1. Isma Dwi Kurniawan. Tak hanya rupawan, masa mudanya ia habiskan sebagai seorang relawan. IPK 4.00 dan gelar Master of Science UGM telah berhasil didapatkan. Kini ia siap jadi suami idaman.

Isma Dwi Kurniawan via http://www.instagram.com

Bagi Isma, masa muda adalah masa kritis yang tidak boleh disia-siakan. Ambil banyak peran, mulai dari organisasi hingga pengabdian masyarakat sudah banyak ia lakukan. Semua itu telah membentuknya menjadi pemuda yang tangguh dan peka terhadap lingkungan.

Setelah berhasil memperoleh gelar Sarjana Pendidikan dari Universitas Negeri Yogyakarta dengan predikat cumlaude, Isma melanjutkan pendidikannya kembali di Universitas Gadjah Mada jurusan Biologi melalui beasiswa LPDP.

Rasa syukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan ia wujudkan dalam bentuk pengabdian. Bantuan bagi fakir miskin mulai ia galangkan, beasiswa bagi anak yatim ia dirikan, pendidikan dan keterampilan bagi masyarakat ia ajarkan. Bagi anak muda seperti Isma, pengabdian adalah sebuah bentuk rasa syukur yang tak berkesudahan.

Scholarship for Scholarship adalah sebuah lembaga yang berhasil Isma dirikan. Dengan menggandeng teman-temannya yang juga sesama penerima beasiswa ia berhasil memberikan bantuan bagi anak-anak yatim dan mereka yang membutuhkan. Scholarship for Scholarship seakan menjadi perpanjangan tangan Tuhan, karenanya mereka yang kurang mampu tetap dapat mengenyam pendidikan.

Advertisement

Di tengah kesibukannya sebagai founder Scholarship for Scholarship, ketua Menyapa Indonesia PK 43 (*Sebuah bentuk pengabdian masyarakat yang diadakan oleh LPDP), dan juga tim inti dalam program 1000 Guru Jogja, Isma tetap tidak melupakan tugas utamanya sebagai seorang mahasiswa. Kegemarannya dalam berpetualang dan kecintaannya terhadap fauna menghasilkan banyak riset yang berhasil didanai oleh beberapa lembaga.

2017, Isma berhasil memperoleh gelar Master of Science dari UGM dengan IPK sempurna, 4.00. Bisa jadi, para fakir miskin dan anak yatim yang banyak Isma tolong telah menjelma doa, lewat mereka Allah mudahkan segala urusannya. Karena memang Sang Maha tak pernah bermain-main dengan setiap janji-Nya,

“Barangsiapa yang melapangkan kesusahan orang lain, maka Allah mudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolongnya selama hamba tersebut menolong saudaranya” (HR Muslim no. 2699).

Ketika anak muda lain sibuk dengan gemerlapnya dunia. Di Jogja, ada anak muda yang memilih menepi untuk lebih membuka mata dan belajar peka. Isma adalah salah satu contoh yang membuat Indonesia percaya, bahwa masih ada anak muda yang mau berbuat nyata.

2. Dewi Nur Aisyah. Melanjutkan S3 bersama suami di Inggris, kini ia mampu menginspirasi banyak muslimah di dunia.

Dewi Nur Aisyah via http://www.instagram.com

Ialah Dewi Nur Aisyah, seorang perempuan muda yang telah menginspirasi banyak muslimah. Saat ini, Dewi sedang berusaha untuk menyelesaikan studi S3-nya di University College London ditemani suami dan anaknya melalui beasiswa LPDP.

Diusianya yang ke 25, ia sudah memutuskan untuk melanjutkan PhD sembari mengurus suami dan anaknya. Jika ditanya kenapa, jawabannya sederhana saja, hanya ridho Allah yang menjadi tujuan utamanya. Jika menuntut ilmu dapat menaikkan derajat manusia dan menjadi salah satu jalan Surga, jika menjadi seorang istri yang mampu mengurus suami dan anak juga bisa mendatangkan banyak pahala, lalu bagaimana jika dapat melakukan ketiga-tiganya?

Sudah pasti menjadi a student mom membutuhkan kesabaran dan keikhlasan yang ekstra. Tapi, bukankah Tuhan memang menyiapkan Surga hanya bagi mereka yang gigih usahanya?

