap hari selalu berjalan beriringan dengannya. Dia sangat suka sekali meniupkan bunga ilalang ke wajah manisku. Ketika itu, hal-hal seperti itu bagi anak baru gede dan lagi labil atau ABABIL merupakan suatu yang menyenangkan. Tak terkecuali bagi aku. Paling nggak, untuk membuat hati dia senang.

Terkadang kami berjalan seperti siput. Terkadang seperti duo mempelai. Terkadang seperti gerak jalan adu cepat dan itu merupakan hari-hari yang menyenangkan, yang pernah aku lalui bersama Si Cewek Berkacamata.

Beberapa waktu berjalan, untuk menghadapi UAS, maka keseluruhan anak-anak kelas III harus mengikuti jam pelajaran tambahan. Guru-guru menyarankan untuk membawa bekal berupa makan siang dari rumah. Karena aku tinggalnya nggak sama orang tua alias ngekos, ya nggak ada bawa bekal karena nggak ada yang nyiapin. Tapi hari itu, Si Cewek Berkacamata menungguku di depan kelas.

Dia memberikan sesuatu pada saat itu. Kira-kira dia ngomong seperti ini saat itu, “Nih buat makan siang. Nggak bawa nasi dari rumah kan? Kujawab, "Aku kan nggak minta. Aku nggak nyuruh. Tapi makasih, ya. Aku ke bawah dulu. Makan nasi yang kamu kasih,” Aku pergi makan nasi yang dia kasih. Entah nasi goreng, entah nasi putih dengan sambal ikan kaleng campur kentang.

Yang jelas perutku kenyang dan masakannya enak. Aku makan berdua dengan Si Mandan (Dede Ferdian yang sekarang lagi di Negeri Jiran). Hampir setiap hari dia selalu bawain aku bekal untuk pelajaran tambahan. Kadang aku makan sendiri, kadang makan berdua dengan Si Mandan. Kadang makan berdua juga dengan si Wanita Berkacamata. Setiap hari Senin, giliran aku yang bawain bekal untuk aku dan dia.

Setiap Senin, aku udah mesan pada Emakku. Tolong lebihin porsi bungkus nasinya Mak. Buat sekolah sore, pelajaran tambahan. Entar makannya berdua ama teman.

Di lain kesempatan, aku dan dia juga sama-sama penyuka makanan pensi. Setiap hari Selasa, dia selalu beliiin aku pensi. Selain penyuka pensi, aku dan dia juga penyuka lagunya Once Mekel – Dealova. Aku masih ingat, kita pernah duet nyanyiin lagu itu.

Di bawah batang kayu, dia menangis karena dia akan mengikuti Bimbel (bimbingan belajar) di luar kota. Hari itu, dia kelihatan takut berpisah denganku. Dia takut menjalani hubungan LDR denganku. Saat itu, aku ingat ketika aku bertanya “Kalau misalkan aku nggak kuliah, apa kamu masih mau jadi pacarku?" Dia menjawab, ”Nggak lah. Kita putus kalau kamu nggak kuliah,” 

Lalu kujawab, “Oke. Mudah-mudahan aku lulus PMDK dan bisa kuliah," Kemudian dia pergi ke Padang untuk bimbel. Dialah orang pertama yang kasih tahu kalau aku lulus PMDK di Universitas Andalas jurusan Ilmu Sejarah. Dia sendiri nggak lulus PMDK, tapi kemudian lulus SPMB di Universitas Negeri Padang jurusan Kimia.

Hai Wanita Berkacamata, terimakasih untuk kenangan terindah di masa Putih Abu-abu. Makasih bekal makan siang untuk pelajaran tambahannya. Masakanmu enak dan temanku juga ngomong kayak gitu. Makasih untuk pensinya. Makasih untuk tiupan bunga ilalang di wajah manisku. Makasih untuk kerang pemberian nenekmu yang masih aku simpan sampai saat ini.

Makasih gelas merahnya. Makasih kaos hitamnya. Makasih untuk semua kebaikan dan yang indah-indah di masa Putih Abu-abu yang kita lalui berdua. Maaf atas kesalahan yang pernah aku perbuat di masa Putih Abu-abu” Sampai saat ini, aku masih ingat sumpah janji yang kita ucapkan di bawah batang kayu. Sambil bersalaman, kita ucapkan sumpah janji berdua. Mungkin kamu udah lupa.

