Ada kalanya kita menemukan seseorang yang terasa begitu tepat saat mulai berbicara, seakan takdir berkata "kalian akan bersama, dalam jangka waktu yang lama... dan baik-baik saja". Seakan dipertemukan oleh takdir dan hubungan menyenangkan ini dilalui dengan setitik perasaan tak percaya, mungkinkah sekarang kita bersahabat? Bisakah hubungan yang dimulai hanya dari perkenalan facebook bertahan lama, selama yang kita inginkan?

Sekarang egoisku muncul, rasanya tak cukup keceriaan kita hanya sebatas obrolan facebook dan WhatsApp. Aku ingin bertemu, jika waktunya tiba... kuharap kau sehat selalu.

 

1. Kita hanya sebatas teman di Facebook, sampai suatu hari kutemukan banyak hal menyenangkan darimu.

Ada begitu banyak informasi yang kudapat seputar perkembangan dunia melalui Facebook, begitupun dengan teman-teman lama yang pada akhirnya dapat kutemui lagi melalui jejaring sosial ini. Aku menikmati hari-hariku dengan membaca berbagai hal yang berkaitan dengan hobi dan hiburan untukku.

Hingga suatu hari kutemukan akun milikmu, dan nyatanya kau seorang penulis dengan gaya penulisan yang sangat kusuka. Tak hanya tulisanmu, kegemaranmu membaca manga, menonton boyband korea, serta berbagai tontonan lain yang juga sangat kusukai membuatku berpikir, "Apakah ada begitu banyak orang di dunia ini yang memiliki pemikiran hampir serupa denganku?".

Kupikir, akan menyenangkan bila kita bisa menjadi dekat. Tak sekedar teman Facebook.

 

2. Kita mulai berkenalan, dari Facebook kita beralih ke WhatsApp. Lalu ketemukan lebih banyak hal menyenangkan bersamamu.

Demi kelancaran komunikasi, kita mulai berhubungan melalui WhatsApp. Dengan mudahnya kita berbagi banyak hal menyenangkan yang kita alami setiap hari.

Kau luangkan banyak waktumu untuk berbagi denganku, begitupun aku... yang perlahan-lahan kehadiran pesan darimu bagai pensil warna di kehidupan dunia mayaku yang awalnya begitu polos dan monoton.

Bagai telah mengenal bertahun-tahun lamanya, kita bahkan tak sungkan berbagi rahasia hidup kita yang bahkan terkadang tak kita ceritakan pada teman-teman real life kita yang lain.

Kita saling berbagi kesedihan dan kebahagiaan. Hal-hal yang awalnya tak begitu menarik dibahas, nyatanya dapat begitu menyenangkan saat kubicarakan denganmu.

3. Ada kalanya aku menyombongkan kehadiranmu pada teman-temanku.

Kehadiranmu yang setaip hari membuatku merasa tak kesepian, seolah mengingatkanku akan teman-teman real life ku yang akhir-akhir ini sibuk dengan tugas akhir kuliah. Kupikir, aku bahkan lebih banyak menghubungimu dibanding mereka. Sehingga terkadang muncul pertanyaan dari mulut mereka,-

"Sibuk banget sih? kamu ngapain aja?"

"Kapan ngumpul lagi?"

"Kamu udah punya pacar ya? maen hp mulu".

Dan berbagai macam komentar lain yang menurutku seolah sindiran halus mereka untukku. Sehingga pada akhirnya ada kesempatan, kutunjukan fotomu, isi percakapan menyenangkan kita, dan hal-hal lain mengenai selera dan hobi yang selama ini tak terlalu mudah dipahami oleh teman-teman real life ku.

Disaat itulah senyum mereka mengembang, pukulan-pukulan kecil tanda sayang seorang sahabat menenangkan. Mereka ikut berbahagia dengan kehadiran teman baruku.

4. Kau mengenalkanku pada temanmu, yang pada akhirnya menjadi temanku pula.

Kau sering mengajakku mengobrolkan apapun dengan teman-temanmu. Kusyukuri itu, sebagai bentuk kepercayaanmu terhadapku, kau mengajakku mengenali satu-persatu temanmu yang nantinya akan berteman denganku pula.

Kupikir akan menyenangkan apabila kita bisa berbicara sesering kungkin dengan kelompok kecil itu. Tak dipungkiri terkadang untuk membiasakan diri berkomunikasi dengan yang lain, masih agak sulit untukku. Tapi kulakukan semua untukmu, untuk menghargai teman-temanmu.

Lambat laun aku mulai mengenal beberapa teman dunia maya yang menyenangkan pula, hingga akhirnya aku memiliki teman darimu. Untuk kebaikanmu, terima kasih.

5. Namun, ada saja hal-hal yang tak sesuai harapan.

Terkadang kedekatan kita disalah artikan oleh temanmu, entah harus bersikap seperti apa. Aku hanya bisa diam menerima kekesalan orang lain.

Namun yang selalu kupahami sepanjang hidupku, aku tak perlu memberi penjelasan apapun pada siapapun, jika seseorang itu menyukaiku maka ia tak perlu penjelasan untuk membuatnya suka karena ia memang tak butuh penjelasan. Begitupun jika seseorang tak menyukaiku, ia tak perlu penjelasan karena penjelasan hanya akan dianggap alasan. Sia-sia saja.

Maka dari itu, jika karena orang lain, aku tak akan menghindarimu. Tapi jika itu kehendakmu, maka aku tak punya pilihan selain pergi dan mulai menjalani hari-hariku seperti biasa, sebelum mengenalmu.

Meski begitu, itu bukanlah doa ataupun harapanku. Tak pernah terbersit barang sejenak dalam pikiranku untuk tidak dapat berkomunikasi dengamu lagi. Ingatlah begitu banyaknya kisah-kisah yang telah lama kita bagi. Hal-hal menyenangkan dan membahagiakan yang senantiasa hadir dalam hari-hari kita. Kehadiranmu tak bisa dihilangkan begitu saja.

6. Atas semua keberkatan yang telah ku alami bersamamu, aku berharap dapat bertemu secara langsung denganmu. Hingga saat itu tiba, sehatlah selalu.

Tak banyak hal yang kuinginkan selain dapat bertatap muka secara langsung denganmu, meski ada berbagai kekhawatiran mengenai banyak hal seperti

"Bagaimana kalau ketemu nanti, canggungkah?"

"Bagaimana kalau ternyata hubungan malah menjadi renggang?"

"Apa kita mampu bertingkah seru layaknya saat chatting?"

Tentu hal seperti ini banyak menggangguku. Namun selalu kupanjatkan doa terbaik untukmu, semoga suatu saat nanti kita dapat bertemu di waktu yang tepat. Terima kasih untuk hadir di hidupku dan menceriakan hari-hariku. Meski hanya berteman di dunia maya, kuharap kau tak bosan bersamaku.