Di tengah kesibukkannya sebagai seorang mahasiswa, istri, sekaligus ibu rumah tangga, Dewi telah banyak menghasilkan karya. Mulai dari riset di bidang Epidemiologi hingga buku karyanya sudah mengispirasi banyak anak muda.

Menjadi PhD Parents, saat suami dan istri sama-sama menjalani PhD berdua memang terlihat melelahkan, terlebih saat anak sudah mulai memasuki usia belia. Mulai dari estafet menjaga anak, urusan masak-memasak, quality time yang harus tetap dijaga dengan anak, hingga tugas kuliah yang kadang membuat mata terbelalak harus bisa dihandle sedemikian rupa.

“Jika Allah sudah melimpahkan barokah-Nya, yang berat akan terasa ringan, pekerjaan banyak akan dengan cepat tertunaikan. Bahkan di tengah segala kesibukan, Allah berikan hadiah kecil karya penelitian kami menjadi yang terbaik di bidangnya, dengan beberapa award yang menyertai di sela Konferensi Asia Pasifik dan Eropa”, tutur Dewi.

3. Luthfilaudri Nadhira. Menggempita lewat karya. Anak muda ini berhasil meraih penghargaan “Best Thesis” dari Cranfield University.

Luthfilaudri Nadhira via http://www.instagram.com

Setelah berhasil menyelesaikan studi S1-nya di University of Manchester, anak muda yang akrab disapa Audri ini melanjutkan pendidikannya kembali di Cranfield University dengan beasiswa LPDP.

Bagi Audri, kuliah di luar negeri bukan sekadar mengejar prestige, sayang jika kuliah 1 atau 2 tahun tidak bernilai pahala. Semua letih, penat, rasa rindu karena jauh dari keluarga, hingga setiap air mata akan sia-sia jika tujuannya hanya untuk mengejar gengsi urusan dunia, dan tidak terhitung amalan di sisi-Nya.

Keputusannya untuk kuliah di luar negeri bukan tanpa alasan, dapat memperoleh ilmu dari sumber terbaiknya adalah tujuan. Di Indonesia memang sudah ada banyak perguruan tinggi yang bagus untuk beberapa bidang, namun untuk bidang yang Audri ambil yaitu Gas Turbine Technology, Cranfield University-lah yang paling menunjang.

Memiliki cita-cita menjadi seorang Engineer membuat Audri mau belajar banyak hal. Pengalamannya dalam berbagai kegiatan telah membentuknya menjadi anak muda yang tangguh dan pejal.

"Saya mengambil riset tentang alternatif sistem pembakaran gas turbine dengan menggunakan mesin Nutating Disc Engine (NDE). Riset ini unsur novelty-nya sangat tinggi karena masih minim literatur. Apabila berhasil, riset saya akan mendapatkan perhatian penuh, dan apabila gagal akan sangat berdampak buruk bagi nilai saya", ungkap Audri.

Berbekal doa dari orang tua dan para sahabat, akhirnya Audri dapat menyelesaikan studinya dengan tepat. Tak hanya itu, hasil risetnya bahkan mendapatkan penghargaan “The Course Director's Prize for Best Thesis on Thermal Power MSc Course”.

Nilai tertinggi dan penghargaan paling bergengsi sudah berhasil Audri dapatkan. Konsistensi performanya sebagai mahasiswa sudah tidak lagi diragukan. Meski sebenarnya bukan embel-embel penghargaan yang menjadi tujuan, karena mimpi utamanya adalah ilmu yang ia peroleh dapat membawa kemaslahatan bagi bangsa dan kehidupan, serta hasil risetnya dapat disebarluaskan untuk generasi mendatang.

"Di saat riset yang saya kerjakan bisa berguna bagi banyak orang, di saat itulah kepuasan terbesar bisa saya rasakan. Jauh melebihi penghargaan best thesis yang sudah saya dapatkan", ungkapnya.

4. Raeni. Anak muda yang pernah bekerja sebagai pembersih makam dan guru ngaji, kini sudah menjadi lulusan Birmingham University.