2. Lima tahun di Kota Bingkuang bersama adalah anugerah dan pembelajaran hidup yang luar biasa. Thanks God!

Aku di puncak bukit. Kamu di tepi pantai. Jarak puluhan kilometer membatasi kita. Kamu sibuk dengan duniamu. Aku sibuk dengan duniaku. Tapi hati kita saat itu masih bisa saling menyatu. Dengan saling mengabari melalui sms dan sekali-kali lewat telpon, kadang kalau ada kesempatan kita ketemu. Kita jalan. Kadang aku yang turun gunung menuju pantai. Kadang kamu yang naik gunung mencari sang pangeranmu. Semua itu kita lakukan dengan alaminya.

Waktu Lima tahun itu, di mana aku dan kamu merasakan bagaimana pahit manis asamnya kehidupan sepasang makhluk yang lagi menjalin hubungan pacaran. Kita saling lengkap melengkapi. Ketika kamu dalam situasi sulit, aku ada. Ketika aku dalam situasi sulit, kamupun juga ada. (biasanya masalah makanan, beras, uang, pulsa...hehheee). Pokoknya kita sudah bisa saling melengkapi satu sama lain.

Cobaan itu datang ketika aku mulai nakal. Ketika aku melihat teman-temanku memiliki satu sampai dua sampai tiga cewek sekaligus, aku juga mempunyai niat harus bisa seperti mereka. Aku harus punya cewek lebih dari satu juga. Dan aku mulai main-main. Aku main-mainnya 2010 sekitar dua bulanan. Kemudian 2011 sekitar sebulan. Tapi aku ketahuannya 2012.

Ketahuannya pun gara-gara mulut ember teman satu kos. Saat itu, kita putus lebih kurang satu minggu. Karena aku sang pejuang, aku terus berjuang untuk kembali bersamamu lagi. Perjuanganku waktu itu berhasil. Kita lanjut. Makasih sudah mau kembali terima aku lagi saat itu. Kamu memang luar biasa. Kenakalan aku berlanjut pada 2013. Aku tergoda dengan anak baru. Iseng-iseng berhadiah, aku dekati anak baru itu dan nih anak baru dapet.

Kamu saat itu lagi-lagi aku sakiti. Dan nalurimu saat itu memang luar biasa. Dengan cepat, kamu tahu kalau aku berbuat nakal lagi. Aku dan kamu putus lagi, dan kembali lagi. Aku berjuang dan berjuang untuk bisa kembali bersamamu lagi. Saat itu, aku berhasil untuk memperbaiki hubungan yang telah putus saat itu. Gara-gara ketahuan selingkuh dengan anak baru, maka pada 27 Mei 2013 kita ketemuan. Kita jalan. Saat itu aku minta maaf dan janji nggak bakal nakal lagi.

Aku janji nggak bakal selingkuh lagi. Aku janji bakal setia. Saat itu, kamu menangis di bahuku. Aku sempat mengajukan opsi saat itu, menyangkut kelangsungan hubungan aku dan kamu. Aku ngomong ke dia kira-kira seperti ini, ”Kalau nggak usah aja kita lanjutin hubungan kita, kamu putusin aja aku sekarang lagi?" Saat itu, dia jawab sambil terisak-isak. ”Ya, kita lanjutin aja hubungan ini,”

Lalu aku lanjut ke pertanyaan kedua saat itu, ”Apa kamu nggak bakal balas dendam ke aku atas perbuatan aku ini?" Kamu saat itu jawab, ”Nggak!” Seketika keromantisan itu buyar seketika karena para pengamen datang. Ya, 27 Mei 2013 aku berjanji nggak bakalan sia-siain dia lagi. Aku nggak bakalan nakal lagi. Aku nggak bakalan selingkuh lagi dan Alhamdulillah aku bisa menjaga hatiku supaya nggak berbuat nakal dan sakitin dia lagi.

Terlalu banyak kenangan indah yang aku lalui bersama dia. Terlalu banyak jasa dia ke aku. Terlalu banyak kebaikan yang dia berikan ke aku. Kamu jadi partner hebat dalam penyelesain TA (skripsi)) aku. Kamu jadi partnerku dalam melakukan penelitian ke pasar. Kamu jadi partnerku dalam melakukan wawancara dengan para pedagang. Kamu juga yang bikinin transkrip hasil wawancara aku dan kamu juga yang beberapa kali ngedit tulisan TA aku.

