Membangun sebuah kepercayaan tidak serta merta terjadi begitu saja. Namun dengan kalian, hidupku menjadi lebih berharga. Tulisan ini kutujukan untuk kalian yang pernah melukis tawa, sebelum akhirnya membangun sendiri kebahagiaan rumah tangga.

 

1. Kalian seperti seulas warna-warna, yang membuat waktuku lebih bermakna.

warna-warni sahabat

warna-warni sahabat via http://www.pinterest.com

Bagaimana aku bisa lupa, teman, ketika kau datang memberiku sebungkus permen mint, dan aku menerimanya dengan malu-malu. Begitulah kita dipertemukan dengan sangat manis, Tuhan tahu aku begitu canggung menyesuaikan diri dengan lingkungan baruku saat itu. Jika kita berkumpul, kita bagaikan pita warna-warni yang mempercantik buket bunga. Apapun kita lakukan bersama tak akan terlupa, tak terlewatkan makanan apa yang kita suka, mana tempat nongkrong favorit kita, dan setumpuk kegilaan yang kita ciptakan bersama. Bukankah sangat manis jika kita luangkan waktu untuk sekedar bernostalgia?

2. Adakalanya berbeda pendapat tak bisa dihindari, tapi kita selalu berhasil melewati.

Bertengkar menandakan kita belum dewasa

Bertengkar menandakan kita belum dewasa via http://www.myindischool.com

Bersama kalian waktuku berharga. Bukan hanya kegilaan, kita sering membuat waktu kita menjadi butir-butir tawa. Kita sering terlibat dalam berbagai event yang membuat kita menjadi lebih dewasa. Namun adakalanya menjadi dewasa tak semudah mengucap kata, dan kita sering terjebak konflik di dalamnya. Namun teman, bukankan kedewasaan justru diukur dari seberapa banyak masalah yang kita selesaikan bersama?

3. Kita bagaikan keluarga, dan ibumu sudah seperti ibuku juga.

bertemu ibumu

bertemu ibumu via http://bisikan.com

Waktumu adalah waktuku. Kau pun memintaku menganggap rumahmu seperti rumahku. Terlampau sering aku berkunjung, aku hafal setiap detail sudut rumahmu. Orang tuamu pun sudah menganggapku seperti anaknya. Sungguh sesuatu yang tak bisa kuanggap sebagai hal biasa.

4. Tak bosan kita berbagi cerita, dari sekedar menjadi pendengar sampai menjadi pihak yang terpaksa menumpahkan air mata.

berbagi cerita

berbagi cerita via http://ideaswu.blogspot.com

Selayaknya manusia yang lain, kita pernah punya masalah masing-masing. Seperti biasa, kita akan berbagi cerita. Dari sekedar menyiapkan telinga, atau harus menumpahkan kekecewaan. Yang pasti, di sini aku semakin mengerti, dalam persahabatan, kita tidak hanya berbagi tawa, tapi juga sakit dan air mata.

5. Kau bercerita dengan bangga, ketika seorang pangeran menyisipkan rona bahagia.

Kau jatuh cinta

Kau jatuh cinta via http://askmenanswers.com

Tanpa terasa kita pun semakin dewasa. Seperti yang dialami orang dewasa lainnya, kita juga akan mengalami jatuh cinta. Tak jarang kita berbagi pendapat tentang seseorang yang mendekati kriteria. Tak jarang pula kita tak setuju dengan seseorang yang engkau jumpa. Namun ketika waktu semakin berputar, akan ada seseorang yang mendadak membuat jantungmu berdebar. Ya, dia pasti datang tanpa keraguan.

6. Kau pun mengenalkannya kepada kami, dan meyakinkan bahwa dialah orang terbaik yang akan jadi teman hidupmu nanti.

kau begitu bahagia dengannya

kau begitu bahagia dengannya via http://favim.com

Suatu hari kau datang pada kami dengan malu-malu, menggandeng lengan berkemeja itu. Senyumnya manis, semanis foto yang kau tunjukkan pada kami dulu. Dia memang baik, dan kuharap, dia akan selalu menjadi yang terbaik buatmu.

7. Senyum mengembang, secerah bunga-bunga yang menghiasi pelaminanmu, mengamini doa-doaku agar kebahagiaan selalu menyelimutimu.

Dan akhirnya, statusmu berganti, teman. Menjadi istri dari pria pilihanmu. Semoga sosoknya menjadi orang yang tepat, menghabiskan sisa umurmu serta ayah yang baik untuk anak-anakmu. Tangis haru mengalir di pipi ibumu, menyiratkan bahagianya beliau dan menitipkan berlembar-lembar kepercayaan kepada suamimu.

8. Perlahan hadirmu usai, bagai perahu yang meninggalkan bibir pantai.

perahu meninggalkan pantai

perahu meninggalkan pantai via http://www.fanpop.com

Selepas kau mengakhiri masa lajangmu, suasana berangsur dingin. Aku dan teman-teman yang lain sibuk bekerja, kau sibuk mengurus keluarga. Perlahan tapi pasti, intensitas kita bercengkrama semakin mereda walau hanya untuk sekedar bertukar sapa.

9. Pada akhirnya, kita memiliki kesibukan masing-masing, tapi jangan pernah menganggap jiwa-jiwa ini seperti orang asing.

kita memiliki kesibukan masing-masing

kita memiliki kesibukan masing-masing via http://www.playbuzz.com

Grup-grup chat yang kita buat, dulunya tak pernah sepi. Selalu ada lelucon yang kita tertawai. Kita seolah tak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Namun semakin waktu berjalan, aku harus semakin mengerti jadwal kalian. Yang dulunya ingin bercurah rasa tinggal mengetik kata, sekarang untuk menyapa saja harus bertanya, “Sibukkah kalian?”. Jangankan menelepon, terkadang bertanya kabar saja, ada canggung yang terasa.

Memang tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Sudah waktunya, waktuku waktuku, dan waktumu-waktumu. Semua orang pasti melewati fase seperti ini. Hanya bisa berkata, kalian pasti bisa. Bukankah kita akan tetap seperti keluarga?

10. Bagaimanapun, terimakasih telah menjadi secuil kisah yang memenuhi halaman awal hidupku, selanjutnya biarkan aku menjadi sebuah bunga, yang menunggu perahuku merapat ke dermaga.

Aku akan menjadi seseorang yang tangguh

Aku akan menjadi seseorang yang tangguh via http://pixhome.blogspot.com

Aku menjadi seseorang yang lebih tangguh sekarang. Walau tidak ada kalian, aku tidak akan menjadi tanaman yang mudah mati atau mempecundangi diri sendiri. Kalian selama ini mampu menjadi air untuk menyiramiku. Sampai pada akhirnya, takdir akan membawaku. Seseorang akan merapat, menjemputku di dermaga. Pasti, suatu saat nanti.