Pendidikan bukan hanya bagi mereka yang kaya, Raeni anak seorang tukang becak kini telah membuktikannya. Sejak kecil Raeni memang sudah tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tekun. Sejak SD hingga SMK, ia selalu menjadi salah satu lulusan dengan nilai terbaik di sekolahnya. Hingga akhirnya beasiswa Bidikmisi pun bisa ia dapatkan, ia diterima sebagai mahasiswa Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Semarang dengan beasiswa.

Masa-masa kuliah tidak ia sia-siakan, berbagai ajang perlombaan banyak Raeni menangkan. IPK sempurna 4.00 pun pernah ia dapatkan di semester awal perkuliahan. Hingga pada suatu pagi yang cerah, tepatnya tanggal 10 Juni 2014 Raeni berhasil diwisuda sebagai seorang Sarjana Pendidikan. Raeni datang menuju auditorium Unnes diantarkan oleh ayahnya dengan menggunakan becak. Pada hari itu, ia ingin menunjukkan kepada siapapun bahwa ia sangat bangga memiliki seorang ayah yang begitu menyayanginya. Ia bangga, meskipun ayahnya hanyalah seorang pengayuh becak, namun telah mampu menyekolahkannya hingga mendapatkan gelar sarjana.

Rasa bahagianya semakin memuncak ketika acara wisuda tersebut Raeni dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Unnes dengan IPK tertinggi, yaitu 3,96. Semua jerih payah ayahnya selama ini untuk mengusahakan Raeni sekolah terbayar sudah. Tak ada yang sia-sia. Allah telah menggantikan semua keringat itu dengan keberhasilan yang anaknya dapatkan.

Kesederhanaan dan prestasi yang Raeni dapatkan banyak menarik perhatian publik, ia pun berkesempatan untuk bertemu dengan Presiden RI yang ketika itu dipimpin oleh Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Tawaran beasiswa S2 banyak berdatangan, namun Raeni memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Birmingham University, Inggris, melalui Beasiswa Presiden Republik Indonesia (BPRI) yang dikelola oleh LPDP.

Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan S2-nya di Inggris, kini Raeni bekerja sebagai dosen di Universitas Negeri Semarang, dan juga mengisi berbagai seminar kependidikan sebagai seorang motivator.

Setiap hamba pasti memiliki amalan yang membuat Allah bisa terus-terusan menyayanginya, begitupun dengan Raeni, satu hal yang selalu ia katakan, “Sejak SMP, saya selalu berusaha untuk tidak meninggalkan salat dhuha dan puasa Senin Kamis”.

5. Hudha Abdul Rohman. Anak muda yang mengispirasi lewat karya dan tulisan.

Hudha Abdul Rohman via http://www.instagram.com

Keberhasilan hanya ada bagi mereka yang mau berlelah-lelahan, gigih berjuang, dan giat berdoa di malam-malam panjang. Hudha Abdul Rohman, salah satu pemuda asal Solo yang selalu mendapatkan full beasiswa selama duduk di bangku perkuliahan. Mulai dari Bidikmisi hingga LPDP sudah menjadi jalan Tuhan untuk ia dapat meneruskan pendidikan.

Masa perkuliahan adalah masa yang tepat untuk diri bisa ditempa. Mengikuti banyak kegiatan hingga berbagai ajang perlombaan sudah dilakukannya sejak usia muda.

Kecintaan Hudha terhadap dunia bahasa dan sastra telah berhasil membawanya meraih banyak penghargaan. Mulai dari Duta Wisata Solo, Duta Bahasa Jawa Tengah, Mahasiswa Berprestasi, hingga Wisudawan Terbaik di Universitas Airlangga sudah ia dapatkan.

Kini, di sela-sela tugasnya dalam menyelesaikan S2 Ilmu Sastra Universitas Padjajaran, Hudha berusaha untuk tetap berkarya. Lewat buku terbarunya, ia menuliskan pengalaman dan cerita yang telah menginspirasi banyak anak muda.

Pada akhirnya, ini adalah tentang pilihan-pilihan dan masa depan. Apapun yang dilakukan selama di dalamnya kita selalu melibatkan Tuhan, pasti tidak akan ada kesia-sian, dan jalan-jalan takdir-Nya pun pasti akan dengan luasnya terbentang.