Dari kantongmu juga untuk bayar sarapan pagi sebelum kita ke pasar untuk lakuin wawancara. Dari kantongmu juga untuk bayar makan siang setelah kita pulang penelitian TA-ku. Kamu satu-satunya teman yang ada mendampingi saat aku ujian kompre. Saat aku mempertanggungjawabkan TA aku di depan para dosen penguji saat itu. Ketika aku keluar dari ruang ujian, masih teringat senyum manismu.

Senyummu semakin sumringah ketika aku kasih tahu kalau aku medapat nilai A-.

Terlalu banyak aku membuatmu repot. Ketika keluargaku mau datang untuk melihatku wisuda, kamulah yang jadi tempat pelarian atau tempat pengaduanku untuk jadi penampung keluargaku. Kamu dengan senang hati melakukan itu semua untukku dan keluargaku. Sungguh banyak sekali pengorbanan yang telah kamu lakukan untukku. Kamu korbankan waktumu, uang sakumu, dan perasaanmu.

Lima tahun bersamamu di kota itu merupakan sebuah rahmat dan nikmat yang tiada duanya, yang Tuhan berikan kepadaku. Aku banyak belajar segala hal dalam kurun waktu tersebut. Aku mengerti dan tahu bagaimana rasanya dicintai. Aku mengerti dan tahu bagaimana yang disebut dengan ketulusan. Aku tahu apa itu pengorbanan. Terimakasih atas cinta, ketulusan, dan pengorbananmu untukku yang tak ternilai harganya.

Maafkan segala salah yang telah kuperbuat ke kamu. Setiap kamu bertanya ke aku tentang sebuah kecantikan yang ada pada dirimu dan aku selalu menjawab kalau yang cantik di dirimu itu adalah HATIMU. Ya, hatimu memang cantik. Aku adalah lelaki beruntung yang sempat memiliki hatimu yang cantik itu. Thank`s God!

3. Semua kekonyolan itu tidak perlu berlarut-larut. Terimakasih, ya LDR!

Dia kembali menangis seperti kejadian 6 tahun lalu. Dia kembali menangis seperti saat dia akan pergi Bimbel ke luar kota. Tapi saat itu, giliran aku yang akan pergi. 4 Oktober 2014, itu saat terakhir aku bertemu dengannya. Dia menangis, menangis, dan menangis. Aku hanya bisa diam sambil mengelus kepala dan mengusap air mata di pipinya. Aku nggak bisa berkata apa-apa saat itu. Yang jelas, aku juga sedih karena harus berpisah dengan dia.

Tapi ya, harus bagaimana? Perpisahan itu merupakan sebuah keharusan. Kebetulan saat itu, Lebaran Haji. Aku ajak dia ke rumah dan ketemu sama Ibu dan keluargaku. Saat itu, ingin rasanya berlama-lama dengan dia. Tapi waktu yang membatasi. Setelah dari rumahku, aku ke rumahnya. Saat itu, aku bertemu dengan Papa dan Ibunya. Aku meminta izin dan minta didoain ke Papa dan Ibunya supaya berhasil di rantau orang.

Aku juga pamit sama dia. Dia menyelipkan uang ke kantong jaketku Rp 100.000,00 dan aku pergi. Dalam hati, aku berkata ketika aku melangkah pergi dan berpamitan denganmu, ”Jika nanti aku sudah dapat kerja, aku akan datang ke orang tua kamu. Kita akan bangun mimpi-mimpi indah yang telah kita rancang bersama-sama.”

6 Oktober 2014, aku berangkat merantau ke negeri orang. Mulailah LDR yang sebenarnya dengannya. Aku bukan tipe cowok yang suka telpon-telponan jika setiap waktu sudah saling kirim sms. Sampai dia protes, tapi aku nggak peduli (waktu ulang tahun ke 6 jadian aku dan dia, aku nelfon dia. Eh, dia jawabnya ketus gitu. Ya, aku matiinlah telponnya, dan dari situlah awalnya aku janji nggak bakalan telpon dia sampai waktu yang nggak ditentuin).

Selama LDR (Oktober 2014-Mei 2015), paling banyak aku telpon dia 4-5 kali. Yang aku ingat, pas dia ulang tahun 19 April. Terakhir nelpon dia, 17 Juni 2015. Pas mau puasa, tapi statusnya udah jadi pacar orang.

