Cinta dan benci ini terlalu kuat mengekang perasaanku sendiri. Aku seperti kehilangan indra perasaku untuk selamanya. Saat aku benar-benar sangat mencintaimu, kamu malah memberikan aku kebencian terdalam dengan sikapmu yang tidak aku mengerti. Dan kali ini dalam kebencianku, sejujurnya aku masih sangat mencintaimu. Aku ingin kamu mengerti perjuanganku mempertahankan hubungan ini.

Jangan lari dari masalah dan tetaplah ada sebagai pria yang aku cintai bukan yang aku benci. Aku tahu, perasaan itu sangat sulit dirubah. Aku cinta namun aku juga benci.Cinta dan benci ini terlalu kuat mengekang perasaanku sendiri. Aku seperti kehilangan indra perasaku untuk selamanya. Saat aku benar-benar sangat mencintaimu, kamu malah memberikan aku kebencian terdalam dengan sikapmu yang tidak aku mengerti.

Dan kali ini dalam kebencianku, sejujurnya aku masih sangat mencintaimu. Aku ingin kamu mengerti perjuanganku mempertahankan hubungan ini. Jangan lari dari masalah dan tetaplah ada sebagai pria yang aku cintai bukan yang aku benci. Aku tahu, perasaan itu sangat sulit dirubah. Aku cinta namun aku juga benci.

 

1. Terimakasih untuk luka yang kamu berikan!

“Setiap akhir memang tidak selamanya bahagia. Tetapi apa salah jika aku berharap akhir yang bahagia dalam hubungan ini?”

Ketika kamu memberikan aku cinta, dan kita saling bertukar rasa. Aku sangat yakin kamulah pria terbaik dalam hidupku. Dan aku tidak akan menemukan pria sepertimu di luar sana. Kamu lebih dari sempurna di mataku. Kamu selalu menunjukan perhatian yang tidak pernah aku dapatkan dari pria lain. Kamu juga menjadikan aku sangat istimewa di hadapan banyak orang.

Tetapi, saat semuanya mengalir apa adanya. Tanpa sebuah tuntutan untuk melangkah maju. Kamu menunjukan sifat aslimu yang sangat tidak aku suka.

Kamu mulai berani main tangan, memburu nafsu dan sesekali melukaiku dengan menunjukan betapa rendahnya harga diriku. Kamu berubah dan aku benci itu. Hingga kemudian kamu benar-benar menyakiti aku dengan perselingkuhan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Kini, saat semuanya berakhir dengan tangis. Aku masih mencintaimu meski dalam sisi hati yang lain aku sangat membencimu.

“Untukmu yang mengajari aku cinta dan benci. Terimakasih untuk luka yang kamu berikan.”

2. Kebodohanku menganggap dirimu baik untukku!

“Bayangkan jika semua sakit ini berbalik arah kepadamu. Rasakan sakitnya, dan nikmati luka yang kamu ciptakan.”

Memang tidak ada yang bisa diharapkan dari sebuah hubungan yang sudah berakhir tanpa kejelasan. Ketika semua yang dirasa menjadi sangat pahit. Dan semua yang terjadi seakan sebuah bencana yang tidak akan berakhir.

Ya, semua itu ada ketika aku menganggap kamu adalah malaikat pelindungku. Kadang iblis tidak selalu berbentuk menyeramkan. Sebagian dari mereka menggunakan ketampanan dan hati baik semu untuk menangkap mangsanya. Setelah selesai dinikmati, si korban akan dia tinggal begitu saja.

Aku adalah korban dari iblis sepertimu. Aku memang tidak pernah mengira semua kebaikanmu itu hanyalah modus murahan. Dan setelah aku sadar, aku hanya bisa berdiam diri, menangis dan tidak tahu harus berbuat apa. Dan, semua itu adalah kesalahan fatalku telah menjadikan kamu pria yang istimewa untukku.

“Kini, aku hanya merasa hina dan sangat bodoh karena telah menganggap kamu baik untukku. Padahal, kamu hanyalah iblis bermuka bayi.”

3. Aku sempat tidak percaya tentangmu!

“Perubahan itu tidak hanya melukaiku namun menghancurkan semua harapan keluargaku.”

Saat pertemuan itu menumbuhkan cinta. Aku berusaha meyakinkan keluargaku tentangmu. Membuat kamu pria yang istimewa dan selalu aku ceritakan kepada Bundaku. Entah kenapa, perubahan itu membuat semuanya hilang. Seperti di tampar dan di hempaskan dari gedung tertinggi. Aku sakit melihat perubahanmu yang tidak bisa lagi ditolerir.

Kamu sudah kelewat batas, dan aku sangat malu kepada diiriku sendiri. Aku sangat menyesal telah membanggakanmu. Dan aku juga sempat tidak percaya bahwa kamu akan berubah seperti ini, sungguh. Sampai saat ini, aku tidak tahu mengapa kamu berubah. Meskipun hubungan ini telah berlalu. Aku selalu mencintaimu, dan dari kejauhan aku tetaplah mendoakanmu.

“Aku memang tidak percaya semua itu terjadi, dan dalam hubungan ini aku selalu mencintaimu.”

4. Cukup sakit aku merasakannya!

“Luka itu tidak seberapa dalam. Bahkan tidak terlihat, tetapi sakitnya sangat aku rasakan dan tidak mudah tersembuhkan.”

Perubahanmu yang tidak bisa lagi aku terima. Membuat aku harus melawan arus hatiku. Aku harus meninggalkan kisah ini, mengakhirinya untuk sebuah kebaikan. Aku ingin hidup yang lebih berarti lagi, dan dengan melepaskan kisah ini aku bisa menjadi diriku yang lebih baik.

Aku bebas dari jeratan iblis yang membelenggu masa depanku. Aku bisa menyelesaikan apa yang pernah tertunda karena hubungan yang membawa cinta dan benci menjadi satu. Meski sangat sakit, tetapi aku lupakan itu.

Karena setelah sakit ini, aku meyakini akan ada bahagia yang datang dalam kehidupanku. Dan untukmu, yang mengajarkan aku cinta dan benci. Kamu harus tahu sakitnya menjadi aku.

“Karena rasa sakit itu bukan hanya terdiri dari luka, tetapi perjuangan yang tidak dihargai.”

5. Pergi saja kau dan jangan pernah kembali!

“Akhir yang tidak aku inginkan. Tetapi harus aku relakan. Kepergianmu, membuat semuanya lebih baik.”

Dalam hati aku tidak menginginkan kepergian itu. Aku masih cinta, tetapi aku harus bisa membuat kamu berfikir logis. Aku masih sangat menyayangimu, tetapi kamu harus pergi untuk memperbaiki dirimu. Setelah merasa lebih baik, jangan pernah kembali untuk mencoba menyembuhkan luka ini, karena kamu tidak berhak lagi atas apa yang ada di kehidupanku.

“Lebih baik kamu membuang rasa cinta itu. Karena saat ini aku belajar membencimu, meski masih ada sedikit rasa cinta. Pergilah dan jangan pernah kembali.”