Ada beribu cinta di dunia ini. Dari mulai cinta terhadap sahabat, cinta terhadap binatang peliharaan, cinta terhadap keluarga, cinta lawan jenis, dan cinta terhadap Sang Pemilik Kehidupan. Berbahagialah yang sampai detik ini masih memiliki banyak cinta di hidupnya. Karena nilai cinta itu mahal dan tidak dapat dibeli dengan harta kekayaan. Jadi, selalu penuhilah hidup dengan cinta.

1. ‘Malaikat terlihatku’, terimakasih telah mengijinkanku melihat dunia ini.

Terimakasih Ibu yang telah memperjuangkanku via http://i1.mirror.co.uk

Sedikitpun tak ada kata takut dalam kamus kehidupanmu. Saat berada di ruang bersalin, kau dengan rela menukarkan nyawamu hanya demi aku dapat melihat dunia ini dan bernafas. Ketika kau mendengar suara tangisanku, raut muka bahagia tampak menghiasi wajah cantikmu. Terimakasih Ibu, telah mengijinkanku untuk dapat melihat dunia ini.

2. Jangan menangis (lagi), Ibu.

Jangan menangis, Bu via https://lh3.googleusercontent.com

Aku tahu benar, masalah dan kelumit hidupmu amat banyak. Walau kelumit hidupmu sendiri pun amat banyak dan memikul dengan tegak pun sulit, namun kau sungguh dengan ikhlas menopang masalah suamimu dan anak-anakmu. Kau bahkan senantiasa menggoreskan senyuman tulus. Namun sesekali, aku melihatmu menangis ketika berdo’a kepada Dia. Melihat kau menitikkan air mata itu, Ibu, hatiku pun seakan ikut serta tersayat, nafasku pun menjadi sesak. Aku mohon Ibu, jangan menangis (lagi).

3. Maafkan Aku, Ibu. Ketika kau bersedia menjadikanku sahabatmu, namun aku malah berlari pergi meninggalkanmu.

Advertisement

Maafkan aku yang pergi meninggalkanmu via http://i.huffpost.com

Maafkan aku, Ibu. Ketika kau bersedia membagi bebanmu dengan putrimu ini, aku malah pergi jauh darimu. Namun sekali lagi, kau tersenyum ikhlas melepaskanku pergi ke tanah rantau. Maaf jika aku sering kembali pulang, Ibu. Itu bukan karena aku tak mampu hidup sendiri di tanah rantau. Alasan utamaku adalah ingin membantu meringankan beban hidupmu, Ibu. Walaupun itu hanya sekadar membantu pekerjaan rumah tanggamu dan mendengarkan ceritamu.

4. Sebenarnya aku pun takut menghadapi masalahmu, Ibu. Namun demi melihatmu tersenyum, aku abaikan ketakutan ini.

Tersenyumlah selalu, Ibu via http://cdn.maga.gr

Ketika melihatmu direndahkan, aku tak ingin tinggal diam, Ibu. Aku sendiri pun sebenarnya takut untuk menghadapi masalahmu, namun aku tak ingin melihat kau menangis (lagi), Ibu. Sungguh, aku merasa bahagia dapat berdebat dengan orang yang merendahkanmu, Ibu. Jangan kau hiraukan perasaanku, Ibu. Karena meskipun aku sempat menangis, sungguh aku merasa bahagia.

5. Alasanku masih memperjuangkan cita-cita ini adalah karenamu, Ibu.

Alasanku masih memperjuangkan cita-cita ini adalah karenamu, Ibu. via http://cdn1.stocksy.com

Sungguh, berkali-kali aku ingin mundur dari medan pendidikan ini. Ingin bermanja-maja denganmu setiap detiknya. Namun jika aku mundur, itu berarti keluarga kita akan semakin direndahkan terlebih lagi untukmu, Ibu. Bukankah begitu? Hingga detik ini, aku ingin selalu berusaha menggapai cita karenamu, Ibu. Aku ingin melihatmu tersenyum bahagia.

Semoga Tuhan selalu berbaik hati memberikan senyum terindah untukmu, Ibu

6. Kau dengan ikhlas membelanjakan uang yang kau dapat untuk membelikan baju bagus untuk suami beserta anak-anakmu

Peluh keringat sungguh tak kau hiraukan… via http://vivahiba.com

Setiap peluh keringat yang menetes seakan kau tak menghiraukan sama sekali. Hebatnya dirimu, uang hasil keringatmu itu bukan untuk mencukupi kebutuhanmu sendiri. Melainkan untuk mencukupi kehidupan suami dan anak-anakmu. Membelikan baju yang bagus untuk kita, sementara bajumu begitu lusuh. Membelanjakan lauk pauk yang bergizi untuk kita agar kita tak kekurangan gizi dan dapat tumbuh dengan baik.

Kau sungguh adalah makhluk Tuhan yang paling mulia. Terimakasih banyak, Ibu. Kasihmu tak akan bisa dibayar dengan apapun. Semoga Tuhan senantiasa bersamamu.

7. Kau tak pernah alpa menyebut namaku dalam do’amu. Sementara aku masih lupa menyelipkan namamu dalam do’aku.

Kau selalu hadir disamping kami via http://ih.constantcontact.com

Bodohnya aku adalah pernah lupa menyelipkan namamu di dalam do'aku. Sementara kau tak pernah alpa menyebut namaku dalam do'a yang kau panjatkan. Walaupun kita dipisahkan oleh jarak dan waktu, namun kasih sayangmu tak pernah berhenti mengalir untuk suami dan anak-anakmu. Kau, sungguh 'malaikat terlihat' yang dikirim Allah untuk menemani langkah sukses suami dan anak-anakmu.

Semoga kau selalu disayang Allah, Ibu.