Pada awal hubungan LDR, aku dan dia berjalan dengan mulus-mulus aja. Walau ada sedikit gangguan, tapi itu bisa kami atasi berdua. Oktober sampai akhir Mei, lebih kurang 8 bulan aku dan dia menjalni hubungan LDR. Memasuki akhir Mei, akhirnya hubungan aku dan dia hancur. Dia berdalih atas kesalahan masa laluku yang pernah kuperbuat dengan selingkuhin dia beberapa kali. Ditambah lagi, aku dan dia yang jarang telepon dan dia merasa kesepian. 

21 Mei 2015, hubungan aku dan dia masih mesra-mesranya. 22 Mei 2015, aku dan dia putus. 25 Mei 2015, dia jadian dengan cowok lain. Lebih menyakitkan lagi, dia dan cowok ini sudah saling pendekatan dari awal bulan April dan sudah sempat jalan pergi malam minggu. Ternyata, dari bulan April-Mei cuma menunggu kata putus dari aku. Aku ternyata telah diselingkuhi untuk kedua kalinya oleh dia.

Saat dia akan menjalin hubungan dengan pacar barunya di seberang sana, dia masih sempat berucap ke aku. ”Mohon bersabar menunggu aku. Saat ini aku ingin menjalani hidup dengan dia. Sementara di masa depan, aku ingin hidup dengan kamu. Aku ingin bersenang-senang sebelum aku menikah dan hidup terikat ketika nanti sudah jadi istri orang.” 

Ketika aku membaca sms dia berulang-ulang, aku berpikir bahwa ini merupakan sebuah kekonyolan. Aku bukan lelaki bodoh yang harus menuruti permainan konyol itu. Pada akhirnya, kekonyolan itu tidak jadi berlarut-larut.           

Kita memang belum cukup dewasa untuk menjalani LDR. Hancurnya hubungan kita bukan karena LDR, tapi kedewasaan tadi yang belum kita punya. Aku maunya begini, kamu maunya begitu. Aku nggak suka telepon, aku nggak bisa video call, dan di saat itu aku nggak bisa menatap wajah sedihmu, wajah bahagiamu, dan wajah lelahmu. Aku nggak bisa ajak kamu jalan-jalan karena jarak yang membatasi kita. 

Aku hanya bisa mengucapkan maaf atas kekurangan dan keterbatasan yang aku miliki sehingga kamu tersiksa selama menjalani LDR denganku lebih kurang 8 bulan. Terimakasih pula telah menjadi partner yang baik selama 8 bulan yang luar biasa itu. Pada akhirya, kita hanya bisa menyerah pada keadaan dan memilih jalan perpisahan di jalan yang berbeda.

4. Terima kasih sudah pernah hadir. Kamu membuatku bahagia, mengajarkan banyak hal hingga sekarang tahu bagaimana bersikap dan menjaga baik hubungan agar tidak berakhir seperti kita dulu.

Pengalaman Beharga

Pengalaman Beharga via http://3.bp.blogspot.com

Meski hubungan kita berakhir dengan tak bahagia, namun ada hikmah luar biasa yang bisa aku petik dari sepenggal kisah cinta yang pernah kita jalani bersama. Rasa kecewa, sedih, cemburu, dan luka yang pernah aku rasakan saat dulu bersamamu adalah sebuah guru bagiku. Dari hubungan yang gagal aku pertahankan bersamamu, aku jadi tahu bagaimana cara menciptakan sebuah hubungan yang baik.

Saat aku sudah bersama pasangan baruku, aku tahu bagaimana seharusnya bersikap dan menjaga hubungan dengannya agar tak lagi terulang kesalahan yang sama. Kegagalanku bersamamu mengajariku untuk bisa menjaga dan mencintai pasanganku suatu saat nanti dengan sebaik-baiknya. Dari hubunganku yang gagal bersamamu, aku belajar banyak tentang bagaimana seharusnya mencintai dan dicintai. 

5. Terima kasih telah menjadikan hatiku sebagai persinggahan untuk hatimu yang sementara.

Cinta kita memang banyak rintangan. Belum tentu aku dan kamu yang telah mengucapkan sumpah janji berdua untuk saling tulus mencintai bisa dipersatukan dalam kebersamaan. Aku patut bersyukur, pernah merajut cinta bersamamu yang sempat tertakdirkan menjadi kekasihku untuk sementara. Kenangan bersamanya adalah salah satu bagian terindah dalam hidupku. Aku tak dipertemukan dengan orang yang salah. Hanya saja aku dan kamu memang tak bisa bersama.

Terimakasih sudah bersedia untuk singgah di hatiku walaupun sementara. Meski berat, aku harus rela perpisahan ini terjadi. Namun perpisahan bukan alasan untuk tak lagi saling peduli, walau kadarnya tak lagi sama.

6. Terima kasih. Aku pernah bahagia bersamamu. Tak ada yang pantas disesali dari kebersamaan kita yang dulu.

Pernah Bahagia Bersamamu

Pernah Bahagia Bersamamu via https://www.google.co.id

Aku pernah merasa jadi manusia paling bahagia didunia, pernah merasa indahnya masa muda, terima kasih telah mengajarkan banyak hal. Bersamamu, aku pernah merasa jadi orang yang paling bahagia di dunia ini, dan bersamamu pula aku pernah merasa jadi orang paling istimewa. Sebagai tanda cintamu padaku, tak hanya kasih sayang yang kamu berikan, tapi kamu juga mengajarkan banyak hal tentang hidup.

Darimu, aku bisa belajar tentang arti sebuah hubungan, aku belajar bagaimana menjaga sebuah janji, dan belajar untuk saling percaya. Banyak hal yang aku pelajari dari kamu. Banyak hal yang kamu bagikan padaku, yang mungkin tak terasa ternyata telah membentukku menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari yang dulu. Lewat kamu, aku belajar banyak hal tentang hidup.

Wajar jika aku ingin berterima kasih padamu, yang sudah pernah membuatku bahagia, denganmu aku punya masa lalu dengan cerita manis yang bisa aku kenang sembari tersenyum geli…Hehehee…

7. Maaf jika aku dulu terlalu sering merepotkanmu….

Disela-sela kesibukanmu

Disela-sela kesibukanmu via http://www.lookbook.id

Banyak kenangan yang telah kita lewati bersama. Kamu pernah ada di sisiku untuk mendampingiku melalui masa-masa susah, senang, dan sakit. Kamu hadir menemaniku untuk membantu meringankan bebanku di kala itu, aku sering membuatmu kerepotan, bahkan melibatkan kamu ke dalam permasalahan pribadiku. Karena hubungan kita sudah berakhir, bukan alasan buatku untuk melupakan kebaikanmu.

Bagaimanapun juga, kamu dulu adalah orang yang selalu aku andalkan untuk berbagi suka maupun duka.

Jaga diri kamu baik – baik yah. Terima kasih atas hari-hari yang indah di masa kita pacaran. Susah, senang, sakit,dan masih banyak lagi kenangan kita. Terima kasih telah mendampingi saya di masa-masa sulit, harapan kedepan semoga aku dan kamu mendapatkan takdir yang terbaik, jodoh yang terbaik, masa depan yang lebih baik. Saya minta maaf jika saya banyak salah yah. You’re the best.

8. Sebagai salah satu orang terbaik yang pernah hadir dalam hidupku, kadang-kadang kamu terucap dalam tiap doaku.

Sekarang hanya doa yang bisa ku titipkan padamu

Sekarang hanya doa yang bisa ku titipkan padamu via http://4.bp.blogspot.com

Sekarang kita hanya bisa saling berkirim doa. Semoga masing-masing dari kita bisa berbahagia bersama dia yang tertakdirkan Mendoakanmu bukan berarti aku masih menyimpan rasa cintaku untukmu. Tapi hanya karena sebagai rasa peduliku pada orang yang pernah menjadi sandaran hatiku dulu. Aku pernah bahagia bersamamu, maka tak ada salahnya jika aku masih mendoakan yang terbaik untukmu.

Mudahan-mudah kamu adalah wanita terakhir yang aku sakiti, dan begitupun sebaliknya, aku adalah laki-laki terakhir yang pernah kamu sakiti. Maafkanlah diriku, lalu maafkanlah dirimu, dan berbagahialah. Mudah-mudahan aku dan kamu diberi kehidupan yang lebik baik dari yang pernah kita jalani bersama dulu dan jagalah dirimu baik-baik.